ISTRI kecil Tuan Yudistira

ISTRI kecil Tuan Yudistira
Entah siapa yang salah?


__ADS_3

"Lepaskan tangan kotormu itu darinya!" bentak seseorang sembari menarik tangan Kruss sekuat tenanga, hingga tangan Arumi pun terlepas dari cengkaraman Kruss. Kruss yang marah mulai menoleh ke arah tarikan seseorang yang entah siapa itu.


"Kau! Lepaskan!" bentak Kruss berusaha menarik tangannya seraya melotot ke arah Pria yang menegurnya itu. Ternyata Itu adalah Alex "Rupanya... Ini yang menjadi alsanmu memaksa kami menginap?" tanya Alex menarik Kruss kuat kuat dari sisi Arumi. Arumi terdiam dengan tatapan getirnya, mulutnya gemetaran hendak menangis. Nanarnya mulai mendung tak bercahaya seakan hendak pecah dalam sebuah kepedihan.


"Nona... Anda bisa pergi sekarang" Jelas Alex. Arumi mengangguk dan lekas melangkah secepat mungkin ke arah yang ia inginkan yakni ruang kerja tuan muda.


BLAM! Ia pun menutup pintu itu keras dan menghilang seketika itu.


Tinggalah Alex dan Kruss yang saling bertatapan garang satu sama lain... "Kenapa kau selalu ikut campur dengan segala urusanku!" Bentak Krus berusaha melepas cengkaraman tangan Alex yang kuat. Bibirnya menyingkap penuh amarah.


"Kruss, pikirkan dengan jernih! kelakuan mu ini sudah keterlaluan!" Lugas Alex dengan suara yang sedikit parau.


"Cih. Keterlaluan katamu... Hahaha aku merasa ingin tertawa kala mendengar ungakapan bodoh mu itu" Tawa Kruss ringan tanpa beban. Alex makin geram saja pada kelakuan sahabatnya itu yang sudah keterlaluan.


"Kruss! Sadarlah... Pikirkan baik-baik... Apa maksudmu... Dengan menggoda nona Rumah ini?" Tanya Alex menekan Kruss dengan pertanyaan nya yang cukup menusuk Kruss.


"Itu bukan urusanmu!" Bentak Kruss tak terima.


"Jauhi... Atau kau akan menerima konsekuesinya!" imbuh Alex mengingatkan dengan jelas.


"Heh. Apa urusanmu? Jangan ganggu aku! Urus saja urusanmu sendiri... Wanita itu, kenapa jika aku menggoda wanita itu?" tanya Kruss masih menentang Alex yang begitu murka pada Kruss, kala mendengar bantahan Kruss yang tak mau di nasihati oleh Alex. Sedangkan Alex tahu bahwa jalan yang Kruss pilih nyatanya amat sangat salah.


Alex marah dan hendak memukul Kruss dengan tangan kirinya "Kau sungguh lancang!" bentak Alex seraya melempar kelima jemarinya ke pipi Kruss. Namun, Joe datang dan menghentkan segalanya "Berhenti..." pinta Joe membuat hening sesaat ketika pertikaian dua sahabat mulai berapi-api itu.


"J-joe... Apakah kau mendengar semuanya?" tanya Alex panik, pupilnya membesar seketika itu karna kaget. Alex sangat takut jika Joe akan membeberkan kesalahaan Kruss dan membuat Kruss dalam masalah yang sangat besar.


"Tuan Kruss. Tolong jaga sikap anda ketika ada di rumah orang lain..." Jelas Joe begitu tenang.

__ADS_1


"Cih. Jaga sikap? Memang kenapa dengan ku... Aku tak merasa jika diriku salah!" Ia masih keras kepala dan bersikeras.


"Anda sungguh keterlaluan!" Joe sangat marah. Ia pun mulai membuka ponselnya dan memutar sebuah Vidio di ponsel tersebut.


"Lihatlah ini..." Joe memperlihatkan sebuah Vidio dan memampangkannya di wajah Kruss. Kruss pun terbelalak dan melebarkan penglihatannya.


"J-joe... Apa maksud vidio itu?" tanya Alex panik dan tak habis pikir, bagai mana Joe bisa merekam pertikaian Alex dan Kruss tanpa sepengetahuan mereka.


Joe mulai bicara panjang lebar... "Tuan muda, sengaja mengajak anda semua ke kediamannya, semata-mata untuk melihat kelakuan seseorang yang telah menghianatinya diam diam. Dan orang itu adalah pria berambut pirang tersebut" Ungkap Joe mulai mematikan ponselnya dan menyimpannya di kantong jasnya.


"J-Joe... Apa maksudmu...?" Kruss gemetaran, tangannya mulai lemas, jika sedari tadi ia berontak pada Alex dengan sangat keras kepala. Tapi, kini ia hanya bisa mencari sandaran untuk menopang tubuhnya yang mulai oleng kehabisan tenaga.


"Joe. Ku mohon, jangan sampaikan vidio itu pada Tuan Yu. Jika sia sampai tahu hal ini... Betapa murkanya dia nanti pada kami" pinta Alex memohon.


"Entahlah... Yang jelas, apapun ke inginan tuan muda... Semuanya bagi kami adalah sebuah titah yang harus kami patuhi. Jika aku menyembunyikan hal ini darinya, maka... Sama saja aku telah menghianatinya... Jadi, aku tak akan meminta maaf..." Jelas Joe seraya melangkah pergi dari hadapan dua pria itu dan menghilang.


"Kruss... Kau bersiap-siaplah... Hukuman apapun yang tuan Yu berikan padamu. Kau harus menerimanya... Mengerti!" Jelas Alex seraya pergi mengikuti langkah Joe. Alex sudah cukup menasihati Kruss dengan segenap hatinya. Tapi, karana rasa penasaran Kruss yang begitu tinggi. Ia jadi lupa, bahwa ada sebuah kesetiaan yang harus ia patuhi begitupun pelaturannya.


"Hissh... Sial! Apa yang harus aku lakukan!!" Ia pun menutup wajahnya dengan kelima tangannya. Seraya tetesan basah terus mengelir melewati sela sela jari kekar pria tersebut.


***


Dalam ruangan kerja yang cukup remang sedikit cahaya dan berbau debu. Arumi lekas mencari saklar lampu lalu menekannya setelah menemukan saklar tersebut.


Klek... Lampu mulai menyala, seperti yang di bayangkan Arumi. Ruangan itu nampak sangat berantakan, debu yang tebal dan tak terawat "Uhuk! Uhuk!" Arumi sampai terbatuk karna menghirup debu di ruangan itu.


"Astagfirullah... Tempat apa ini... Sangat kotor dan menjijikan. Kenapa dia tak menyuruh para pelayan itu membersihkan ruangan ini" Bisiknya. Perlahan Arumi menelisik dinding bertentengkan beberapa photret sebuah kluarga sederhana yang begitu harmonis. Pas photo ukuran tinggi 1meter dan lebar 80cm itu begitu menarik perhatian Arumi.

__ADS_1


"Inikah... Kluarga suamiku?" tanyanya. Ia melihat seorang ayah yang menggendong bayi usia 1tahunan, Wajah pria itu begitu mirip dengan wajah Yudistira, namun nampaknya ayah Yudistira selalu memelihara kumis tipisnya. Lalu anak laki-laki berusia sekitaran sepuluh tahunan, mungkin itu Yudistira kecil. Dan ibu yang saat itu tengah menggendong anak bayi yang sama dengan bayi yang di gendong ayah Yudistira. Nampaknya dulu Yudistira punya dua adik yang kembar. Bathin Arumi menggumam.


Saat ia menyentuh photo itu, seseorang melangkah ke depan Arumi dan menyerunya "Siapa yang menyuruhmu masuk ruangan ku?" tanya Yudistira bernada berat seakan menahan amarahnya. Arumi menoleh dan lekas menatap Yudistira tanpa berpikir negatif.


"Ah tuan. Rupanya anda ada di sini? Sedari tadi saya cari... Rupanya malah anda ada di sini" Ucap Arumi mulai mendekati Yudistira. Tapi tatapan Gemas Yudistira nampaknya tak suka pada kedatangan Arumi ke ruangan nya itu.


"Aku tanya sekali lagi? Siapa yang menyuruhmu datang ke ruanganku ini?" tanya Yudistira membentak. Sontak Arumi terperanjat dan mulai mundur "A-aku... Aku hanya khawatir pada anda" tatapan Arumi mulai memerah. Ia nampaknya sedih atas bentakan Yudistira yang tiba-tiba itu.


"Aku paling tidak suka orang lain mengganggu privasiku!" Ucapnya mulai mengarahkan cengkraman tangannya ke arah batang leher Arumi yang terhalang oleh kain lebar berupa kerudung Syar'i nya.


"Astagfirullah apa yang akan anda lakukan!" Pekik Arumi mundur. Lalu Yudistira yang murka tanpa sebab pun mulai merenggut leher Arumi lalu mencengkramnya kuat kuat "Eekkh.. Sa-sakit tuan" Bisiknya tak tahan mendapatkan perlakuan kasar dari pria itu.


"Apakah kau puas? Apakah kau senang melihat ku yang menderita? Kenapa kau datang hanya untuk mengolok ku!" Bentaknya tak karuan. Ia bicara hal yang tak di mengerti oleh Arumi.


"Tuan Tolong lepaskan! Aku tak paham apa yang anda bicarakan" bisik Arumi tak berdaya.


"Kau sungguh lancang... Kau melihat semua kenangan pedih di ruanganku... Kau senang melihatku menderita karna bayangan kelam mereka semua! Aku gila! Aku tak suka jika orang lain tahu bahwa aku begitu menderita! Aku begitu menderita karna hanya Aku yang berhasil hidup! Sedangkan adik dan ibuku meninggal dunia! Mereka tewas di tangan Ayahku...!" Setelah berteriak tak karuan. Yudistira perlahan menurunkan tangannya dari batang leher Arumi lalu mundur dari hadapan Arumi. Ia menatap dua tangannya yang menadah itu, lalu Yudistira pun depresi, ia menjambak rambutnya kasar hingga membuat Arumi takut pada kelakuannya itu.


"AAAAAHHHH! Tuhan tak adil padaku!!! Kenapa hanya aku yang hidup! Bahkan hidupku sangat hampa.... Hiks. Aaahhh Ahhhhh!!" Teriaknya seraya mengerang. Yudistira sangat menderita, beberapa kali ia melupakan kejadian nahas itu. Namun nyatanya, ia tetap ingat semua adegan itu dan membuatnya makin menderita.


Arumi melangkah pelan dan meraih tubuh Yudistira dan kemudian memeluk pria itu sekuat mungkin "Jangan takut tuan... Aku akan ada di sampingmu. Jika kenangan buruk itu datang menganggumu... Mari kita buat kenangan indah bersama" pinta Arumi masih membujuk Yudistira yang depresi itu.


"Aku tak pantas hidup! Kenapa hanya aku yang harus hidup! Bahkan adikku masih kecil dan ibuku masih sangat muda... Kenapa hanya aku yang hidup!" Tangis Yudistira kian pecah. Arumi mencoba menenangkannya, perlahan, napas Yudistira makin terkendali hingga ia kelelahan dan mulai menyandar di leher jenjang istrinya.


"Kenapa hanya aku yang harus hidup? Hidup dengan menanggung mimpi buruk di setiap lelapku... Karna harus kehilangan orang orang tercintaku di depan mataku sendiri..." Bisiknya masih sesegukan.


Arumi mengelus punggung Yudistira yang kekar itu "Istigfar tuan... Tuhan pasti punya rencana lain, mungkin... Tuhan punya sebuah jawaban atas segala pertanyaan tuan ini. Jangan terlalu menyalahkan diri... Ini bukanlah salah anda tuan. Jadi, tenanglah..." Ucap Arumi. Yudistira yang tadi sedikit gila pun perlahan mulai lelah dan memejamkan matanya di pelukan istrinya.

__ADS_1


Lagi-lagi... Arumi mampu meluluhkan hati Yudistira yang begitu keras bagaikan batu. Dan juga begitu dingin sedingin es...


"Saya akan tetap bersama anda sampai maut memisahkan salah satu di antara kita... Bisik Arumi.


__ADS_2