
***
Aduh... Di mana aku meletakannya?Astagfirullah... Pasti Mas Yudistira marah karna kecerobohanku ini. Bisik Arumi tak berhenti beristigfar seraya terus menyingkap setiap bantal yang ada di kamar tersebut. Berharap ponsel yang di berikan Yudistira sebagai hadiah untuknya bisa ia temukan.
Klek! Pintu di buka dan Yudistira masuk "Sayang apa yang sedang kamu cari?" Tanya Yudistira.
Arumi seketika terdiam dan mulai mencari alasan "Mh... Ini mas. Aku lupa menaruh sesuatu" Jawabnya dengan wajah yang sedikit panik.
"Cari apa? Biar ku bantu" Yudistira mendekati Arumi dan mulai menatapnya.
"Ah... Tak usah. Benda itu tak terlalu penting juga kok..." Gagap Arumi melabaikan tangannya seakan memberi isyarat memang tak perlu bantuan dari suaminya.
"Oh. begitu ya..." Yudistira mulai menjauhi istrinya dan kembali berdiri lalu melangkah ke area bathroom.
Blam...pintu bathroom di tutup dan Arumi pun kembali berkutat mencari ponsel pemberian Yudistira.
"Astagfirullah... Selama ini aku sungguh lupa. Hingga menaruhnya sembarangan. Bagai mana jika hilang... Nanti Mas Yudistira pasti akan kembali membentakku. Ini memang salahku..." Arumi sudah pasrah. Karna mau bagai mana pun ia tak bisa menemukan ponsel tersebut. Arumi sudah mencari keseluruh sudut ruangan dan hasilnya nihil... Ia sama sekali tak berhasil menemukannya.
Klek!
"Sayang. Bantu aku membersihkan tubuhku" Pinta Yudistira membuka pintu kamar mandi dan mulai mengeluarkan kepalanya yang di penuhi bubble sop. Arumi terejut hingga ia menjerit "Astagfirullah... Mas! Ngagetin aja!" Pekiknya. Mau bagai mana lagi, Arumi sedang bingung dan pikirannya kacau lalu malah di kejutkan dengan sepenggal kepala yang putih karna tumpukan sabun.
"Ayolah cepat... Dingin nih..." Ucapnya mulai menutup pintu itu. Seraya beristigfar ia mulai mengelus dadanya yang terasa dag dig dug itu.
__ADS_1
Ia mulai mengikuti suaminya... Arumi masuk dan mulai menutup pintu kamar mandi.
Saat ia masuk ke kamar mandi itu... Arumi mulai terbelalak seraya menutup mulutnya.
Asatagfirullah... Bisiknya seraya membungkam bibirnya. Tampak jelas di sana, Yudistira berdiri dengan tubuh polos tanpa sehelai benang membalut tubuhnya. Ia berdiri membelakangi Arumi seraya *******-***** kepalanya yang di penuhi sabun.
Yudistira menoleh ke arah Arumi lalu menyerunya "Hai sayang. Kenapa berdiri di sana... Ayo cepat bantu aku" Pintanya. Entah kenapa kaki Arumi menjadi berat. Mau bagai mana pun masih ada rasa canggung di hati Arumi meski yang berdiri di depannya itu adalah suaminya. Arumi masih tetap tegang kala harus melakukan tugas istri yang tarasa memaksa itu.
"A-apa yang harus aku lakukan?" Tanya arumi gagap.
"Pijat kan kepalaku..." Pintanya. Yudistira pun mulai masuk ke dalam bathtub dan mulai membenamkan tubuhnya. Arumi mendekat dan mulai meraih kepala Yudistira dan memijatnya perlahan.
Seakan menikmati pijatan itu, Yudistira pun memejamkan matanya "Mas... Jangan tidur di kamar mandi" Pinta Arumi.
"Jangan lama lama di kamar mandi. Nanti bisa masuk angin" Ucap Arumi.
"Tidak apa apa... Aku tak akan merasakan kedinginan di samping istriku. Sebab... Kamu adalah penghangat alami ku..." Jawabnya. Arumi makin canggung saat berduaan di kamar mandi bersama suaminya.
"Anda kan baru sembuh..." Tambah Arumi membujuk.
Yudistira yang terus di ceramahi itu pun lekas merampas tangan Arumi lalu menariknya ke Bathtab.
BYUUUURR...
__ADS_1
"Kyaaaaaa!!!" Arumi terpekik karna Yudistira tiba tiba menariknya hingga tercebur.
Yudistira mulai menatap Arumi yang basah kuyup itu. Arumi pun mulai mengusap wajahnya yang bash itu "Astagfirullah! Mas... Gimana kalau kepala ku terbentur" Marah Arumi sedikit mencecah Yudistira.
Yudistira malah tersenyum "Maaf deh..." Ucapnya. Arumi malah terbelalak kala wajahnya terasa begitu dekat dengan suaminya yang saat itu tersenyum manis di depannya. Ia baru sadar jika saat ini, Ia sedang menindih tubuh Yudistira yang basah dengan dada telanjangnya yang begitu menggoda juga kekar.
"A-aku harus pergi mas" Elak Arumi seraya hendak bangun. Namun Yudistira malah mencengkram tangannya dan menghentikan langkahnya.
"Mulai besok aku tak akan menemanimu lagi..." Ujarnya.
"Ta... Tapi kenapa?" Gagap Arumi. Ia sungguh salah tingkah, sebab Wajah Yudistira terlihat begitu dekat seakan hendak mencuri ciuman lagi dari Arumi.
"Hari ini... Biarkan aku memakanmu ya..." Lenguh Yudistira mulai menyender kan kepalanya di bahu Arumi dan meraba dada Arumi yang masih tertutup rapat itu.
"T-tapi..." Baru saja hendak bicara dan mencari alasan. Yudistira kembali mencuri ciuman dari Arumi. Yudistira mencumbunya di bathtab... Dan dengan lihainya ia mejelajahi setiap lekuk tubuh Arumi yang molek itu. Arumi tak menolak saat suaminya meminta jatah darinya sebab ia pun mulai terbiasa dan selalu menginginkan perlakuan lembut dari suaminya.
Napas Yudistira kian menderu, begitupun des-ahan dan lenguhan Arumi yang kian menggoda Yudistira. Yudistira seakan puas kala Arumi menjerit saat kejantanannnya menghujam gua sempit terawat milik istrinya itu. Permainan pun terhanti setelah milik Yudistira memuntahkan cairan hangatnya di dalam sana.
"Hah Hah Hah... Maafkan aku. Karna meminta jatah di tempat yang tak semestinya" Bisik Yudistira.
"Tak apa mas. Besok kan kamu kerja, jadi mungkin besok kau pasti sibuk..." Balas Arumi.
Akhirnya... Mereka pun mandi bersama usai perang ronde dalam bathtab dingin itu.
__ADS_1