ISTRI kecil Tuan Yudistira

ISTRI kecil Tuan Yudistira
Membuatnya tak tahan


__ADS_3

"Tuan. Apakah anda baik-baik saja?" Tanya Joe mulai khawatir pada ke adaan Yudistira, Joe lihat bahwa Yudistira tampak murung sejak ia keluar dari kamarnya.


"Kenapa kau bertanya demikian Joe?" Yudistira mendelik tajam.


"Apakah ada masalah di perusahaan hingga membuat tuan tak tenang...?" Joe mungulang pertanyaannya.


Tapi Yudistira masih terdiam di meja makan dan menatap kosong lurus ke depan "Entahlah..." Ucapnya singkat. Joe mulai diam dan membuang wajahnya, ia mulai mengabaikan Yudistira dan melangkah menjauhinya.


"Joe..." tak berselang lama Yudistira menyerunya dan Joe mulai mengehentikan langkahnya, lalu ia pun mendekati Yudistira yang termenung sendirian itu.


"Ya tuan. Apakah ada yang bisa saya bantu?" Tanya joe sedikit gugup.


"Joe. Kamu tahu kan? Bahwa... Sore ini Anggara si tua bangka itu telah tiada?" tanya Yudistira mulai menatap Joe intrents.


Joe pun mulai diam, ia mulai menunduk lalu mengangguk diam... "Heh. Kenapa, kenapa kamu tak mengabariku?" Tanya Yudistira sedikit kecewa.


"... Saya agak khawatir pada perasaan nona Arumi. Jika saya langsung berkata hal yang sebenarnya, nona Arumi pasti akan sangat sedih dan ia akan meminta pulang ke kediaman Anggara..." Jelas Joe. Yudistira tak tampak baik-baik saja... Biasanya dia akan sangat senang dan kegirangan.


"Sial. Seharusnya aku bahagia atas kabar duka ini. Sebab sedari dulu... Hal ini lah yang paling aku tunggu..." ia mulai menundukan wajahnya dan memegangi jidaknya dan memijatnya pelan.


"Lantas apa yang membuat anda terlihat sedih...?" Joe sekilas menyimak raut wajah Yudistira yang tampak agak pilu.


"... Entahlah, Aku hanya tak suka saja... jika wanita itu pergi ke kediaman Anggara Wijaya... Aku tak ingin dia bertemu dengan Alan ataupun kluarga Anggara yang lainnya..." jelas Yudistira mengutarakan isi hatinya.


Nampaknya tuan muda tengah demam cinta untuk saat ini. Tapi bodohnya, dia sama sekali tak memahami atau menyadari perasaannya itu. Bathin Joe menggumam sedikit senang.


"Tuan. Jika anda tak suka nona Arumi pergi sendiri, mari kita pergi bersama untuk melayad" Ujar Joe meminta kesiapan Yudistira.


Namun pria itu malah meludahi ujaran joe "Ciuh. Nazis... Mana mungkin aku pergi kesana, matipun tak mau..." Bentaknya lugas. Ia pun mulai bangkit dari duduknya dan lekas melangkah menjauhi Joe. Joe masih terdiam seraya menatap punggung kekar pria dingin itu. Sesaat bibir Joe menyunging karna ada beberapa kemajuan yang cukup segnifikat atas suasana hati tuan muda. Untuk saat ini, pria itu tak terlalu garang seperti sebelumnya. Nyatanya, ke adaan Arumi yang tiba-tiba mengusik hidupnya itu... Mulai bisa membuka hati Yudistira yang kelam dan berlubang dalam tersebut.


Joe mulai bisa melihat, bahwa tuannya itu kini menjadi lebih baik dan sedikit dewasa tak terlalu kekanak-kanakan...

__ADS_1


"Tuan... Semoga, engkau lekas mendapatkan sebuah kebahagiaan... Ku harap, hari itu akan segera tiba dalam hidupmu dan membuatmu melupakan luka masa lalu yang membawamu ke dalam lubang balas dendam yang tiada ujungnya. Semoga... Kabahagiaan itu senantiasa melikupi hidupmu tuan mudaku" Bathin Joe menggumam...


Joe adalah bawahan yang paling Yudistira percayai sepuluh tahun mengabdi, Joe sudah menganggap Yudistira sebagai adiknya sendiri dan umur mereka yang hanya berpaut 5 tahun itu membuatnya sangat menghargai sebuah ikatan yang tarasa lebih seperti tali persaudaraan.


***


"Sudah cukup menangisnya? Dasar cengeng?" Umpat Yudistira yang baru masuk kamarnya itu.


"Anda sudah kembali?" tanya Arumi menatap Yudistira yang baru masuk kamar tersebut.


"Nanya apa, di jawab apa..." Gumam Yudistira mengabaikan Arumi. Ia melangkah ke ranjangnya lalu menarik selimut dan tidur membelakangi Arumi yang saat itu masih terduduk di karpet kamar itu.


"T-tuan..." Arumi bangkit dan merapihkan alat-alat ibadahnya. Ia menghampiri Yudistira yang kala itu masih merebahkan tubuhnya dan mengulung tubuhnya dengan selimut putih miliknya.


"Tuan. Apakah anda sudah tidur?" tanya Arumi sedikit grogi... Ia mengintif wajah Yudistira yang tertutupi rambutnya.


"Tuan... Apakah anda benar-benar sudah tidur? Ataukah sengaja menghindari saya?" umpat Arumi dengan beberapa pertanyaannya. Ia masih belum dapati Yudistira yang bergeming... Dan saat tubuh Arumi mengintif 180° ke arah wajah Yudistira. Ia malah kembali terpekik dan menindih Yudistira. Nampaknya lututnya tak mempu membantunya menyeimbangkan tubuhnya hinga lagi-lagi ia harus jatuh di tubuh Yudistira.


"Ughh!" Erang Yudistira, karna perutnya terhimpit tubuh Arumi... Yudistira seakan mual seketika itu.


"T-tuan apa! Ma- ma-mafakan aku... Aku sungguh tak sengaja" Arumi lekas bangun dan duduk di samping ranjang dengan paniknya.


Yudistira masih bergeliat-geliat memegangi perutnya yang tadi terhimpit itu "Dasar wanita sial! Apa sih maumu... Auuu! Astaga, ini sakit sekali..." Erang Yudistira masih memegangi perutnya yang terasa mual.


"Apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus memanggil dokter?" tanya Arumi gelagapan.


"Sudah-sudah... Jangan berisik. Beri aku minum. Sial, tubuhmu kecil tapi saat jatuh menimpa ku, kau seperti puluhan ton batu" Gerutunya tak henti.


"Maafkan aku... Aku sungguh menyesal" Arumi berulang kali meminta ampun pada pria itu.


"Ku bilang jangan berisik..." Tambah Yudistira memaki.

__ADS_1


"B-baik... Akan aku ambilkan" Arumi mulai melangkah ke arah gelas di meja lampu samping ranjang pria itu. Dan lekas meraihnya... Namun, Yudistira tampak terobsesi pada punggung Arumi yang tertutupi selebar kerudung panjangnya hingga ia menatap tiada henti.


GLUK! Ia menelan salivanya sendiri dengan sangat susah payah.


"Saya akan ambilkan air untuk anda" Arumi meraih gelas dan hendak berbalik ke arah Yudistira, namun... Yudistira malah bergerak dan membuat Arumi sangat kaget. Ia menempel kan wajahnya di balik punggung Arumi dan memeluk perutnya, ia melingkarkan tangan kekar itu di area perut Arumi.


"A-aakhh..." Pekik Arumi kaget.


"Diamlah..." Ucap Yudistira.


"Ta-tapi, tapi saya tidak bisa bergerak..." Komen Arumi sangat bingung. Ia tak bisa bergerak dan suasana itu sangatlah canggung untuknya.


"Posisi ini sangat nyaman untukku" Gerutunya.


Arumi tak bisa berbalik atau melangkah maju, ia hanya bisa terpaku dan mematung. Apa lagi, Ia tak bisa berkomentar apapun soal posisi Yudistira yang menempel bah cicak itu.


"T-tuan... Apakah anda tak jadi minum?" Tanya Arumi.


"Ngggh..." jawaban itu yang Yudistira utarakan.


"Apakah tenggorokan anda sudah agak baikan?" Arumi salah tingkah dan wajahnya merah pekat.


"Diamlah sebentar lagi, dasar cerewet" Gumamnya sedikit berdengus kesal. Yudistira memeluk punggung Arumi dengan menutup matanya seakan menikmati ke hangatan punggung mungil itu.


Jantung Arumi tak mau berhenti berdegup, wajahnya memerah pekat. Dan lama ke lamaan, dekapan erat Yudistira mulai melonggar. Nampaknya Yudistira mulai terlelap. Arumi perlahan melepaskan pelukan itu dan Yudistira pun terjatuh di matrasnya.


Ia tenggelam dalam mimpi yang cukup menyenangkan mungkin, hingga bibirnya mengembang kan sebuah senyuman.


Arumi kembali menaruh gelas di meja yang sebelumnya. Ia pun membenahi posisi tidur sang tuan muda, memberi ganjalan bantal di kepala pria tampan tersebut, lalu menaikan dua kaki nya. Menarik selimut dan membiarkannya terlelap.


"Apa yang anda pikirkan... Anda membuat saya amat bingung atas perlakuan anda yang kadang baik juga kadang kadang buruk... Tapi, mau bagai mana pun juga. Anda tetaplah suami saya, aib anda adalah aib saya... Maka, berusahalah menjadi pria terbaik dalam kluarga kecil kita" Panjat Arumi dalam doanya. Arumi lekas menjauhi Yudistira dan kembali menuju sofa yang selalu membuatnya terlelap itu.

__ADS_1


__ADS_2