
"Apa???" Pekik Ny Rose. Ia syok kala hutang nya membengkak dan semua asetnya di tangguhkan.
"Kita sungguh ke colongan..." bisik Penasihat kluarga Anggara.
"Bagai mana bisa Leon menguasai seluruh aset persusahaan. Mobil rumah dan uang simpanan ku! Anak sial itu! Berani nya dia memanfaatkan situasi hanya untuk mengelabuiku!" Teriaknya uring uringan. Kepalanya makin pusing dan ia pun oleng lalu jatuh pingsan.
"Nyonya!" pekik penasihat segera membopong Ny Rose ke rs terdekat.
***
"T-tuan... Berat, bisakah anda menyingkir..." Bisik Arumi dengan napas tersenggal. Yudistira yang sangat lelah itu mulai membuka matanya dan mengangkat wajahnya. Ia mulai menatap Arumi intrents. Lalu tersenyum dan mencium kening wanita itu seraya berkata "Terimakasih sayang..." ucapnya. Arumi terbelalak dan sesaat ia mulai menitikan air matanya "Lho kenapa? Apakah aku menyakitimu?" tanya Yudistira panik.
Arumi menggelangkan kepalanya "Tidak tuan, saya sangat terharu mendengar anda menyebut saya dengan kata Sayang..." ucap Arumi seraya tersenyum di tengah tangisannya.
Yudistira yang masih menindih Arumi pun mulai mengangkat tubuhnya dan brgeser ke samping Arumi. Ia lekas merangkul Arumi dan memeluknya di dadanya erat.
"Maaf jika aku sering menyakitimu... Aku sungguh menyesal... Mulai hari ini dan seterusnya aku akan berusaha menjaga sikapku di hadapanmu..." bisiknya. Entah apa yang terjadi pada pria itu, dan Arumi tak mau tahu. Yang jelas ia sangat bahagia kala mendengar kalimat manis itu terlontar di bibir Yudistira.
"Terimakasih karna telah mau menerimaku..." Arumi mulai membalas rangkulan Yudistira dan menangis sejadi jadinya.
"Alhamdulilah! Alhamdulilah Ya Rabb!" Pekiknya seraya tak henti menangis. Suasana tangisan Arumi yang sesegukan itu membuat Yudistira tak nyaman hingga ia mulai menarik Arumi dan lekas menapaknya.
__ADS_1
"Jangan menangis lagi ya..." Pinta Yudistira menyeka setiap tetes air mata wanita cantik itu.
"Tapi saya sangat bahagia tuan.. Karna tuan mau membuka hati tuan untuk saya..." Ucap Arumi masih terisyak.
"Sstt..." Yudistira membungkam bibir Arumi dengan sebuah kecupan lembutnya. Akhirnya Arumi pun terdiam sampai sampai melotot ke arah Yudistira.
"Aku sungguh tak nyaman jika istriku selalu saja memanggil suaminya dengan sebutan tuan..." Imbuh Yudistira bicara demikian kala melepas kecupan nya.
Arumi makin tak nyaman "Ta-tapi saya tidak enak jika harus memanggil anda dengan sahutan lain" Balas Arumi polos.
Kata kata itu lolos begitu saja hingga membuat Yudistira terkekeh "Hahaha... Kamu sungguh konyol..." Tawanya.
"Panggil aku dengan sebutan manja... Seperti" Ydistira mulai berfikir kata kata yang menurutnya manis tapi tidak lebay.
"Seperti apa..." Tanya Arumi.
"Aku sedang berfikir..." Balasnya masih berfikir.
"Bagai mana jika suamiku" Pinta Arumi. Seketika pandangan Yudistira teralih pada wanita tersebut...
"Suamiku? Apakah itu bagus?" tanya Yudistira sembari mengerutkan jidaknya.
__ADS_1
"Ya... Menurut saya itu bagus... Sangat bagus" jelas Arumi.
"Tidak! tidak!" Bantah Yudistira.
"Lho kok tidak. Apakah itu mengganggu anda?" tanya Arumi bingung.
"Ya jelas dong. Gimana kalau saat kita ke mol lalu tersesat! Kamu menemukanku lalu memangil di kejauhan... Suamiku Suamiku aku di sini, Teriak mu. Berapa banyak mata lelaki yang akan melirikmu... Tidak tidak aku tuda setuju" Imbuhnya menolak keras.
"Kalau sayangku?" tanya Arumi lagi.
Seketika Yudistira kembali berfikir...
"Mas sajalah... Nanti aku akan menoleh kalau kamu memanggilku dengan kalimat itu..." jelasnya. Seketika Arumi mengembangkan senymnya dan mulai mempraktikannya.
"Mas?" Tanya Arumi menatap Yudistira sayu.
Yudistira gemas mendengarnya dan lekas menarik selimut lalu merungkup Arumi...
"Aahh.. Tuan! Anda nakal!" Teriak Arumi.
Mulai hari ini.... Dan seterusnya, Tak akan ada air mata lagi untuk Arumi. Dan hidup Yudistira, mulai beralih satu persatu... Dari penderitaan menjadi kebahagiaan...
__ADS_1