
***
"Alhadulilah..." Arumi mendapatkan kabar yang cukup mengembirakan. Setelah ia merasa ada hal aneh pada tubuhnya. Ia pun menemui dokter untuk konsultasi. Dan alhasil Arumi mendapatkan kabar baik bahwa saat ini dirinya telah berbadan dua.
"Selamat ya nona. Suami anda pasti akan bahagia" Ujar sang doker.
"Terimakasih dokter... Jika bukan karna anda, saya psti akan lengah dan tak tahu jika dalam perut saya ada sebuah nyawa"
"Jaga pola hidup anda dan hati hati. Karna usia kandungan anda msih ada di fase rentan" Pinta dokter.
Arumi mengangguk dan mulai pamit. Ia ingin memberi survise pada Yudistira bahwa ia sedang mengandung benih cinta suaminya.
***
"Oek! Oek!" Tibanya makan siang. Yudistura malah muntah muntah di kamar kecik. Ia tak mau makan bersama Aska dan yang lainnya.
"Tuan muda. Anda baik baik saja?" gedor Joe dari luar.
"Joe. Aku lemas" Pekik Yudistira dari dalam.
Joe pun menggebrak pintu dan lekas membawa Yudistira ke klinik "Tua muda. Anda baik baik saja... Anda tak memiliki penyakit serius" Ujar sang dokter.
__ADS_1
"Yang benar saja! Masa aku tidak sakit! Sedangkan makanan apapun yang masuk mulutku... Semuanya hambar dan berbau busuk! Aku tidak bisa makan!" cerocos Yudistira kesal.
"Kalau begitu, saya akan memberikan anda vitamin dan suplemen makanan' Ujar sang dokter.
"Heh. Apa gunanya semua itu jika aku tidak sembuh! Aku ingin makan! Perutku lapar! Tapi aku tidak bisa mencerna makanan makanan itu" Yudistira ngamuk.
Dokter bilang tuan Yudistira baik baik saja? Pantas kenapa ia tak mau makan? Jangan jangan tuan Yudistira sedang ngidam? Bathin Joe mengguma.
"Sebaiknya aku pulang saja!" Umpat Yudistira.
"Tapi ini masih jam kerja tuan?"
"Ini adalah kantorku. Terserah aku mau pulang jam berapapun" gumam nya.
Yudistira bangun dari rebahannya dan lekas berjalan menuju pintu keluar klinik itu "Joe. Apakah aku terkena sihir?" tanya Yudistira sedikit mengamuk.
"Sihir? Benarkah, apakah hal semacam itu masih ada?" tany Joe sungguh tak percaya.
"Kau ini. Kau tak tahu rasanya jadi aku. Aku tak bisa makan! Perutku lapar dan aku hanya bisa melihat makanan makanan lezat itu di kejauhan. Menatapnya dan menciumnya saja sudah membuatku jijik" Cerocos Yudistira.
Hem. Mungkin itu adalah karma, karan dulu tuan sangat angkuh pada nona Arumi... Jadi tuan di berikan penyakit yang agak aneh seperti itu. Bathin Joe menggumam.
__ADS_1
"Tuan. Apakah nona Arumi..." Joe tak melanjutkan kalimatnya.
"Ada apa?"
"Ah tidak. Hanya sedikit lupa" Joe mulai menepis prasangka jika Arumi sedang hamil mudam
Joe dan Yudistira pun mulai menaiki mobil dan lekas melaju membelah jalanan ibu kota yang cukup ramai lancar itu.
***
"Selamat ya nona Arumi" Bi inah dan Yolla.
"Terimakasih" Arumi sungguh bahagia apa lagi mendapatkan sambutan dari dua orang yang ia sayangi.
"Tuan Yudistira pasti sangat bahagia" ujar bi inah.
"Benar bi. Dia pasti sangat terkejut" balas Arumi sudah tak sabaran.
"Anda sungguh beruntung" Gumam Yolla sedikit melamun.
Enak sekali Arumi. Dia baru saja tiba ke rumah ini lalu jadi istri tuan Yu. Bahkan kini dia sedang mengandung anak tuan Yu. Aku sebal padanya... Seharusnya aku yang ada di posisi itu bukannya dia. Toh aku lebih cantik darinya dan aku juga lebih lama berada di samping tuan Yudistira. Aku nggak bisa biarkan dia lebih beruntung lagi. Yolla mengepalkan tangannya erat karna ia tak senang pada Arumi.
__ADS_1
Lantas apa yang akan di lakukan Yolla pada Arumi untuk mendapatkan perhatian Yudistira? Padahal Yudistira terlanjur jatuh hati pada Arumi.