ISTRI kecil Tuan Yudistira

ISTRI kecil Tuan Yudistira
Belas Kasihan


__ADS_3

Yudistira bangun, ia merasa silau kala sinar mentari meraksak masuk ke retinanya "Mhhh..." Ia mengerang dan membuang wajahnya dari pantulan hangat itu. Perlahan netranya mencercap beberapa kali untuk menetralkan cahaya yang masuk.


"Sudah siang" Bisiknya meraih ponsel di meja lampu kamar tersebut.


Ia mulai duduk dan menginggsutkan tubuhnya ke kepala ranjang lalu menyender di bantal. Ia memutar bola matanya seakan menelisik seisi kamar "Joe..." Pekik Yudistira. Joe lekas masuk "Ya tuan..." Sigap Joe menunggu perintah.


"Mana wanita itu?" Tanya Yudistira dengan suara berat.


"Nona Arumi sudah pergi ke kediaman Anggara Wijaya" Jawab Joe singkat.


"Dia pergi tanpa membangunkan ku... Keterlaluan, wanita itu jadi seenaknya setelah ada di kediamanku beberapa hari ini" Gumam Yudistira kesal. Ia menghempaskan rambutnya kesal "Bagai mana dengan Alex dan yang lainnya?" tanya Yudistira.


"Mereka sudah pulang satu jam yang lalu..." Balas Joe membuat Yudistira puas.


"Pergilah... Siapkan sarapan. Aku ingin sup buntut" Jelas Yudistira. Joe lekas keluar kamar tersebut...


Kini Yudistira mulai termenung sendirian, padahal hanya beberapa hari saja Arumi ada di kediaman itu, tapi dampak yang Arumi timbulkan justru membuat tuan itu tenang. Tapi, kini saat Arumi pergi untuk beberapa saat saja... Sudah membuat Yudistira kembali ke sepian.


***


"Mau apa kau datang ke mari hah!" Bentak Ny. Rose. Arumi memaksa masuk meski satpam melarangnya untuk berada di area kediaman Anggara Wijaya "Bu. Tolong izinkan Arum masuk... Arum sangat rindu pada Ayah" Arum memelas meski ibu angkatnya menghinanya habis-habisan.


"Kau adalah pembawa sial di kediaman ku! Entah dosa apa yang telah aku lakukan hingga kau berani membalasku dengan sangat kejam begini!" Bentak ny Rose penuh emosi.

__ADS_1


"Bu. Tolong, sebentar saja..." Pinta Arumi masih mememohon. Mau bagai manapun juga, Ny Rose dan tuan Anggara adalah orang yang berjasa dalam membesarkan Arumi, hingga Arumi tak ingin pergi meski telah di usir beberapa kali.


Bi Inah ada di sana dan menatap sedih, bi inahlah yang membesarkan Arumi. Namun karna Arumi tinggal di kediaman tersebut, dan terbiasa dengan kasih sayang Ayah dan ibu angkatnya. Ia jadi begitu sedih kala ke hadirannya saat ini tak pernah di anggap sama sekali oleh ny Rose sama sekali.


"Bi inah! Antar dia pergi... Aku sama sekali tam ingin melihatnya!" Bentak Ny Ros seraya membuang wajahnya dan masuk ke dalam rumah besarnya. Sejak Arumi gagal menikah dengan anaknya. Ny Rose jadi amat membenci gadis itu, padahal semula Ny Rose sangat menyayanginya lebih dari pada ia menyayangi Alan putra sulungnya itu.


"Bii..." Nanar sedih Arumi tergambar jelas tanpa harus di ungkapkan.


"Non...apakah ansa baik-baik saja?" tanya Bi Inah merangkul Arumi dan memeluknya.


Ni inah tak punya anak karna ia tidak menikah, ia sudah menanggap Arumi seperti anaknya sendiri "Non. Bagai mana kabar anda" Tetesan basah pecah di nanar Bi inah kala memeluk gadis itu.


"Aku baik bi... Bagai mana kabar bibi" tanya Arumi mengeratkan pulukannya.


"Syukurlah non..." Bi Inah mulai melepas pelukannya. Arumi yang sedih kala melihat wanita tua itu menangis pun mulai perlahan menghempas air mata wannita tersebut.


Bi inah diam, ia menunduk lemas "Bi kenapa? Apa yang terjadi di rumah ini setelah aku pergi?" tanya Arumi cemas.


Bi inah celingukan mencari kanan kiri "Sebaiknya bicara di luar..." Bi Inah mulai mengajak Arumi ke luar kediaman Anggara.


"Bi apa yang terjadi?" tanya Arumi kahawatir.


"Sebenarnya. Keadaan rumah sangat kacau.. Apa lagi sekarang ada tuan Leon yang sangat kejam, ia memerintah sekaan ialah bosnya di sini" jelas Bi inah.

__ADS_1


"Leon? Apakah pria itu sudah keluar dari penjara?" tanya Arumi kaget.


"Ya. Dia baru keluar beberapa hari yang lalu, Ny Rose menangguhkan penahan Tuan Leon jadi tahanan Kota... Bi Inah sudah tak betah non" Cerocos bi Inah.


"Lalu bagai mana dengan Alan? Bi mas Alan baik-baik saja kan?" tanya Arumi panik.


"Tuan Alan..." Bi Inah enggan menyampaikan kabar buruk yang menimpa Alan.


"Bi... Kenapa? Tolong jelaskan... Bibi tahu kan keadaan Mas Alan sekarang?" Tanya Arumi menekan Bi Inah.


"... Tuan Alan, dia depresi berat... Hingga beberapa kali hendak bunuh diri... Dan sekarang ke adaannya memburuk. Ia tak mengenal siapapun selain nama non Arumi" jelas Bi Inah membuat hati Arumi hancur.


"Astagfirullah mas... Apa yang kamu lakukan?" erang Arumi tak bisa tahankan air matanya. Ia menutiup hidung dan mulutnya karna ingin menahan tangisannya.


"Hiks. Mas Alan... Hidupmu masih panjang, kenapa kamu rela mengorbankan hidupmu gara-gara aku yang hina ini... Hiks... Hu hu hu" Arumi menyalahkan dirinya sendiri atas hal buruk yang menimpa Alan. Bukan hanya Tuan Anggara yang di ujung maut, tapi hidup Alan pun jadi hancur gara-gara Arumi. Itu sebabnya, Ny Rose sangat membenci Arumi saat ini.


Bi Inah ingin sekali menjelaskan tentang kebusukan Kluarga Anggara pada Arumi. Tapi, bi Inah pikir... Itu bukanlah waktu yang tepat untul mengatakan hal menyedihkan di masa lalu itu.


"Non... Jika nona ingin ke rumah sakit dan menjenguk Tuan Anggar, pergilah ke rumah sakit Holiz di pusat kota... Anda akan bertemu dengannya di lantai 12 ruang Vip nomber 123... Pergilah ke sana, karna mungkin ia pun sangat menunggu anda" jelas Bi inah. Arumi menyeka air matanya dan memeluk bi inah.


"Makasih bi. Baik-baik lah di dalam, arum akan lebih sering menjenguk bi inah jika Arumi punya waktu" Jelas Arumi.


Bi inah pun mengangguk, mereka saling mendoakan satu sama lain..

__ADS_1


Arumi pun bergegas pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Tuan Anggara, Arumi sangat terburu-buru, sebab waktu yang di berikan Yudistira sangatlah sedikit... Jadi ia harus pintar dalam mengaturnya dengan baik...


"Tuan Leon. Lihat, ada nona Arumi di depan gerbang..." jelas Sang supir. Leon menyungingkan bibirnya "Hampiri dia... Heh. Nampaknya waktu memang berpihak padaku..." jelas Leon seraya terkekeh.


__ADS_2