
"Tuan... Anda belum menyelesaikan satu pun berkas di meja anda" Ujar Joe mengingatkan. Yudistira masih menyimak layar monitor di depannya.
Sebenarnya apa yang tuan lakukan, ia tak tampak seperti tengah melamun dengan tetap duduk di layar monitor seperti itu. Bathin Joe menggumam.
"Joe. Bisakah kamu cari tahu, asal usul wanita itu" Tanya Yudistira begitu penasaran. Joe berfikir kenapa tiba-tiba Yudistira inginkan hal tersebut.
"Untuk apa tuan?" Tanya Joe gagal fokus.
"Tak perlu tahu untuk apa. Yang jelas... Cari tahu saja lah dulu" Jelas Yudistira tampak bimbang, ia memijat jidaknya beberapa kali seakan pening.
"Baiklah. Saya akan mencarinya di data catatan sipil, nama Arumi pasti ada di sana" Joe mulai undur diri, Ia pergi menjalankan tugas yang baru saja di cetuskan Yudistira untuknya. Yudistira masih menatap intrents layar monitor di depannya itu. Layar monitor tersebut memampangkan situasi di ruang rumah sakit, tempat Arumi singgah.
Nampaknya, semalam... Sebelum Arumi pergi ke kediaman Anggara Wijaya. Yudistira menyuruh Joe menyiapkan pakaian baru untuk Arumi. Yudistira seperti biasanya, selalu menyelipkan bros kecil di salah satu kancing pakaian Arumi. Bros yang di selipkannya merupakan, cips kamera micro yang kecil seukuran kancing baju. Bagai mana pun juga, Arumi pasti tak akan sadar, jika selama ini... Gerak-gerik wanita itu telah di amati secara seksama oleh suaminya sendiri.
Lama menatap kepedihan Arumi atas tragedi yang menimpa kluarga Arumi... Nyatanya, ada rasa iba di hati pria itu untuk Arumi. Meski Yudistira benci pada Arumi karna ia adalah bekas anggota kluarga Anggara wijaya dan calon istri Alan... Tapi, karna mereka senasib, Yudistira jadi mengurungkan niatnya untuk terus merundung Arumi. Dan baginya tak ada alasan untuk terus mengusik hidup Arumi. Toh, saat ini dia adalah istri nya sacara sah, meski tak banyak orang yang mengetahuinya...
__ADS_1
Yudistira sangat dilema untuk saat ini, ia hanya bisa menekan kepalanya yang terasa ngilu akibat terlalu lama berfikir tentang istrinya yang malang tersebut.
****
"Hiks... Hu hu hu..." Arumi masih menangis. Leon ada di sana dan terus menyalahkan Arumi, meski dokter masih menangani ayah Leon dengan sangat maksimal... Namun, karna Gelisah... Leon pun terus menyalahkan Arumi atas hal yang telah terjadi pada ayahnya itu.
"Jika sampai ayahku tak tertolong! Jangan salahkan aku jika kau pun akan ikut terkubur bersamanya! Camkan itu! Dasar wanita penyihir dan pembawa sial!" Bentak Leon mulai menghempaskan tangannya ke bahu Arumi. Hingga Arumi terdorong ke belakang "Astagfirullah..." Pekik Arumi.
Leon berkata demikian bersama amarahnya, namun... Sesaat, Arumi bisa lihat bahwa Leon tengah bahagia... Bibirnya sedikit menyunging kala menatap ruangan sang ayah yang masih di penuhi huru hara.
"Leo! Bagai mana keadaan ayahmu?" tanya Ny Rose dengan nanar yang amat panik hingga ia datang dengan tergesa-gesa.
"Bu. Ini kacau bu..." Leon menghempaskan rambutnya kasar lalu mendelik ke arah Arumi "Apa maksudmu Leo?" tanya Ny Rose panik ia makin gelisah dan tak enak hati.
"Wanita ini lah penyebabnya!" tunjuk Leo ke arah Arumi.
__ADS_1
"Wanita ini... Apa maksudmu?" tanya Ny Rose. Ny Rose mulai menoleh ke arah Arumi dan menatapnya kaget "Kau! Bagai mana kau ada di sini??" Tanya Ny Rose menunjuk Arumi. Arumi yang sedari tadi menunduk pun mulai mendonggakan wajahnya "B-bu... Aku bisa menjelaskannya" Gagap Arumi sudah tertangkap basah. Pastilah semua akan menyalahkannya atas hal burul yang menimpa Ayah angkatnya itu.
"Jelaskan! Heh. Apa yang bisa kau jelaskan! Dasar pembawa sial!'Bentak ny Rose membuang wajahnya dari tatapan sayu Arumi. Sementara Bi inah, ia hanya bisa menatap Arumi sedih...
Non. Yang sabar ya... bi inah tahu, Semua ini bukanlah salah non Arumi. Bathin bi inah menggumam.
"Siapa yang membawa mu kemari heh! Daru mana dia tahu lokasi ayahmu di rawat?!" tanya Ny rose. Leon langsung bungkam dan mencari alasan, bola mata Leon yang panik mulai menatap kiri kanan sebelum mendapat jawaban.
"Apakah kamu bi yang kasih tahu si ja-lang ini?" Tanya Bi inah. Bi inah diam dan malah menatap Arumi, Arumi menggelengkan kepalanya seakan berkata "Jangan bi... Jangan kasih tahu" Isyarat dari Arumi. Namun, karna kasihan pada Arumi, bi Imah langsung mengangguk diam.
"Apa?? Jadi kamu bi yang kasih tahu? Keterlaluan... Rupanya selama ini kau telah berhianat padaku!" bentak Ny Rose mengamuk di Rumah sakit tersebut hingga menimbulkan ke rusuhan. Seluruh mata tertuju pada amukan wanita paruh baya itu, ny Rose menjambak Bi Inah dan membuat bi inah menjerit, Arumi lantas datang untuk menyelamatkan bi inah dari amukan wanita itu. Namun sebuah tamparan keras malah mendarat di pipi Arumi.
Plak! "Jangan ikut campur! Dasar pembawa sial!" bentak Ny Rose melepas tangannya dari rambut bi inah. Wanita yang masih murka itu lantas mendorong Arumi hingga kaki Arumi terpeleset dan goyah. Ia hendak mencium tanah... Leon tersenyum atas ke tidak adilan yang Arumi terima.
Namun, ia tak sendiri... Seseorang menahannya dari belakang, hingga Arumi tak jatuh begitu saja "Jaga sikapmu... Dasar penyihir tua!" Bentak seseorang dengan suara yang sedikit berat. Arumi yang masih menekan pipi kanannya itu pun mulai membelalakan matanya lalu mendonggakan wajahnya untuk menyimak siapa gerangan yang datang untuk menyelamatkannya.
__ADS_1