
Kamar tersebut mulai terasa panas oleh kecupan Yudistira yang terkesan memaksa hingga napas Arumi tertahan kecupan itu dan kesesakan karna ia sulit mengambil oksigen. "Ngghh..." Ringis Arumi mendorong tubuh Yudistira. Ciuman ganas itu mulai terlepas begitu saja "T-tuan..." Arumi meraih bibirnya dan menutupnya rapat, ia mengambil udara sebanyak banyak nya. Netranya terpaut satu sama lain. Tapi, tatapan Yudistira tidak serendah tatapan Arumi yang begitu polos dan ringan. Tatapan Yudistira masih sangat berambisi juga belum puas.
"Kau jijik padaku?" Tanya Yudistira menyorotkan tatapannya sangat tajam pada. Lalu Arumi pun membalasnya gagap "A-aku... Aku hanya belum siap" Balas Arumi menurunkan atensinya lalu mencari alasan. Tapi apapun alasan Arumi, Yudistira tetap tak ingin menerima apapun itu "Jangan balas tatapan pria lain di depanku. Aku sangat tak menyukainya" Jelas Yudistira.
"Ta-tapi... Aku sama sekali tak menggubrisnya... Dia hanya mendekat lalu bicara hal tak jelas" Balas Arumi membela diri.
"Berani nya kau mencari alasan!" Yudistira sangat marah dan mulai mendorong tubuh Arumi, hingga Arumi terjatuh di karpet kamar tersebut "Aah..." Arumi mulai bersimpuh di depan Yudistira.
"Sudah ku bilang. Aku tak suka jika pria lain menyapamu... Itu saja!" Bentak Yudistira. Ia pun mulai menjauhi Arumi dan membiarkannya terus terduduk seperti itu.
"Tidak suka?" Bisik Arumi memelankan suaranya.
BLAM! Yudistira menutup pintu bathroom sangat keras karna terlalu marah... Sedang Arumi hanya bisa menunduk seraya bertanya tanya dalam hatinya "Tidak suka? Itu salahku... Aku terlalu di benci nya hingga ia selalu bertindak semena-mena begitu. Astagfirullah..." Umpatnya dalam hati.
***
Kamar mandi...
Gyuuuurr! Yudistira terdiam di bawah guyuran sawer yang menghujani kepalanya yang panas itu. Juga tubuh polosnya basah kuyup oleh guyuran tersebut. Ada beberapa masalah di dalam kepala pria itu, ia tak paham... Kenapa ia selalu benci jika mengingat Kruss yang selalu menggoda Arumi. Dan ketika Arumi bertatapan dengan pria lain... Hatinya seakan di bakar api dan marah tiba-tiba.
"Sial!" Pekiknya memukul dinding hingga tangannya lebam.
"Aku sungguh tak suka!" Bentaknya amat keras. Usai mengamuk tak jelas, pria itu pun mulai meraih kimononya lalu berjalan ke arah kamarnya lagi.
BRAKKK!!! Pintu Bathrom yang tak bersalah itu menjadi pelampisan amukan Yudistira. Pintu terbuka dengan kasar dan membuat Arumi terperanjat "T-tuan... cepat sekali anda membersihkan diri anda" Bisik Arumi nyaris tak terdengar. Rambut Yudistira lepek oleh guyuran sawer dan mulai menetes jatuh ke area handuk kimononya.
"A-akan ku ambilkan handuk untuk mengeringkan rambutmu" Ia berdiri dan lari ke ruang ganti pribadi Yudistira. Namun terlambat, Yudistira malah merenggut pinggang Arumi dan melemparnya ke matras "Kyaaa!" Pekik Arumi. Yudistira yang terlihat bernaf*su itu pun mulai segera menghimpit tubuh wanita polos itu dan menahan kedua tangannya. Posisi itu membuat Arumi mengingat adegan saat Yudistira hendak memakannya.
__ADS_1
"A-anda..." Gagap Arumi panik menatap wajah Yudistira yang begitu dekat.
"Jangan menolak lagi!" Bentaknya seraya mulai melu*mat bibir itu lembut. Arumi membelalakan matanya lebar-lebar dan enggan memejam hingga pandangan Arumi yang tampak melotot itu membuat Yudistira tak nyaman. Ia pun melepaskan ciumannya "Apa yang kau lihat?" Tanya Yudistira menatap Arumi.
"... A-aku hanya kaget" Jawabnya.
"Jangan melotot dan membuatku tak nyaman..." komen Yudistira blak-blakan.
"A-aku tak tahu harus apa..." Balasnya polos. Yudistira sedikit tersenyum "Dasar bodoh. Pejamkan matamu ketika aku menciummu!" Pintanya berkomentar.
Arumi mulai membalas "B-baiklah jika itu membuat amarah anda mereda" Arumi lekas menutup matanya rapat-rapat dan terlihat memaksakan diri.
"Rileks sejenak... Lalu nikamati" Ucapnya kembali mengecup bibir itu. Arumi mulai pasrah pada apa yang ingin di lakukan pria itu, meski suasana hati pria itu tak menentu. Tapi, Arumi mulai merasa nyaman saat Yudistira bersikap baik padanya.
Kecupan Yudistira yang tenggelam dalam larutan asmara dan gairah itu mulai tak bisa di hentikan. Apa lagi, sentuhan Yudistira itu yang begitu lembut membuat Arumi pasrah apapun yang akan di lakukan pria itu.
Tak lama setelah Arumi terlihat polos, Yudistira pun mulai membuka handuk kimono nya begitu mudah dan mereka pun siap bergulat penuh gairah di atas ranjang.
Yudistira melepas tangan Arumi dan membiarkannya bergelinjat kala sentuhan, kecupan dan lu*matan pria itu mengigiti lembut sebagian tubuh Arumi di area sensitifnya.
"Ughhhh... Aaaahhh..." Sebelum Yudistira memasukan adik kecilnya ke gua sempit itu. Arumi sudah lemas karna sentuhan nakal pria itu.
"Kenapa... Suaramu begitu indah" Bisiknya di daun telinga Arumi. Ia mulai membuka lebar area sela*kangan Arumi untuk memasukan ke jan+tanannya ke area sensitif itu.
Saat si kecil siap masuk dan menyatu di gua sempit itu, Arumi terpekik "Aaaahhhh!" Pekik Arumi membelalakan matanya.
Yudistira kaget karna melihat Arumi memegangi perutnya dan mengerang ke sakitan "Ada apa? Apakah aku melukaimu?" Panik Yudistira.
__ADS_1
"Ma-maafkan aku... Sepertinya perutku sakit" Balas Arumi masih meremas perutnya. Yudistira pun bangun dan menjauh dari tubuh istrinya yang mungil itu.
Arumi meraih selimut dan menutup tubuhnya "Kenapa? Apakah perutmu sakit?" Tanya Yudistira khawatir.
"Maafkan aku... Perutku sakit sekali dan seprtinya aku ingin..." Arumi malu mengatakannya.
"Ingin apa?" Yudistira masih menunggu jawaban Arumi.
"Aku ingin buang air besar... Aku sakit perut" Jelasnya. Yudistira mulai membelalakan matanya dan melotot tajam ke arah wanita itu.
"Jangan marah..." Keluh Arumi merengut. Yudistira tentu marah sekali hingga ia tak mau bicara pada Arumi.
"Nanti sambung lagi ya..." Ujar Arumi.
"Berhenti mengoceh! Pergi sana!" Yudistira yang kesal hanya bisa membiarkan Arumi pergi untuk melakukan hal yang cukup rutin dalam hidupnya itu.
Blam!
Aaaah sial! Nampaknya aku telah di kutuk! Setiap ingin bercumbu... Selalu saja gagal... Apa yang akan ku lakukan sekarang. Moodku makin jelek saja. Bathin Yudistira menggumam penuh kekesalan dan amarah.
"Tuan muda... Anda sudah di tunggu di luar" Sahut Joe dari luar kamarnya. Nampaknya sedari tadi Joe juga menguping suasana indah di dalam kamar itu.
"Jangan berisik atau ku usir kalian semua!" Bentaknya seraya bergegas memakai pakaian dan menuju ke area penjamuan...
"Aku duluan tuan muda... Tak enak meninggalkan tamu" Ujar Joe.
"Ya! Ya! Ya! Pergi sana ke mars sekalian berisik!" Bentak Yudistira. Akhirnya tak ada alasan lain selain menghadapi kenyataan bahwa Arumi dan Yudistira belum bisa berbulan madu untuk yang pertama kalinya setelah pernikahan sah mereka.
__ADS_1