ISTRI kecil Tuan Yudistira

ISTRI kecil Tuan Yudistira
Hilang ke sucian


__ADS_3

***


Pagi menyapa ruangan istimewa nan megah di kediaman Yudistira. Seseorang menangis sesegukan, karna darah berceceran dan menodai sprei putih ranjang kamar Yudistira. Arumi masih terduduk meringkuk memeluk lututnya, kerudung dan cadar yang ia kenakan mulai di pakainya. Sementara pakaian pengantin yang ia kenakan kemarin pagi sudah robek dan terkoyak akibat paksaan Yudistira yang buas.


"Hiks... Huhu Hikss..." Tangisan Arumi mulai membangunkan Yudistira yang sedari tadi terlelep di sebelahnya.


Mmmggghhh... Disis Yudistira mengganti posisi tidurnya, ia berbalik ke arah Arumi dan mulai meraba sesuatu. Nampaknya Yudistira mencari guling kesayangannya. Namun yang ia raih malah kaki Arumi yang jenjang itu "Aakhhh!" Pekik Arumi menarik kembali kakinya dan kembali meringkuk.


"Egghghhh... ada apa ini?" Yudistira mulai bangun dan duduk begitu saja dengan ke kadaan telanjang. Sementara Arumi menjerit kala Yudistira duduk di hadapannya tanpa selebar kain menutupi tubuhnya.


"A! Astagfirullah!" pekik Arumi menunduk dan bersembunyi di kesepuluh jemari lentiknya. Yudistira masih belum sadar akan kelakuannya tadi malam pada Arumi.


"Eh..." Yudistira mulai menggosok matanya yang sedikit kabur itu, setelah pandanganya jelas... Ia terbelalak ketika dapati sosok wanita yang ia benci ada di matrasnya "Kau! Siapa yang menyuruhmu datang ke kamarku" Bentak Yudistira menghakimi Arumi yang sama sekali tak tahu apapun.

__ADS_1


"Hiks! Astagfirullah... Hiks, seharusnya saya yang bertanya demikian! Kenapa anda berani menghancurkan saya di hari pernikahan saya?" Arumi menunduk dan tak berani menatap Yudistira yang saat itu polos tanpa selebar benang pun menempel di tubuhnya.


"Lancang! Siapa yang menyuruhmu bicara!" Bentak Yudistira seraya melesatkan tangannya dan meraih pipi Arumi lalu mencubitnya keras.


"Eekkhh... S-sakit tuan... lepaskan!" Erang Arumi nampak kesakitan, ia menyembunyikan exspresi yang menderita itu di balik cadar putih miliknya.


"Sakit! Sakit katamu! Beraninya wanita dari kluarga musuhku masuk ke kamarku begitu saja..." bentak Yudistira makin mengeratkan cubitannya. Arumi lekas memegangi tangan kanan kekar itu dan berusaha menjauhkannya "Sakit! Tolong lepaskan!" Pinta Arumi amat berusaha.


Aniayaan Yudistira pada Arumi tak berdasar, meski ia benci pada kluarga Anggara Wijaya tak seharunya ia melibatkan wanita tersebut. Sebab Arumi juga adalah korban kluarga Angara di sini "Beraninya kau bicara padaku! Beraninya kau ada di kamarku! Enyahlah sekarang juga!" Yudistira mendorong Arumi keras hingga Arumi terjedok ke dinding dan kemudian jatuh pingsan di bantal yang sedari tadi di tiduri Yudistira.


"Sial! Baru di dorong begitu saja sudah pingsan! Heh... Dasar manja! Tunggulah, dua hari lagi... Maka aku akan memulangkanmu! Entah saat itu kau bisa bertahan atau malah kau akan mati di tanganku! Aku sungguh ingin melihat Alan menangis darah di hadapanku... Hahahahahahah" Tawa bangga Yudistira selalu terdengar akhir-akhir ini. Ambisi terbesarnya akan segera terlakasanakan dengan baik. Dan dendamnya akan segera berakhir seiring ke hancuran kluarga Anggara Wijaya. Yudistira bangun dari ranjangnya dan ia pun berdiri, saat kakinya mulai berada di bawah. Ia baru sadar jika dirinya saat ini sangat memalukan, tubuh telanjangnya membuat dirinya panik "Sial! Ada apa dengan ku? Kenapa aku terlihat polos begini!" bentaknya, ia pun lekas meraih selimut dan kemudian membalutkan nya di tubuhnya. Ratusan pertanyaan mulai muncul di otaknya dan berputar-putar tanpa komando.


"Apa yang terjadi semalam?"

__ADS_1


"Kenapa aku telanjang?"


"Lalu bagai mana wanita sial itu ada di kamarku?"


"Apa yang telah aku lakukan padanya"


"Bagai mana bisa hal ini terjadi padaku?"


"Aku sungguh memalukan" pertanyaan itu terus terlintas di pikiran Yudistira dan beputar-putar terus menerus. Ia sungguh syok kala hal buruk itu menimpanya, sebelumnya... Tak pernah ada satu wanita pun yang pernah ia cintai ataupun ia sentuh.


Tapi, kenapa yang harus ia sentuh malah wanita yang hampir jadi istri musuh bebuyutannya Arumi si calon menantu dari kluarga Anggara Wijaya.


Tak terasa guyuran Sawer itu terus membasahi tubuh Yudistira begitu lama, beribu kali ia membasuh tubuhnya dan membersihkannya mengenakan sabun mandi hingga sabun tersebut habispun, goresan noda yang telah ia torehkan tak akan pernah hilang. Rasa jijik pada dirinya sendiri karna telah menyetubuhi Arumi membuatnya makin membenci Arumi, dan menyalahkan segalanya pada Arumi. Entah siksaan apa lagi yang akan di jatuhkan Yudistira pada Arumi.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2