ISTRI kecil Tuan Yudistira

ISTRI kecil Tuan Yudistira
Tuan muda sakit?


__ADS_3

***


Di bantu Joe, Yudistira pun kembali ke kamarnya. Ia terlelap dengan begitu tenang... Sebuah bujukan Arumi, mampu membuatnya tenggelam dalam mimpi...


"Nona... Anda baik-baik saja?" tanya Joe. Arumi mengangguk "Ya..." sembari netranya tak luput dari nanar pria tampan yang tak berdaya itu.


"Ku pikir anda akan terluka..." Gumam Joe memulai percakapan intim.


"Terluka? Oh ia juga Joe, kenapa Tuan muda sangat marah ketika ada orang lain masuk ke ruangan itu?" tanya Arumi sangat ingin tahu.


"Apakah tadi tuan muda murka pada anda?" tanya Joe mengabaikan pertanyaan Arumi tanpa menjawab.


"Engh... Sedikit sih" jawab Arumi menyeringai.


"Pasti begitu, ruangan itu tak boleh di jamah manusia... Yang boleh masuk ke dalamnya hanya tuan muda saja" Jelas Joe.


"Tapi kenapa? Kenapa hanya ruagan itu yang terlihat terbengkelai dari ruangan ruangan lainnya. Nanti Tuan Yu bisa sakit kalau masuk lagi ke sana" Komen Arumi tak suka dengan aturan tersebut.


"Entahlah... Saya pun tak berani masuk ke dalam ruangan itu" Joe pasrah dengan aturan yang Yudistira berikan.


"Lalu... Saat tuan Yu bergadang untuk menyelesaikan proyeknya. Bukankah ruangan itu yang telah ia pakai?" tanya Arumi mendesak.


"Bukan... Ruang kerja, tapi ruang belajar multi pungsi yang ada di sebelahnya" imbuh Joe.


"Oh. Begitu ya... Aku sangat sedih saat masuk ke dalam ruangan itu dan menyimak sekeliling" ucap Arumi mengeluh.

__ADS_1


"Ya... Mungkin itu sebabnya semua orang yang ada di kediaman ini. Dilarang keras masuk ke ruangan itu" Jelas Joe.


Arumi merunduk dan mulai berfikir "Nona kalau begitu saya permisi dulu" Joe pamit. Arumi pun mengangguk. Setelah Joe pergi, arumi pun kembali ke ruang kerja Yudistira dengan cara mengendap lalu membersihkan ruangan itu hingga pajar menyingsing.


"Akhirnya... Beres juga... Ruangan ini memang lebih indah jika di bersihkan" Kerja keras Arumi sepanjang malam untuk membersihkan beberapa debu dan menata meja dengan pun mulai rampung. Arumi menaruh beberapa potret Yudistira bersama kluarganya dengan seksama hingga terlihat begitu indah dan rapi. Ruangan itu jadi lebih bersih dan wangi...


Arumi keluar setelah membersihkan ruangan tersebut, tak lupa ia juga membawa serta box ponsel lipat pemberian Yudistira yang terjatuh semalam gegara kaget akan serangan Yudistira yang tiba tiba itu.


***


Tak terasa azdan subuh menyapanya... Ia pun lekas beribadah dan di akhiri dengan membaca doa yang terbaik untuk almarhumah suaminya juga almarhumah kluarga Arumi. Juga ia meminta agar suaminya mau membuka hatinya dan mulai mencintai agama dan tuhannya.


"Amin..." Ia mulai mengusap wajahnya dan mulai membuka mukena yang ia pakai dan melipatnya.


"Ngggh... Ibu! Jangan pergi...." Rintih Yudistira. Arumi menoleh dan lekas menghampiri pria itu.


"Ngghhh Ibu! Jangan pergi... Ibu! Jangan pergi!" Ringisnnya berulang-ulang. Keringat Yudistira begitu lebat dan tampak gelisah.


Nampaknya ia telah bermimpi buruk lagi "Ibu... Tidak! Ibu!" Pekiknya seakan sulit membuka matanya. Arumi mulai meraih selebar tisue dan menyeka keringat di jidak suaminya itu. Saat tangan mungil itu hinggap di pipinya. Yudistira pun meraih Arumi dan kembali mengoceh "Ibu... Jangan pergi" sembari air mata terjun begitu saja dari ekor mata pria itu.


"Astagdirullah tuan istigfar... Ini saya, istri anda" jelas Arumi. Arumi merasakan hawa panas dari tangan suaminya.


"Astagfirullah... Tuan, ternyata anda sakit?" Panik Arumi. Lantas saja Yudistira mengigau... Nampaknya ia telah demam tinggi. Arumi lekas menyuruh Joe datang dan memanggil Dr Denis.


***

__ADS_1


"Tuan muda selalu gelisah akhir akhir ini. Ia jadi sakit seperti ini" Ujar Joe.


"Tapi... Tuan Yu tak akan kenapa napa kan?" tanya Arumi khawatir.


"Tentu saja... Tuan muda sering sakit sakitan. Tapi, untuk beberapa bulan ini kesehatannya sedikit membaik setalah kedatangan anda nona" Ujar Joe. Arumi tersipu dan sedikit malu "Mana mungkin Joe. Tuan muda Yudistira memang sedang kebal saja mungkin akhir akhir ini" Tepis Arumi merasa sangat malu.


Tak berselang lama... Dokter Denis datang dari kamar pribadi Yudistira dan mulai menghampiri Arumi dan Joe.


"Bagai mana keadaan tuan muda?" tanya Arumi gelisah.


Dokter denis mulai menatap Arumi dalam dalam "Maaf... Siapa nona ini?" Tanya Dr Denis curiga.


"Oh ia Dok. Kenalkan, ini adalah istri Tuan Muda" Jelas Joe mengenalkan Arumi pada dr kluarga Yudistira.


"Istri? Oh... Astaga, aku sangat terkejut sekali. Kapan tuan muda menikah? Aku sampai tak di kabari oleh mu Joe. Jahat sekali" Gerutu Dr. Denis tak senang.


"Maaf karna tak mengabari mu Denis... Sebab pernikahan tuan muda enggan di publiskan" Jelas joe mencari alasan.


"Kalian memang jahat sekali" Dr Denis menepuk jidaknya sendiri.


Arumi mulai menyapa pria berjas putih itu "Dr. Denis senang bertemu dengan anda... Bagai mana kabar suamiku? Apakah dia baik baik saja?" tanya arumi.


Dr denis mulai menjelaskan kondisi Yudistira. Nampaknya Yudistira hanya demam biasa dan tak butuh perawatan medis. Hanya perlu istirahat, makanlah makanan yang sehat dan istirahat yang cukup"Imbuh sang dokter.


Arumi pun bisa bernaapas lega setelah mendengar bahwa penyakitnya tak terlalu oarah begitupun Joe...

__ADS_1


Akhirya... Arumi sama sekali belum tidur hingga siang menyapa nya. Ya mau bagai mana lagi, sebab Arumi harus melayani pria manja itu dengan baik...


__ADS_2