
"Mas, ini terlalu berlebihan" Racau Arumi meminta turun setelah Yudistira tiba tiba menggendongnya.
"Tidak boleh. Ibu hamil tidak boleh terlalu lelah, nanti bayiku bisa kecepean... Jadi, diam dan menurutlah... Paham?" Jelas Yudistira memperingatkan istrinya.
"Tapi mas..."
"Jika masih berontak, nanti aku bisa menciummu lho"
"...Baiklah. Tapi kita mau kemana? Katanya tadi kan mau makan Escream, tapi sekarang malah di gendong" Ucap Arumi menggumam.
"Kita ke kamar, aku ingin mendengarkan bunyi bayi dalam perutmu" Oceh Yidistira.
"Mana mungkin mas. Bayi kita masih sangatlah kecil dan hampir belum terlihat, usianya mau memasuki tiga minggu kok mas"
"Lalu bagai mana caraku tahu jika dalam perutmu ada bayinya?" Tanya Yudistira terus saja penasaran.
"...Kita harus ke bidan atau dokter kandungan"
Yudistira pun mulai diam "Dokter? Kalau begitu ayo kita pergi" Ucap Yudistira memutar langkah menuju ke pintu keluar.
"Mas. Kamu nggak mau makan dulu? Kan kamu lapar?"
"Nggak. Aku nggak jadi makan... Melihat kamu saja aku jadi kenyang kok"
"Dasar'
__ADS_1
Yudistira sungguh berubah 360° ia sungguh menjadi laki laki yang baik dan sangat perhatian pada istrinya... Joe menyiapkan mobil sesuai permintaan Yudistira. Lalu mereka pun pergi ke Klinik Dokter kandungan.
***
"Nah... Tuan, apakah anda bisa melihat nya?" tanya Dokter kandungan yang bernama Surti. Dokter tersebut mengelus elus perut Arumi dengan sebuah alat medis yang di beri cream jelly yang lumer. Sedangkan Yudistira mempokuskan netranya ke arah layar hitam putih di depannya.
"Mana? Tak ada apapun di sana?" Yudistira terus mengerutkan dahinya lalu mencercidkan matanya, namun ia sama sekali tak melihat apapun di sana selain warna hitam dan putih.
"Anda belum bisa melihatnya karna bayi anda sangatlah mungil... Bahkan masih belum terbentuk sempurna"
"Begitu ya. Kapan aku bisa melihatnya? Apakah bulan depan?" tanya Yudistira sungguh penasaran.
"Mas. Sabar... Jangan terburu buru, akan anda saatnya nanti ketika kamu melihatnya secara sempurna. Biarkan dulu dia tidur di rahimku hingga hari kelahirannya tiba" Ujar Arumi lekad bangun dari rebahannya.
"Tapi kapan waktu itu tiba? Aku sungguh tidak sabaran... Aku ingjn segera melihatnya dan menggendongnya. Aku tak bisa bayangkan, sebesar apa bayi yang akan tumbuh di dalam perutmu? Aku sungguh ingin tahu" Cerocos Yudistira.
"Kita pulang? Tapi aku masih ingin mengobrol dengan dokter tentang ke adaan bayiku" Imbuh Yudistira begitu antusias.
"...Tapi dokter masih harus menangani banyak pasien. Sebaiknya kita pulang ya" Pinta Arumi merayu Yudistira.
Lama membujuk Akhirnya Yudistiran pun mau pulang bersama Arumi. Lalu dokter menjelaskan, hal apa saja yang boleh dan tidak boleh di lakukan... Yudistira pun mengangguk sigap seraya mencerna nasihat sang dokter. Obat, Vitamin juga susu sudah Yudistira kantongi... Lalu, Mereka pun pulang...
Di perjalanan...
"Aku lapar sayang" umpat Yudistira meremas perutnya yang keroncongan.
__ADS_1
"Kamu lapar mas?"
"Ia nih... lapar"
"Kamu sih. Tadi aku udah jelasin, makan dulu dong mas sebelum berangkat. Tapi kamu malah nakal sih... Jadi gini deh. Ya udah, kita makan di luar saja?" Tanya Arumi.
"Ya. Kita makan di restoran itu saja" Tunjuk Yudistira, letaknya tak jauh dari Klinik Dokter kandungan itu.
"Tuan Kita sudah sampai" ucap Joe memarkir mobilnya.
"Kamu mau ikut makan joe? Kamu juga belum makan kan?" tanya Yudistira.
"Tidak. Saya sudah makan tadi di kediaman tuan" Jawab Joe sigap. Padahal dia belum makan, tapi karna Joe tak mau mengganggu Date nya tuan muda. Ia pun harus pura pura menahan lapar...
"Ya sudah. Kalau begitu aku akan mengajak istriku makan" Yudistira pun lekas keluar dari mobil itu bersama Arumi.
"Mas. Kamu mau ngapain?" Tanya Arumi. Nampaknya Yudistira sungguh ingin memanjakan Arumi. Hingga Arumi tak di ijinkan berjalan meski sekejap sjaa.
"Mas! Apaan sih. Turunin... Malu' Pekik Arumi meronta.
"Tak akan ku biarkan kamu keluyuran. Nanti kamu tersandung lalu jatuh, gimana coba?" tanya Yudistira pada istrinya.
"Tapi mas. Inikan tempat umum"
"Biar saja, lagi pula kita kan pasangan yang sah. Biarkan saja mereka menatap kita" gerutu Yudistira.
__ADS_1
Jelas saja apa yang Arumi takutkan tadi, seluruh pasang mata yang ada di restoran itu menatap intrents ke arah mereka yang masuk dengan langkah yang harmonis dan romantis.
Hingga membuat siapapun meleleh dan iri pada pasangan itu..