ISTRI kecil Tuan Yudistira

ISTRI kecil Tuan Yudistira
Se'enak madu murni...


__ADS_3

"Apa?! Ini adalah rumahku!" Pekik Ny Rose penuh emosi kala para depcolector mengusir nya dengan paksa.


"Kami sudah memberi tahu anda jauh jauh hari... bahwa rumah ini harus segera di kosongkan! Karna pemilik baru akan segera menempatinya!" Jelas para depcolektor berbadan kekar dan besar.


"Kalian akan ku laporkan pada pihak berwajib! Aku tak pernah menjual seluruh asetku apa lagi rumah ini!" Bantah Ny Rose mengamuk ia terus menerobos ke dalam. Namun terlambat, para preman itu telah lebih dahulu menutup pintu tersebut.


BLAM!


"Buka pintunya! Tolong buka!" Teriak Ny Rose penuh tangisan seraya mencoba meraksak masuk ke dalam rumahnya. Akhirnya karna tak ada tanggapan dari dalam, tubuh Ny Rose pun melorot lemas ke bawah. Ia mulai bersimpuh di bawah pintu besar yang telah menyapanya selama bertahun tahun itu.


"Apa yang harus aku lakukan? Hidupku benar benar hancur seperti apa yang telah di katakan anak sial itu!" Bisik Ny Rose penuh kecewa. Ia sungguh pening, uang cash dan perhiasan yang ia miliki tak akan cukup untuk hidupnya dan Alan, apa lagi anak bungsunya akan pulang karna tak sanggup membayar Study luar negri yang harganya selangit.


"Alan... Ayo bangun. Kita harus pergi" Sahut Ny Rose menepuk punggung Alan.


Sedangkan Alan tak merespon beberapa kali sahutan Ny Rose yang terlontar itu "Alan! Sadarlah! Kenapa kau bisa jadi begini... Arumi hanyalah masa lalu mu nak. Kamu berhak bahagia... Jangan buat ibu makin gila gara gara ulahmu ini nak!" Pekik Ny Rose menggila. Ia menarik rambutnya dan mulai kembali bersimpuh.


Alan memang sangat depresi gara gara Arumi yang di nikahi oleh pria lain. Kini Alan bagaikan cangkang tanpa roh... Ia hanya sibuk melamun... Saat ini Alan yang depresi hanya bisa melamun ke arah langit biru itu tanpa exspresi.


"Alan ayo kita pergi" Ny Rose menarik paksa tubuh alan dan mengajaknya ke sebuah kontrakan kecil yang ia sewa. Ny Rose tak punya ke ahlian lain selain berpoya poya dan hura hura dengan uang hasil memeras keringat orang lain. Hingga kini ia bingung harus mencukupkan uang yang anda di tangannya sebaik mungkin.


***


"Mual!" Pekik Yudistira kembali muntah muntah di wastafel. Arumi panik dan lekas memanggil Dr Denis. Dan lagi lagi hasil diagnosa nya sama sekali tak berbeda "Tuan muda baik baik saja..." Ucap Dr Denis.


"Mana mungkin dok... Setiap hari tuan muda tak mau makan dan selalu muntah muntah. Hingga ia tak bisa bekerja beberapa hari ini" Jelas Arumi sangat panik.


"Jika ini sangat dalurat. Aku akan membuat surat rujukan, lalu bawa tuan muda ke rumah sakit ku untuk penanganan lebih lanjut" Jelas Doktr denis.


"Baiklah... Aku akan segera menyiapkan mobil" Imbuh Joe bergegas.

__ADS_1


"Terimakasih Dokter..." Arumi mulai mengantar dokter itu hingga pintu keluar.


"Oh ia... jangan lupa selalu memberikannya makanan yang manis. Agar kadar gula darah nya tetap terjaga meski ia sedang tidak napsu makan" Jelas Dokter denis.


"Baik... Makasih dok hati hati di jalan" Ujar Arumi seraya melambaikan tangannya.


***


Arumi baru saja membaca doa kala ia mengakhiri ibadah shalat asharnya "Apa yang sedang kamu doakan?" Tanya Yudistira mengagetkan Arumi. Arumi lantas bangun dan menghampiri pria itu yang mash terbaring rapuh di ranjang.


"Mas... Apakah sudah agak baikan?" Tanya Arumi sedikit lega.


"Apakah aku akan mati?" Tanya Yudistira sontak membuat Arumi terbelalak.


"Astagfirullah... Jangan begitu mas... Ayo semangat... Kita akan segera ke RS dokter denis" ujar Arumi. Yudistira menggelengkan kepalanya "Tidak mau... Aku mau di sini dan memakan masakanmu setiap hari" tolak Yudistira.


"Tapi mas... Keadaan mu sangat menprihatinkan. Apapun yang mas makan akan keluar lagi... Aku takut terjadi sesuatu padamu mas" Cemas Arumi.


"Aku mau makan makakanan manis dingin..." Pinta Yudistira. Arumi mulai tergesa gesa ke dapur dan membuatkannya semangkuk Es krim tanpa berpikir panjang "Nona... Apa itu?" Tanya Yolla. Yola menghadang langkah Arumi ketika ia hendak keluar dapur.


"Ini adalah eskrim untuk Mas Yudistira..." Bals Arumi seraya menatap eskrim yang tampak manis itu.


"Wah... Rasanya ingin mencicip sesuap saja" Gumam Yolla seraya mengacungkan jemarinya hendak mencoel es tersebut.


"Benarkah?" Tanya Arumi.


"Aku mau... Boleh?" tatap Yolla pada Arumi dan kembali berselera pada eskrim itu.


"Aku membuatnya agak banyak, jadi ambilah di kulkas" Jelas Arumi. Akhirnya Yola yang hendak mencolek eskrim itu pun mulai menyerah.

__ADS_1


"Begitu ya..." Yola mengangkat tubuhnya dan membiarkan Arumi pergi. Ia mulai menyungingkan bibirnya dan menyiku eskrim di tangan Arumi hingga nyaris jatuh.


"Hati hati!" Pekik Joe meraih segelas Eskrim yang hendak jatuh itu dan membantu Arumi menyeimbangkan tubuhnya.


"Ah joe... Untung saja..." Lenguh Arumi menghelan napas lenganya.


"Syukurlah anda baik baik saja" Joe mulai mendelik ke arah Yola tajam.


"Ah... Nona maaf aku tidak sengaja..." Yola langsung pergi kala Joe menatap Yola dengan tatapan yang penuh rasa curiga.


"Nona silahkan pergi..." Pinta Joe. Arumi mengabaikan Yola dan Joe karna arumi tak punya pikiran lain. Ia pun lekas melangkah ke kamar Yudistira. Sedang Joe berusaha menghakimi Yola dengan beberapa pertanyaan nya.


***


"Bagai mana? Apakah anda suka Mas?" Tanya Arumi menatap Yudistira yang begitu lahap kala menyantap eskrim buatan Arumi.


"Ngh... Ini seenak madu murni... Aku suka" Yudistira sudah lama tak makan karna ia mulai benci pada nasi dan sayur kesukaannya. Kini ia jadi lebih suka eskrim buatan Arumi saja.


"Syukurlah..." Arumi tersenyum kala Yudistira terlihat lebih baik...


"Aku mau lagi..."Pinta Yudistira...


"Baiklah mas akan aku ambilkan..." Arumi kembali ke dapur untuk mengambil pesanan yang di inginkan tuan muda...


"Sejak kapan kamu menyukai Tuan muda?" Tanya Joe menekan Yolla. Tak sengaja Arumi mendengarkan pertanyaan Joe yang terasa menyudutkan Yolla.


"Cepat jawab!" Bentak Joe makin menekan Yolla.


"Untuk apa kau tahu, jika aku benar benar menyukainya... Apa yang akan kau lakukan!" Lantang Yolla balik menekan Joe.

__ADS_1


PYANG! Seketika, mangkuk eskrim yang di pegang Arumi jatuh begitu saja hingga membuat suasana mulai tegang.


Astagfirullah bisik Arumi membungkam bibirnya sendiri dengan nanar panik seakan tak mempercayai apa yang saat ini di dengarnya.


__ADS_2