
***
Arumi mulai menyapa para kru yang terlibat dalam sebuah rancangan peluncuran model terbaru produk dari perushaan The Angel Mobile.
"Selamat malam... Maaf membuat anda semua menunggu. Tuan muda akan segera turun, jadi mohon kerjasamnya" Arumi pandai dalam menyusun kata dan selalu interaktif kala bicara. Hanya dengan tatapan Yudistira yang kejam, seluruh kata dalam tenggorokannya yang hendak meluncur itu terhalang sesuatu dan ia jadi bisu.
"Eh... Maaf. Tapi... Kami sudah menunggu satu setengah jam..." Aska mulai berkomentar, Aska sedikit cemburu pada wanita itu hingga ia tak kerasan saat ada di kediaman tersebut dan tergesa-gesa ingin pulang.
"Hei. Aska... Jangan norak deh, kalau kau mau pulang... Bicaralah dengan jelas jangan nyeloteh aja sih" Kruss berkomentar demikian. Tatapan Krus sangat intrents terhadap Arumi dan membuat Arumi tidak suka.
"Heh... Kalian seperti bocah. Diam dan tunggulah, kita kan sedang bekerja... Meski pulang terlambat, tuan Yu akan tetap membayar upah lembut kita" Jelas Alex sangat tenang kala mendapat situasi seperti demikian.
"Silahkan tunggu beberapa saat lagi..." Arumi mulai membalikan langkahnya untuk kembali ke kemar Yudistira dan mengbarkan hal tersebut padanya.
"Tunggu..." Kruss memegang tangan Arumi dan menahannya.
"Lepaskan! Jangan sentuh aku!" Bentak Arumi berusaha melepaskan tangan Kruss darinya.
"Kruss apa yang kau lakukan? Lepaskan dia, kamu sungguh tidak sopan..." Bentak Alex mengingatkan.
"Ia Kruss. Jika tuan Yu tahu kau kurang ajar padanya, kau bisa mampus!" Komen Aska, meski ia tak suka pada Arumi... Tapi, ia lebih tak suka lagi jika Kruss mendapat masalah... Mau bagai mana lagi, tim akan sulit menyelesaikan proyek itu jika Kruss di depak tuan muda.
"Lepaskan!" Arumi berontak dan menarik tangannya.
"Aku sungguh iri padamu. Bagai mana bisa, hanya wanita sepertimu saja... Sudah membuat tuan Yu bertepuk lutut di bawah kakimu... Sebenarnya apa hubungan mu dengannya?" Tanya Kruss langsung ke intinya. Arumi sangat jijik pada pria itu hingga ia memberanikan dirinya untuk menendang kaki pria itu kuat-kuat.
BUK! Aaakhh! Kruss terpekik. Dan dua anak buah Yudistira terbelalak.
__ADS_1
"Jangan kurang ajar! Anda tak punya hak untuk bertanya masalah privasi dengan ku! Dasar tidak sopan..." Bentak Arumi lekas memutar arah langkahnya.
Aska terbelalak "Aahhh... Wanita tangguh..." Pekik Aska terpesona.
"Waw. Amaging... Tak ku kira, ada seorang wanita yang berani memperlakukan tuan penggoda ini sangat kejam... Hmnnp! Ahahahahahha..." Alex tertawa lepas hingga terpingkal-pingkal.
"Ada apa ini?" Tanya Yudistira membekukan langkah Arumi.
"Apa yang sedang kalian tertawakan?" Tanya Yudistira. Yudistira sangat benci hal-hal yang terdengar baik, lucu dan cantik. Ia sangat benci orang tertawa atau tiba-tiba terkekeh. Dalam dunia suramnya, ia hanya hapal benci dan penderitaan.
"Ah maaf tuan... Kami sedang membahas sketsa ponsel canggih ini..." Ujar Kruss memijat-mijat kakinya yang terasa sakit.
"Ada apa dengan kakimu?" Tanya Yudistira dingin.
"Ah ini... Aku hanya keseleo..." bohong Kruss mencari alasan, Netranya mendelik seraya menatap Arumi tanpa mengalihkan pandangannya. Yudistira tak bisa di bohongi, karna ia melihat dengan jelas bahwa, pria itu telah kurang ajar pada istrinya.
Meja makan telah tertata dengan begitu rapi dan cantik...makanan dari berbagai jenis ada di meja itu. Salah satu makanan kegemaran Arumi pun ada di sana dan membuat perutnya begitu lapar hingga berselera rasanya.
Wah, tidak biasanya lauk di meja makan begitu penuh. Apakah karna, ada tamu jadi hidangannya begitu istimewa. Bathin Arumi menggumam.
Yudistira mulai duduk...
"Silahkan duduk tuan-tuan..." Ujar Joe. Sedangkan Arumi masih berdiri di samping Yudistira.
"Apa yang kau lakukan... Lekas duduk" Pinta Yudistira pada Arumi. Arumi yang kaku pun mulai duduk di samping Yudistira.
Tiga Kru Yudistira pun duduk berhadap-hadapan di meja maka panjang itu.
__ADS_1
"Silahkan... Tuan-tuan..." ucap Joe. Para pelayan di rumah itu mulai bekerja, mereka melayani para tamu itu dengan baik. Jamuan makan malam itu sungguh tak biasa terjadi di kediaman itu. Hanya kali ini saja, begitu banyak hidangan di meja makan tersebut.
'Apa yang kau lihat... Cepat, layani aku..." Ucap Yudistira di hadapan teman-temannya. Arumi sungguh malu, ia pun lekas menyingkup nasi seperti biasa dan menaruhnya di piring. Ia isi lauk berupa cumi goreng, dan ayam bakar...
"Tuan... Silahkan, buka mulutmu..." Arumi sudah menyingkup lauk dan nasi. Arumi menyuapi Yudistira dengan sepotong goreng cumi.
Namun, Yudistira hanya diam dan tak mau membuka mulutnya. Ia hanya menatap cumi goreng itu dan melamun sesaat "Tuan, ayo buka mulutmu..." Pinta Arumi lagi.
Tiga pria yang ada di kediaman itu sungguh kaget, kala melihat postur tubuh tegap dan kekar itu terlihat seperti bayi besar yang konyol. Hingga ia tak mampu menggunakan ke dua tangannya.
"Tuan... Apakah anda baik-baik saja?" Lagi-lagi Arumi bertanya. Yudistira tetap diam. Tak lama kemudian, Yudistira menatap Arumi tajam dan lekas mengambil alih piring di depan Arumi "Biar Aku saja!" Ucapnya.
Yang lain pikir, Yudistira akan makan sendiri, tapi ternyata... Yudistira hendak menyuapi Arumi "Biar aku saja yang menyuapimu..." Ucap Yudistira dengan senyuman menyunging.
Arumi paham betul kala melihat senyuman buas tersebut, Yudistira pasti tengah marah "Ayo. Buka mulutmu..." Arumi ragu, untuk membuka mulutnya, ia masih trauma... Sebab, bubur panas yang memaksa masuk ke mulutnya masih tergambar jelas dan enggan hilang begitu saja.
"Ayo... buka mulutmu" Ulang Yudistira berusaha membujuk Arumi untuk membuka mulut yang telah ia kunci itu.
"Tuan Yu. Siapa wanita ini? Anda terlihat begitu menyayanginya?" Tanya Kruss begitu ingin tahu.
"Joe jelaskan padanya..." Pinta Yudistira mendelik tajam ke arah Kruss dan membuatnya membatu.
"Tuan. Tatak rama dalam jamuan makan... Anda tidak di perbolehkan bicara atau bercengkrama atau bertanya. Cukup suara dentingan sendok dan garfu yang boleh terdengar meski harus pelan..." Jelas Joe. Kruss mulai mendengus kesal dan kembali melanjutkan makannya. Tatapan kesalnya terlihat dengan jelas kala itu.
Yudistira yang kesal mencubit tangan Arumi hingga Arumi pun berdegup, ia dapat kode bahwa tuan tersebut telah murka.
"Buka mulutmu..." Pinta Yudistira untuk yang ke tiga kalinya.
__ADS_1
Akhirnya mau tak mau, Arumi mematuhi pria itu. Kini, Yudistira menyuapi istrinya dengan begitu lembut di hadapan para rekan kerja sekaligus sahabatnya meski bukan sahabat baik.