
***
Yudistira dan Arumi masuk ruang kerja yang seharunya tak di masuki siapapun. Yudistira mengajak istrinya dan ingin meminta maaf di sana, sebab tempo hari ia telah memaki istrinya di dalam ruangan itu.
Setelah pintu ruangan itu di tutup bola mata Yudistira pun mulai memutar tigaratus enam puluh derajat. Ia seakan tak percaya pada apa yang telah ia lihat saat ini...
"Apa yang terjadi di sini?" Bisiknya melotot menatap tatanan ruangannya yang terasa berbeda.
Arumi menunduk dan membungkam mulutnya rapat rapat. Ia tak ingin Yudistira kembali marah padanya. Apa lagi saat ini mereka baru saja saling membuka hati mereka masing masing.
Bibir Yudistira mulai berkecap dengan geteran ringan "Siapa yang sudah masuk ke ruangan ku sembarangan begini?! Ini pasti Joe!" Cecah Yudistira mengepalkan tangannya. Arumi sadar jika dirinya terus bungkam maka Joe pasti dalam masalah besar.
"T-tunggu... Se-sebenarnya...." Arumi lantas meraih tangan Yudistira yang telah mengepal itu dan berusaha menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
"Kenapa?" Tanya Yudistira menoleh ke arah istrinya.
"Ini salah ku... Mas, jangan marahi Joe... Ini semua adalah salahku..." Gerutu Arumi.
Yudistira heran pada apa yang di katakan istrinya "Apa maksudmu?" Yudistira terus menatap nanar Arumi yang begitu gelisah.
"Sebenarnya Joe sudah melarang ku masuk mas. Tapi... Aku tetap saja masuk lalu membersihkan perabotan di dalamnya. Karna ku pikir, jika ruangan ini tak di bersihkan maka mas akan sakit... Jadi aku..." jawaban Yudistira di Slot begitu saja oleh sebuah kecupan ringan. Arumi terbelalak kala pria itu mulai melu+mat bibirnya secara tiba-tiba. Apa lagi karna tergesa gesa Arumi tak sempat memakai cadarnya.
Yudistira melepas kecupan itu lalu menatap Arumi sayu "Hemmmm... Kau adalah wanita paling membingungkan" Bisiknya mulai mengangkat tubuh Arumi dan mendudukannya di atas meja kerjanya. Sedangkan ia tetap berdiri lalu menatap Arumi dalam dalam. Wajah Arumi basah dan merah karna malu...
"Sebenarnya aku ingin marah... Tapi, karna kamu yang melakukannya. Aku hanya bisa berkata... Terimakasih sayang" Tuturnya seraya tersenyum ringan tanpa beban. Arumi amat terharu kala menatap senyuman suaminya yang begitu indah kala senyumannya terbit dan menghiasi wajah tampan nya itu.
"Alhamdulilah... Syukurlah jika Mas tidak marah... Saya sangat bersyukur" Imbuh Arumi mulai menyeka air mata harunya. Mereka pun saling bertatapan dan saling melemparkan senyum manis...
"Kamu adalah istriku yang paling istimewa... Jangan sampai kamu kabur atau meninggalkanku ya..." Jelas Yudistira mencubit hidung istrinya. Arumi menggelengkan kepalanya "Aku pun bersyukur punya suami baik dan tampan sepertimu. Jadi aku sungguh tak berhak pergi dari mu mas... Kecuali kamu yang memintanya" Bals Arumi. Yudistira amat terharu dan ingin sekali mendekap istrinya yang penurut itu se erat mungkin.
"Oh ia... Sayang kamu sudah buka kado dariku?" Tanya Yudistira pelan seraya tampak malu.
__ADS_1
Arumi pun seketika menghapus senyumnya dan ia pun mulai terdiam, ia memang sudah membuka kado dari suaminya itu. Tapi ia sungguh lupa di mana ia menyimpan ponsel tersebut.
"Mh aku... " Bimbang Arumi mencari alasan. bola matanya sungguh jeli dan tak ingin bertatapan dengan pria di depannya itu.
"Apa maksud jawabanmu itu aku sungguh tak paham?" Yudistira sedikit berkomentar.
"Sebenarnya..." Arumi hendak membalas namun ketukan pintu keburu membuyarkan kecurigaan Yudistira.
"Siapa?" Tanya Yudistira mendelik ke arah pintu. Padahal ini lagi manis manisnya bisik Yudistira dalam hatinya.
"Saya tuan muda..." Seru joe dari luar sana.
"Ya Joe. Ada apa..." Tanya Yudistira enggan beranjak dari posisi itu.
"Sebaiknya Mas datangi saja dulu Joe. Agar jelas... Siapa tahu ada info yang penting" Jelas Arumi menasihati suaminya.
"Hm... Mengganggu saja" Gerutu Yudistira tak senang.
Joe masuk dan mulai berdiri di depan Yudistira "Ada masalah apa Joe?" Tanya Yudistira dengan nada sinis.
"Tuan... Tuan Alex dan tuan Aska menjenguk anda. Mereka tampaknya khawatir pada keadaan anda..." Jelas Joe.
"Mau apa sih mereka kemari?" Gumam Yudistira kesal.
"Mas. Sebaiknya temui saja dahulu mereka... Tak baik bersikap dingin pada para tamu..." Komen Arumi. Karna Arumi yang meminta, tanpa banyak bicara... Yudistira pun mulai mengindahkan penjelasan Joe.
"Baiklah aku akan menemui mereka" Ucap Yudistira mulai berdiri.
"Tampaknya, hanya mereka berdua tuan..." Jelas Joe.
"Berdua? Mana si pirang? Apakah dia tak ikut datang menjengukku?" Tanya Yudistira mendelik ke arah Arumi dengan ekor matanya yang tajam itu.
__ADS_1
"Kata tuan Aska. Kruss sedang sakit... Ia malah di rawat di Rs terdekat" Jelas Joe. Entah kenapa mendengar kabar buruk yang menimpa Kruss Yudistira malah menyungingkan bibirnya seakan puas. Padahal Joe belum memberikan Vidio pelecehan Kruss pada Arumi beberapa hari yang lalu. Tapi tampaknya Kruss sudah mati kutu karna ketakutan.
Blam...
Mereka pergi... Arumi pun mulai kembali membersihkan ruangan itu sebelum ia meninggalkannya.
***
"Tuan muda... Anda sudah baikan?" Tanya Alex membungkukan tubuhnya kala menyapa tuan rumah itu.
"Ya. Aku sudah baikan, mulai besok aku akan kembali ke kantor" Jelas yudistira sembari menyender ke sofa dan membuat tubuhnya senyaman mungkin.
"Syukurlah..." Aska menghelan naps panjangnya.
"Kemana satu lagi rekanmu Aska?" Tanya Yudistira menatap kursi di sebelah aska. Biasanya Kruss memang selalu duduk di tengah-tengah Alex dan Aska.
"Oh. Kruss... Dia sakit, dua hari ini dia tak masuk ke kantor" Jelas Aska.
"Begitu ya... Sayang sekali" Geleng Yudistira basa basi. Padahal hatinya amat puas.
"keadaan kantor sangat baik. Dua hari lalu kita dapat tender besar tuan muda... Dan kami sedang memantau lokasi untuk mulai menjalankan proyek baru ini" Jelas Alex penuh perhitungan.
"Kau memang hebat. Jika ada file penting yang harus aku tanda tangani... Berikan saja pada Joe. Maka aku akan mengoreksi sebelum menandatanganinya..." Jelas Yudistira.
Aska pun mulai mengeluarkan beberapa tumpuk berkas dan menyerahkannya pada Joe. Setelah mereka selesai berdiskusi seraya menengok... Mereka pun pulang dengan sedikit tergesa-gesa.
Nampaknya ada yang Alex cari di kediaman Yudistira. Alex sangat tertarik pada pelayan Yudistira yang paling muda dan terlihat cantik di matanya itu. Nampaknya itu adalah Yola... Alex tertarik pada gadis tersebut.
"Ya hati hati..." Lambai Yudistira mengantar sampai pintu besar. Alex dan aska masuk mobil dan mereka pun menghilang di balik gerbang besr kediaman tersebut.
"Haaah. Besok aku tak bisa bermesraan siang siang dengan istiku karna aku sibuk bekerja... Sungguh merepotkan" Gumam yudistira terdengar jelas oleh Joe. Joe pun tersenyum karna ia sangat senang... Bagai mana pun juga... Hal ini lah yang di inginkan Joe selama ini...
__ADS_1