
***
"Joe..." Seru Yudistira yang baru bangun dari lelapnya. Joe lekas menghampiri pria itu "Ya tuan..." Balas Joe sigap masuk ke dalam kamar itu lalu menghadap.
"Mana wanita itu?" tanya Yudistira memutar bola matanya di sekeliling kamarnya. Nampaknya pria itu mencari Arumi, namun nampaknya netranya sama sekali tak dapati wanita tersebut di area kamarnya itu.
"Nona muda..." Joe seakan ragu untuk menjawabnya.
"Nona muda? Kenapa tidak di lanjutkan?" tanya Yudistira mulai curiga pada jawaban Joe. Ia mulai berangan-angan...
Apakah wanita itu pergi ke kediaman Anggara tanpa seizinku!? Bentak Yudistira dalam hatinya.
"Tuan. Jadwal anda hari ini sangat padat, apa lagi nanti siang... Akan ada launcing perdana peluncuran gadget pintar inovasi baru perusahaan anda..." Jelas Joe.
"Omong kosong! Wanita itu pergi ke pemakaman kluarga Anggara tanpa izin dariku? Akan ku hukum dia sampai kaki dan tangannya patah!" Bentak Yudistira mengabaikan penjelasan Joe dan lekas menggebrak matrasnya penuh emosi. Ia pun bangun dari matrasnya dengan sangat kesal dan pergi ke area bathroom. Pria dingin itu mengabaikan Joe yang masih berdiri terpaku di depan ranjang megah tersebut.
"Eeeh... Tuan, anda salah paham... Sebenarnya nona Arumi..." Joe hendak menjelaskan tapi Yudistira sama sekali tak perduli. Ia amat emosi pada Arumi hingga menutup pintu kamar mandi itu begitu keras hingga membuat Joe amat sangat terkejut.
BLAM!
"T-tuan..." joe amat pucat pasi kala tuannya mulai kembali ke mode ganasnya.
***
"Sial! Lihat saja, setelah aku membersihkan diri, akan ku buat dia menyesal karna pergi tanpa seizinku. Dasar wanita sial!" Gerutu Yudistira seraya berjalan mendekati Bathtub yang saat itu tertutup tirai kamar mandi. Ia pun menyibatnya dengan sangat kesal. Namun, tatapannya membulat seketika itu...
"Kau..." pekik Yudistira membulatkan bola matanya lebar-lebar. Arumi yang sibuk membenahi handuk untuk menutupi tubuh putihnya yang molek itu pun mulai mendonggakan wajahnya ke arah Yudistira dan seketika itu ia pun menjerit "A-Aaaahhhh! MESUM!!" Pekik Arumi sekencang mungkin. Yudistira panik dan lekas meraih mulut wanita itu dan membuangkamnya.
"Wanita sial! Apa yang kau lakukan!" Pekik Yudistira mulai mencengkram mulut Arumi erat hingga Arumi mengerang "Mmmhhh..." Erangnya. Beberapa kali Arumi bernada demikian dan membuat Yudistira jadi bodoh.
__ADS_1
"Sial... Kenapa kau malah teriak! Lagi pula apa yang kau lakukan di kamar mandiku?' Tanya Yudistira menggerutu atas hal kecil saja.
"Mmmhh...' Hanya itu jawaban yang Arumi lontarkan, sebab tangan Yudistira begitu kuat kala mencengkram bibir tipis itu.
"Sial. Kau sama sekali tak menjawabku dan malah mengolokku..." Cemooh Yudistira enggan melepaskan tangannya itu. Lalu Arumi pun mulai menyentuh tangan Yudistira yang sibuk membungkamnya itu. Perlahan tangan Yudistira turun sedikit demi sedikit.
"Hosh! Hosh! Hosh!' Napas Arumi tersenggal dan wajahnya yang basah itu mulai pucat karna bungkaman keras Yudistira.
Suara Arumi yang terengah sangat aneh kala terdengar oleh telinga Yudistira, ada sensasi tertentu yang mulai menjalar ke hati pria itu
"T-tuan, anda... Hampir membunuh saya" ucap Arumi masih menggenggam tangan Yudistira yang saat itu telah membungkamnya. Ia memejamkan matanya dan mulai mengatur pernapasannya.
Pikiran Yudistira mulai tercemar... Penglihatannya terasa jernih kala menatap wajah Arumi yang cantik dan merona dengan bibir yang merekah seakan menggodanya. Rambut yang lurus hitam panjang tergerai basah... Dan sebalut handuk putih yang menutup sedikit tubuhnya hingga dadanya seakan terbuka, bahkan ada sebuah belaahan jurang di antara ke dua gunung mulus itu. Pandangan Yudistira tiba-tiba turun ke arah sana dan menatap dua gundukan kembar putih itu yang tersembunyi di balik sebalut handuk.
Deg! Deg! Deg! Jantung Yudistira kembali berdegup kencang seakan hendak meledak lagi.
"Ahhh! Pekik Arumi, handuk tipis putih itu melorot dan Arumi merusaha meraihnya. Degh! Di sanalah, Yudistira mulai tak tahan dan lekas meraih tangan Arumi yang hendak meraih handuk itu.
Yudistira menyaksikan pemandangan yang tak pernah ia lihat sebelumnya, wanita yang selalu memakai pakaian gamis panjang dan kerudung syar'i itu tampak sangat berbeda dan begitu menggoda. Ketika ia terlihat polos tanpa sehelai benang, otak Yudistira mulai kotor dan tak bisa di hentikan lagi...
"T-tuan... Asatagfirullah... Saya sangat malu!" pekik Arumi berusaha menarik ke dua tangannya yang telah di tahan pria dingin itu. Yudistira mulai mengambil alih dan menyeret Arumi ke dinding, ia mulai menghimpit tubuh Arumi dan memaksa Arumi untuk berciuman dengannya.
"Mmmhhh!" Yudistira berhasil mengecup binir itu dan mulai bermain-main. Ini bukan pertama kali untuknya, tapi bagi Arumi suasana trsebut terasa sangat menakutkan.
Cup! Yudistira mengulang kecupan itu beberapa kali dan meminta balasan kecupan dari Arumi, namun Arumi tak seperti yang di pikirkan Yudistira. Hingga Yudistira terus bermain dengan kecupannya juga mengulang lu-matan bibir itu beberapa kali. Lidahnya mulai memaksa masuk ke dalam mulut Arumi yang terkunci rapat itu. Ia mulai mengelus gigi Arumi dan menarik bibir bawah itu.
"Mmmhhh...." Geram Arumi sesaat terasa hanyut. Aroma Tubuh Arumi sangat membuat Yudistira makin bersemangat, ia memejamkan matanya seakan menikmati sebuah permainan ciuman hangat di pagi beku itu.
Yudistira masih melakukan pemanasan dengan kecupan saktinya. Dan perlahan, ia mulai melanjutkan kecupannya di area pipi Arumi. Ia mengesek-gesekan hidung mancungnya di pipi Arumi yang wangi kasturi itu. Dan turun, turun lalu turun lagi hingga ke leher mulus jenjang Arumi yang putih bersih itu. Tak lupa, Yudistira menyematkan sebuah kecupan tanda ke pemilikannya di sana.
__ADS_1
Chuuup!...
"Akh... Sakit..." Pekik Arumi. Yudistira seakan tersenyum saat ia simak bahwa tanda yang ia buat di leher Arumi tergambar jelas dan begitu indah.
Ia mulai turun ke bawah dan lebih bawah lagi... Yudistira mulai meraih tangan Arumi dan melingkarkannya di pundaknya... Ia mulai terobsesi pada dua gunung kembar beser yang begitu sintal dan kenyal... Bulat dan terawat, itu menjadi bukti bahwa... Arumi masih sangat terjaga dan terawat sempurna.
"Aku suka bagian ini..." Ucap Yudistira seraya meremas keduanya dan berdandar di antara gundukan kembar itu.
"Uuhhh... T-tuan, hentikan..." Desah Arumi tak tahan kala Yudistira memainkannya seperti meremas bola karet saja.
Ia mengecupnya dan beberapa kali meninggalkan Kiss Mark di sana... Saat ia mulai melihat ke tidak berdayaan Arumi... Yudistira mulai beraksi dengan melepas pakaiannya hingga ia pun tampak polos.
Yudistira sudah siap untuk bermain keluar masuk...
"Kau sangat cantik..." Bisiknya seraya menyeka wajah Arumi yang merona merah itu. Niat Yudistra adalah bermain dalam posisi berdiri... Tapi, nampaknya ia harus menahan ke inginan biologisnya itu sesaat kala ketukan pintu membuyarkan ke keinginan dewasanya itu.
TOK! TOK! "tuan! Apakah anda baik-baik saja?" Teriak Joe bersiap di balik daun pintu.
Degh! Yudistira yang hendak memulai pun mulai membelalakan matanya lebar lebar "T-tuan... Joe memanggil anda" Ucap Arumi malu pada pria di depannya itu. Ia mulai menutup dadanya dengan membelitkan tangannya hingga tubuhnya tersembunyi di balik dua sikut runcing Arumi.
"Ssssh sial! Kenapa mereka selalu mengangguku saat aku hendak memulai ini!!" Bentak Yudistira seraya memukul dinding di samping leher Arumi. Arumi sangat kaget karna pukulan pria itu hampir saja mengenai wajahnya. Bergeser beberapa mili saja, habislah wajah Arumi.
"Tuan! Jika anda tak menjawab... Saya akan mendobrak pintu ini dengan paksa" Tambah Joe.
"Aaahhh! Sial!" Yudistira mulai dengus kesal lalu membuang wajahnya muak.
Ia meraih handuk kimono nya dan mulai melangkah ke arah Joe. Nampaknya Yudistira akan mengamuk pada Joe karna dia telah menganggu ke senangan sang tuan muda Arogan itu...
"Joe! akan ku potong Gajihmu bulan ini dan lima bulan ke depan!!" Teriak Yudistira uring uringan...
__ADS_1