
***
"Sial!" Pekik Ny Rose membuang seluruh berkas di tangannya.
"Nyonya... Jika begini terus, perusahaan akan benar-benar bangkrut!" Ujar penasihat kluarga Anggara Wijaya.
"Heh! Bagai mana ini semua bisa terjadi?!" Racau Ny Rose memegangi kepalanya seraya menghempas tubuhnya ke kursi empuk di sampingnya.
"Lalu... Kita harus bagai mana? Kita tak mampu membayar karyawan dengan ke adaan perusahaan yang seprti ini nyonya" Usik penasihat membuat kepala Ny Rose makin pening.
"Hhhaaaahhh! Leon! Bagai mana dia bisa mengkorupsi seluruh uang perbangkan! Teganya dia! Bahkan, kuburan ayahnya pun belum kering sama sekali... Tapi dia sudah membuatku susah!" tangis Ny Rose pecah. Seluruh uang yang ada di perusahaan lintah daratnya habis di kuras anak ke dua kluarga Anggara sehari setelah ayahnya di semayamkan.
"Jika kita tak bisa membayar hutang perusahaan... Maka terpaksa rumah besar dan segala aset akan di sita bank..." Jelas sang penasihat perusahaan.
"tidak! Aku pasti akan mencari jalan keluar..." Pekik Ny Rose. Nasib sial bagi kluarga Anggara, kini... Apa yang di cita-citakan Yudistira terkabul satu persatu. Entah itu takdir atau hukum alam yang berlaku. Sebab, karna kekayaan yang mereka miliki, Kluarga Anggara tubuh menjadi kluarga yang sombong dan tak pernah menghargai orang miskin juga betapa berharganya nyawa seseorang. Bahkan, Ayah ibu juga kakak laki-laki Arumi pun berakhir di tangan kluarga tersebut.
Saat situasi sedang pening-peningnya. Ponsel nyonya Rose pun berdering "Hallo..." Ny Rose tak sempat melirik siapa yang sedang menelponnya itu.
"Mama! Apa yang mama lakukan pada seluruh kartu kredit ku?" Teriak suara seorang gadis yang manja dan sedikit serak serak basah.
"Astaga Ansel... Apa yang kamu katakan? Kenapa kamu menelpon dan membentak mama begini nak?" tanya Ny Rose sedikit tak nyaman.
"Mama sengaja memblok seluruh kartu debit dan kreditku? Aku jadi tidak bisa belanja nih mah!" Amuk Ansel.
__ADS_1
Ya Ansela Monicca Anggara Wijaya adalah anak bungsu Kluarga Anggara Wijaya yang sekolah di americca.
"Ansel! Mama sedang pusing sekarang! Tolong jangan ganggu mama!" amuk Ny Ros mulai menutup ponsel tersebut.
"Tapi mama!! Pip!' Ponsel di matikan seketika itu "Tuan Carlos! Bagai mana bisa kartu debit dan credit anakku di blok? Apakah pihak bank sedang mempermainkan ku?" tanya Ny Rose marah.
"Sepertinya kita harus segera mengurus semua ini ke pihak bank..." ujar sang penasihat. Akhirnya dengan kepala panas bah meladak-ledak. Ny Rose pun menyambar tasnya dan lekas pergi ke bank kepercayaan kluarga Anggara bersama penasihat tersebut.
***
"Tuan... Ayo makan..." Ujar Arumi membangunkan Yudistira yang tadinya terlelap di sampingnya "Lho kamu sudah bangun?" tanya Yudistira sedikit terperanjat kaget. Bagai mana pria itu tak kaget, baru saja membuka mata. Arumi sudah ada di hadapannya dengan pakaian yang berbeda padahal sebelumnya, Arumi tampak terlelap di sampingnya tadi.
"Apakah anda lapar? Biar saya suapi..." Pinta Arumi menyodorkan tatakan berisikan sup buntut kesukaan Yudistira.
"Ini. Ini Sop buntut... Ini adalah sop kesukaan tuan, apakah anda tidak berkenan?" tanya Arumi sedikit mengelak. Yudistira mulai melepas cubitan hidunngnya dan mulai mengendus "Oek!" Ia mulai menutup hidungnya dan lekas berlari ke dalam bathroom. Ia tampak nya muntah muntah di wastafel.
Arumi berlari dan menghampirinya "Tuan. Apakah anda baik-baik saja?" tanya Arumi sedikit khawatir.
CRUUUUSSSS! Ia mulai membersihkan wajahnya dan mulai mematikan air tersebut.
"Kenapa... Masakanmu terasa tidak mengenakan. Baunya saja membuat ku mual!" Ucap Yudistira gemetaran dan merasa ingin muntah lagi.
"Kalau anda masih tidak enak badan. Biar saya yang panggilkan dr Denis!" Pekik Arumi berusaha berlari keluar untuk memanggil Joe agar ia mau menelpon Dr Denis ke kamar Yudistira.
__ADS_1
"Tunggu!" Ucap Yudistira seraya memegang tangan Arumi.
GREP!
Arumi menoleh ke arah Yudistira, mereka mulai bertatapan satu sama lain "T-tuan... Biarkan saya panggilkan Joe agar ia menelpon Dr Denis untuk memeriksa anda" Ucap Arumi masih mematap nanar Yudistira yang tampak berbeda. Tatapan Yudistira yang seperti itu, Arumi sudah tahu. Bahwa Yudistira memang menginginkan jatah dari Arumi...
Yudistira mulai merenggut pinggang Arumi dan menariknya laku mendekapnya di dadanya "T-tuan... Apakah anda baik-baik saja" Wajah Arumi memerah kala Yudistira mulai menggodanya lagi. Perlahan, Yudistira membuka cadar tipis yang Arumi kenakan. Dan ia pun mulai dengan sebuah Lu-ma-tan kecil di bibir Arumi dan melapaskannya.
"T-tuan... Ini... Ini kan di kamar mandi' Gumam Arumi membuang wajahnya. Yudistira lekas merenggut pipi Arumi dan mengalihkan pandangan Arumi ke hadapannya "Jangan menghidariku lagi!" Ucapnya seraya mulai menyender di kerudungnya dan mencium betapa wanginya parfum Arumi yang semerbak.
"Aku sangat mendambakannya..." Bisik Yudistira mulai menarik pelan krudung Arumi dan melepaskannya.
Perlahan jemari lentik itu mulai nakal dengan membuka beberapa kancing baju Arumi. Sementara Arumi yang masih gugup karna tak berpengalaman pun hanya diam memeatung hingga membuat Yudistira tak nyaman.
Yudistira mulai membuka pakaian Arumi yang panjang bah jubah itu. Ia mulai merasakan sebuah kehangatan kala dua telapak tangannya terhenti di dua gunung kembar... Lalu menyentuh bulir emoy yang montok dan bulat itu.
Sesuatu mulai merambat di hatinya yang makin panas itu. Napas Yudistira mulai memburu, naluri liarnya mulai merakak di pikirannya. Ia sangat nyaman kala menyentuh lalu meremas dua apel cantik itu lembut.
"Sssshhh... Sakit tuan, jangan di remas..." Bisik Arumi sedikit melenguh seakan ia pun mengiginkannya.
Yudistira yang mendengarkan desaha-an itu pun mulai menyematkan wajahnya di dua gunung kembar itu lalu meng-hisap salah satu pucuk gunung tersebut pelan dan karna gemas ia pun menggigitnya "Aahk... Astagfirullah... Tuan, tolong hentikan sakit..." Gumam Arumi. Yudistira yang merasa bahwa istrinya itu kurang nyaman pun mulai menarik wajahnya dan kembali mencium bibir Arumi lembut. Mereka berpaut ciuman satu sama lain lalu melepaskannya lagi. Yudistira beberapa kali melakukan nya hingga Arumi terbiasa, kini ciuman Yudistita makin dalam hingga mengabsen satu persatu gigi Arumi dengan lidahnya yang nakal dan lincah itu.
"nggh!" lenguh Arumi seakan kesesaakan oleh ciuman Yudistira yang memburu dan Liar itu.
__ADS_1