
"Sayang ayo makan..." Pinta Yudistira. Yudistira sungguh senang kala mendengar istrinya mengandung anak pertamanya dari pernikahan pertama mereka.
"Astagfirullah... Mas, apakah tidak terlalu banyak?" tanya Arumi menggelengkan kepalanya. Bagai mana tidak, Yuditira memesankan makanan makanan yang penuh gizi untuk Arumi. Tapi nampaknya Arumi kurang suka karna ia merasa makanan makanan itu terlalu banyak hingga mungkin saja ia tak akan bisa memakan semua itu sendiri.
"Rasanya aku sudah kenyang" Ujar Arumi.
"Bagai mana kamu bisa kenyang semudah itu? Kamu belum mencicipnya sama sekali kan?" tanya Yudistira mulai meraih sendok dan menyingkupnya ke arah mulut Arumi.
Yudistira memesan daging asap, Steak ikan... Lalu sushi salmon yang harganya sangatlah mahal. Juga ayam bakar dan ikan bakar... Beberapa salad juga ada spaigety saus pedas di sana "Ayo buka mulutmu sayang" Pinta Yudistira. Arumi menggelengkan kepalanya seraya tersenyum...
"Sedikit saja. Ayo lekas buka... Aaaaaa"Pinta Yudistira.
"Tapi sedikit saja ya..." Arumi pun mulai membuka mulutnya. Ia mengunyahnya pelan pelan... Yudistira yang senang karna istrinya mau makan pun mulai mengembangkan senyumannya.
"Kamu harus banyak makan agar berat tubuhmu meningkat. Aku tak mau kamu kurus begitu... Dan mengganggu pertumbuhan anak ku yang ada dalam rahimmu" ujarnya.
"Kamu sungguh menantikannya lahir ya?" Tanya Arumi.
"Tentu saja. Inikan anak pertama ku, lagi pula... Dulu, saat aku melakukannya aku juga tak sadar... Tahu tahu, aku sudah telanjang di sampingmu..." Cerocos Yudistira. Arumi lekas membungkam mulut Yuditira karna ia bicara begitu lantang di muka umum. Sampai sampai banyak mata yang tengah menyoroti mereka bahkan memperhatikan kedekatan mereka.
"Baik baik... Aku akan diam" Yuditira memohon. Arumi pun malu karna memperlakukan suaminya sedikit kasar. Lagi pula banyak orang di sana yang memperhatikan kelakuan so sweet mereka. Akhirnya, Arumi pun menurut saja pada Yudistira tanpa membantah. Apapun yang Yudistira masukan ke dalam mulut Arumi... Arumi pasti akan mengunyahnya lalu menelannya meski perutnya sudah kekenyangan.
"Makanan ini terlalu banyak mas... Jadi aku tak bisa memakan semuanya sendiri" ujar Arumi.
"Tapi aku tidak mau makan..." Imbuh Yudistira.
"Tapi kalau kamu tidak makan. Nanti lama lama... Kamu bisa sakit. Ayo makan sesuap saja" Pinta Arumi. Arumi lekas meraih sendok dan menyingkup ikan bakar bersama secuil nasi untuk memaksa Yudistira makan.
"Ieekk... Dari baunya saja, aku sudah mual... Jika sampai makanan itu masuk mulutku. Sudah pasti aku akan muntah" Pekik Yudis tira menjauh.
"Mas. Makan lah sedikit, aku nggak mau kamu sakit... Jadi ayo makan... Aku suapi. Sedikit saja" Pinta Arumi.
__ADS_1
"... Baiklah, sedikit saja..." ujarnya.
Arumi mengembangkan senyuman manisnya dan membuat Yudistira terpana. Ia gemas hingga ia ingin ******* bibir manis istrinya itu "Aaa... Ayo buka mulutmu mas"
Akhirnya sesuap ikan bakar bersama secuil nasi itu masuk mulut Yudistira tanpa beban "Mas. Apakah ada perasaan aneh?" tanya Arumi.
"A... Aku aku mual" Ujarnya meraih tussue dan berusaha memuntahkannya. Tapi Arumi lekas berdiri lalu menahan rasa mulai Yudistira dengan memijat mijat pundaknya.
"Mas. Masih mual?" tanya Arumi. Sesaat, Yidistira lebih baikan...
"Aku mau makan. Rasanya enak, tapi aku tidak bisa makan nasi... Rasanya menjijikan. Hingga aku ingin kembali mengeluarkannya"
"Kalau begitu, kita coba lauknya saja ya?" Tanya Arumi. Yudistira pun mengangguk...
"Nanti jika terasa mual lagi. Hentikan saja ya?"
"Baik..."
"Mas. Rasanya enak ya?"
"Ia. Sudah lama aku tak makan makanan seenak ini" jelas Yudistira.
Kasihan sekali, setelah aku dinyatakan hamil... Malah mas Yudistira yang harus kena batunya. Ia malah harus ngidam dan menanggung segala rasa mual dan keram usus ku. Bagai mana caranya agar rasa itu pindah padaku ya? Aku tak tega melihat mas Yudistira menderita karna ngidam...
Setalah mereka kenyang... Mereka pun mulai pergi dari restorant itu. Yudistira menggendong Arumi seperti biasanya menuju parkiran mobil.
"Sayang. Tunggu di sini... Aku akan menelpon Joe" Ujar Yudistira.
"Baiklah mas... Aku tunggu di sini. Jangan lama lama"
Yudistira pun pergi... Tinggallah Arumi yang berdiri mematung di samping parkiran mobil Restorant itu.
__ADS_1
Ia menelisik sekeliling, suasana restorant itu sungguh ramai dan penuh orang orang yang lalu lalang. Namun ada sesuatu hal yang membuat netra Arumi tergoda... Ia menatap di kejauhan seorang ibu yang menuntun anak laki lakinya yang sudah dewasa bahkan penampilan mereka sangat kumuh. Melihat keadaan yang memprihatikan itu, Arumi pun tergugah hatinya hingga ia pun mulai melangkah menuju arah tersebut dan mengabaikan permintaan Yudistira untuk diam di tempat nya tadi.
Arumi menghampiri ibu itu dan mulai menyapanya "Assalamualaikum bu..." Ucap Arumi. Ibu itu masih sibuk mengorek orek tempat sampah di hadapannya dan ia sungguh senang ketika mendapatkan satu bungkus nasi bekas "Alhamdulilah..." Pekiknya mengangkat nasi itu dari tong sampah dan lekas menarik anaknya.
"Alan! Ini! Ibu dapat nasi nak... Ayo kita makan di pinggir jalan" ujar Ibu itu. Arumi membelalak ketika tahu jika pria itu adalah mantan kekasihnya.
"Alan? Mas Alan?" Pekik Arumi memanggil pria itu. Tapi, nampaknya penyakit Alan sudah sangat parah hingga ia tak bisa mengenali siapapun termasuk Arumi sekali pun. Sedangkan Ny Rose, ia jadi tuli setelah mendapat serangan jantung kala hartanya habis dia raup anak sulungnya Leon.
"Hiks... Ya allah apa yang terjadi pada mereka... Kenapa mereka sama sekali tak mau menggubrisku" Arumi menangis sesegukan. Ia tak bisa tahankan air matanya...
Hingga Yudistira pun datang lalu menggait tangan Arumi "Sayang! Aku cari cari kamu kemana mana! Tahu tahunya malah di sini?" bentak Yudistira.
"Ayo. Joe sudah menunggu kita di mobil" pinta Yudistira.
"Mas..." Arumi menoleh ke arah Yudistira.
Yudistira terbelalak karna Arumi malah menangis "Sayang. Kamu kenapa menangis? Apakah aku terlalu garang padamu? Apakah karna aku tadi sedikit membentakmu? Maafkan aku..." peluk Yudistira pada istrinya. Ia amat bersalah karna telah memarahi Arumi hingga ia menangis....
"Tidak mas. Bukan itu yang membuatku menangis" balas Arumi. Yudistira pun mulai melepaskan pelukannya.
"...Apa makasudmu sayang. Tadi aku sudah marah padamu. Jadi aku sungguh meminta maaf ya" ujar Yudistira.
"Tidak. Mas... Yang membuatku sedih adalah mereka' Tunjuk Arumi pada Ny Rose juga Alan.
"Siapa mereka?" Yudistira tak mengenali Alan dan Ny Rose sebab mereka kelihatan kumuh dan tak bisa di kenali lagi. Bahkan terlihat sangat dekil...
"Mereka adalah Ny Rose dan anakny"
"Ny Rose? Apakah dia wanita si lintah darah itu?" marah Yudistira mengepalkan tangannya. Arumi mulai melihat kemarahan di hati Yudistira... Hingga ia pun mulai menarik tangan Yudistira yang di kepal itu dan lekas menciumnya lembut "Ehhh..." Seketika hati Yudistira pun melele"
"Ini bukan saat nya membenci... Mari, bantu mereka... ku mohon, bantu Ny Rose mendapatkan tempat yang layak meski itu adalah panti jompo. Juga rumah yang nyaman untuk Alan meski itu adalah Rumah sakit jiwa..."Pinta Arumi. Dendam pada kluarga itu masih sangat membara di hati Yudistira. Tapi karna ketulusan hati Arumi... Yudistira pun mampu menurut hingga ia melakukan kemauan Arumi untuk memberikan mereka tempat tinggal
__ADS_1