
***
Meja makan...
"Tuan, silahkan makan sarapan anda" Pinta Arumi. Setelah kejadian tadi di kamar mandi. Mood Yudistira sangat terganggu. Ia terlihat buram dengan pandangan sinis juga menusuk di tambah lagi, emosinya meluap luap bah tak terkontrol. Joe tak bisa menegurnya saat ini, untuk menyuruh tuannya bergegas meski waktu sangat mepet.
Yudistira terlihat duduk di meja makan dengan tatapan lurus, tangannya memegangi pelipisnya lalu beberapa kali memijat keningnya. Nampaknya karna tak jadi bercumbu, Yudistira jadi sakit kepala pagi ini.
Wajah Yudistira yang tampan itu jadi kusut dan penuh emosi... Joe mendekat lalu sebuah kalimat pun lolos dari bibir Joe...
"Tuan muda... Bisakah anda mempercepat sarapan anda, karna hari ini anda sangat sibuk..." Jelas Joe. Yudistira mulai menggeming lalu mendelik tajam ke arah Joe "Apakah kau sedang memerintah?" tanya Yudistira begitu sinis. Joe pun lekas menunduk, ia sangat canggung atas tatapan kejam pria itu.
"M-maafkan saya..." ucap Joe merengut dan menunduk seketika itu.
Lalu Arumi mulai mengalihkan pembicaraan... Arumi menyingkup mangkuk berisikan sop buntut ke sukaan Yudistira "Tuan. Biar saya suapi agar makan anda sedikit lebih cepat" Jelas Arumi. Ia mulai duduk di samping Yudistira, seraya menyodorokan sesendok sup bertambahkan nasi putih.
"Tolong buka mulut anda..." Pinta Arumi menatap Yudistira dengan tatapan berbinar. Yudistira mendelik dan menatap Arumi dengan ekor matanya. Tak lama setelah itu, wajah Yudistira pun mulai memerah pekat entah apa sebabnya.
"Tuan... Ayo buka mulut anda" pinta Arumi seraya mendekatkan sendok tersebut ke mulut suaminya.
"..." Yudistira tak berkomentar. Namun tiba-tiba karna sangat malu pada Arumi atas perlakuannya tadi di bathroom. Ia pun mulai over thingking dan malah menggebrak meja itu kasar "BRAK!!" Yudistira bangun seketika itu dan lekas memaki "Dasar! Kenapa kau selalu menggodaku! Murahan!" Pekik Yudistira memaki Arumi dan lekas keluar dari kursi itu lalu ia pun mengabaikan Arumi begitu saja.
"T-tuan..." Joe sangat merasa bersalah, kala melihat Arumi yang di cecah secara kejam dan tiba-tiba oleh sang tuan rumah itu.
Joe hanya bisa mengabaikan Arumi lalu pergi membuntuti langkah tuannya yang sedang uring-uringan itu. Setelah Yudistira pergi, Arumi tampak sedih. Ia hanya bisa menunduk dengan perasaan sangat kecewa pada suaminya itu. Saat kesedihan menyelimuti hati Arumi, bi inah pun mulai menghampiri wanita malang tersebut "Non. Apakah anda baik-baik saja?" tanya Bi Inah menghampri lalu menepuk pundak Arumi.
Arumi mengangguk diam "Non... Jangan sedih, mungkin suami anda sedang kesal karna sesuatu hal, jadi berimbas pada anda..." Jelas Bi Inah mencoba menghibur Arumi. Arumi yang tengah drop akibat cecahan Yudistira pun mulai bangkit dan tersenyum "Ya bi.. Makasih, mungkin suamiku sedang Bethmood... Jadi dia sedikit marah-marah pada seisi rumah" Arumi mulai berpikir positif dan kembali mengangumi suaminya.
__ADS_1
"Syukurlah, semoga kedepannya... Rumah tangga kalian sakinah mawadah dan warohmah" Doa bi inah di panjatkan untuk Arumi.
"Maksih bi atas Doanya..." Arumi lekas merangkul Bi inah lalu memeluknya. Ia hanya bisa memperlakukan wanita yang berjasa ketika membesarkannya itu dengan begitu santun dan hormat. Ia menganggap bi Inah seprti ibunya sendiri.
"Oh ia bi... Jika bibi akan melayada. Tolong sampaikan belasungkawa Arumi pada kluarga Anggara ya. Arumi tak bisa pergi tanpa seizin suami Arumi... Jika Arumi memaksakan diri untuk pergi tanpa seizin suami Arumi. Nanti, seisi rumah bisa kena imbasnya semua..." Jelas Arumo sedikit mengeluh karna kecewa pada pilihanya yang tak bisa mengutamakan rasa empatynya itu.
"Ya sudah... Tak apa... Bi inah akan sampaikan alasan terbaik untuk mengatakannya" Jawab Bi inah.
"Sekali lagi, terimakasih bi..." Arumi kembali memeluk Bi inah sebelum melepasnya pergi ke kediaman Anggara.
***
Meeting pagi di kantor Yudistira mulai berkahir, semuanya mulai berkemas membereskan berkas presentase masing-masing. Lalu berhamburan tertib menuju pintu keluar satu persatu...
Sementara Aska dan Alex juga Kruss masih memutar otak dan ingin berdebat tentang kendala Launcing perdana Gadget siqng ini dengan Yudistira akan jumlah unit gadget yang begitu terbatas.
"Tuan muda... Kenapa pagi ini anda tampak berbeda, wajah anda sangat merona pekat. Apakah anda tangah demam?" tanya Kruss langsung ke intinya. Tak ayal, Pertanyaan Krus yang begitu pulgar membuat Aska dan Alex menoleh ke arahnya. Begitupun Yudistira, ia mulai bergeming dari lamunannya dan mendelik tajam ke arah pertanyaan itu terlontar.
"Jika anda sedang tak enak badan... Anda tak perlu memaksakan diri, buatlah diri anda nyaman dulu di rumah..." Tambah Kruss terus mengoceh. Perkataan Kruss yang terdengar sok perhatian itu sungguh memancing emosi Yudistira. Apa lagi, Yudistira sangat tak suka pada pria yang mencoba menggoda istrinya secara tak sopan dan terkesan melecehkan.
"Apa hak mu mengatur hidupku?" Pertanyaan itu mulai membuat Kruss membatu. Aska dan Alex hanya bisa menatap Kruss yang selalu bicara ceplas ceplos itu dengan tatapan sedikit kesal padanya.
"... Ini adalah kantorku... Apapun yang bersangkutan dengannya, aku pasti mengutamakannya... Jangan salah paham dengan ku. Uruslah, urusanmu sendiri" Balas Yudistira mendelik tajam ke arah Kruss sebelum ia berdiri kemudian pergi dari ruangan itu.
"Joe. Ikut aku..." Ucap Yudistira... Joe mulai mengikuti Yudistira "Ya tuan..." Joe pun berfikir demikian, Ia mendelik tajam ke arah Krus hingga tatapannya tampak seperti menusuk... "Joe. Aku ingin, kamu awasi pria itu baik-baik. Meski ia lama bekerja denganku... Tapi, ia adalah tife penghianat di mataku... Jadi, kau harus selidiki pria berambut pirang itu" Jelas Yudistira berkata hal demikian di luar ruangab metting tersebut.
"Baik tuan..." Balas Joe mengangguk paham.
__ADS_1
"Bagus..." Mereka pun mulai pergi ke pusat kota untuk acara Launcing perdana penjualan Gadget pintar inovsi baru luncuran dari perusahaan DN Angel group mobile milik Yudistira.
***
Ruang Meeting...
"Apa yang kau bicarakan?" Singgung Aska pada kruss.
"Apa? Memangnya aku salah apa?" Kruss merasa bingung karna dua sahabatnya terus terusan memojokannya.
"Kau terlihat berbeda akhir-akhir ini. Apakah kau ada masalah dengan tuan muda?" Tanya Alex curiga.
"Berhenti menyalahkan ku... Dasar norak..." Kruss lekas menutup laptopnya lalu menarik Disk di laptop tersebut dan lekas beranjak. Ia mengabaikan dua pria yang penuh curiga kala menatap pria itu.
"Ada apa dengan kalian... Aku pergi saja" Kruss pun meninggalkan Aska dan Alex begitu saja.
BLAM! Ia mulai keluar dari ruang tersebut.
"Aska... Ada yang aneh dengan pria itu, sejak ia pulang dari kediaman tuan muda. Ia jadi agak stress dan lebih sering berkomentar" Ujar Alex penasaran.
"Ku pikir, hanya perasaanku saja..." Balas Aska.
"Ini cukup mencurigakan..." bisik Alex mulai memutar otaknya...
"Entahlah apa yang sedang kruss pikirkan... Sebaiknya kita bergegas dan langsung ke pusat kota untuk menyaksikan acara peresmian tuan muda" Pinta Aska.
"... Baiklah seharusnya kita lekas ke sana sebelum Tuan muda ngamuk lagi..."
__ADS_1
Aska dan Alex pun mulai bergegas menuju pusat kota untuk menemani tuan muda Arogan tersebut