ISTRI kecil Tuan Yudistira

ISTRI kecil Tuan Yudistira
Istri? Atau pembantu?


__ADS_3

"Tuan, apakah anda lelah?" tanya Arumi menghampiri Yudistira yang kala itu menjatuhkan dirinya di sofa kamar tersebut. Wajahnya terlihat lesu dan tampak lemas.


"Engh. Tentu saja... "Balas Yudistira singkat. Arumi lekas melepas sepatu dan jas pria itu "Apakah anda ingin berendam terlebih dahulu?" Arumi tampak cemas pada keadaan pria itu.


"Siapkan air... Aku ingin menenangkan diri... Bekerja membuat kepala ku panas" Gumamnya. Arumi lekas melaksanakan perintah Yudistira.


Sebenarnya, Arumi ingin meminta izin pada pria yang kini telah menjadi suaminya itu. Ia ingin menjenguk ayah angkatnya di rumah sakit. Sejak ibu angkatnya berkata bahwa pria itu tengah kritis, hati Arumi selalu gelisah. Tapi, entah kenapa Arumi sangat takut untuk memulai perbincangan yang terdengar sensitif itu.


"Apa yang kau lakukan? Kenapa malah menalamun?" Tanya Yudistira tegas hingga membuyarkan lamunan Arumi yang kala itu mengusai pikiranya.


"Ah tuan!!" pekik Arumi refleks berdiri dan memutar tubuhnya hingga menghandap pria itu.


"Kau sedang apa? Main air?" Tanya Yudistira mengulang. Arumi sungguh kaku kala terlalu dekat dengan pria itu. Dan tak ada alasan yang bisa ia buat.


"A-aku...' Arumi tak bisa jelaskan apapun.


Apa yang aku pikirkan, kenapa rasanya aku sedikit terganggu atas keberadaan mahluk lemah ini. Bathin Yudistira. Ia menata nanar arumi begitu lama.


"Aakkh!" Tiba-tiba Yudistira terpekik dan memijat kepalanya juga meringis seakan ke sakitan "Ah tuan! Apakah anda baik-baik saja?" Tanya Arumi panik, Arumi lekas menekan jidak Yudistira untuk memastikan apakah dia demam atau tidak.


"Tentu saja aku kesakitan. Dasar bodoh" Yudistira menepis tangan Arumi yang kala itu begitu panik hingga Arumi refleks menyentuh pria arogan itu.


"Ah..." Arumi mulai diam.


"Jangan sentuh aku! Dasar jala-ng!" Pekik Yudistira. Nggak tahu deh sama pria ini, ia terlihat ingin di perhatikan, tapi pas Arumi perhatian, dia malah di campakan.


"Ma-maaf jika anda tak suka... Tapi, saya sangat khawatir... Jika anda sungguh tak enak badan. Sebaiknya berbaring dan biarkan saya merawat anda..." jelas Arumi. Ia bicara seraya menunduk kala ungkapannya terdengar oleh Yudistira.


"Heh. Apa berbaring? Apakah kau berniat untuk menggoda ku?" Tanya Yudistira makin menekan Arumi. Arumi tak tahu harus bagai mana lagi ketika berhadapan dengan pria itu. Apapun yang ia katakan selalu saja salah.


"Sudah-sudah... Bicara dengan mu membuatku makin pusing! Cepat pijat kepalaku..." Pinta Yudistira. Seperti biasanya, tuan muda itu selalu membuka seluruh pakaiannya di hadapan Arumi. Hingga membuat Arumi tak bisa berbuat apa apa.


Yudistira menceburkan dirinya ke bathtab... Arumi lekas mendekati pucuk kepala Yudistira "Pijat yang benar. Jangan sampai kepalaku malah makin sakit setelah kau memijatnya..." imbuh Yudistira. Arumi hanya diam, ia adalah istri Yudistira tapi, karna Yudistira bodoh soal perasaannya, maka Arumi lebih tepatnya bisa di sebut pembatu...

__ADS_1


Arumi memijatnya pelan-pelan... Hingga tanpa sadar Yudistira kembali menyelam ke alam mimpi. Sesaat penat dan rasa letihnya buyar oleh sentuhan lembut wanita lemah itu.


Arumi yang tak sadar terus memijat pria itu hingga tangannya terasa pegal "Sampai kapan aku harus melakukan ini? Bathin Arumi mendengus kesal.


Tok! Tok! Suara ketukan pintu membuat Arumi harus berdiri dari posisinya saat ini.


Ia lekas menghampiri daun pintu, saat pintu di buka, Arumi mulai mematung di depan pintu "Hai. Apakah tuan muda ada di dalam?" tanya pria itu, pria blasteran dengan rambut gondrong warna kuning ke emasan dan bola mata biru itu adalah Kruss. Ia berani menyapa istri bosnya dengan begitu semberono.


"ah. Anda siapa?" tanya Arumi panik. Ia mulai mundur...


"Aku adalah anak buahnya. Tolong bilang pada bosku. Aku sedang menunggunya di bawah. Jadi percepatlah langkahnya. Karna kami tak ingin menginap malam ini" ucap Kruss seraya mencoel dagu Arumi.


"Astagfirullah!" pekik Arumi.


Arumi menghindar "Heh. Sungguh tak sopan... Kenapa kamu malah mundur..."Goda Kruss yang menyender di tulang pintu tersebut.


"Tolong jaga bicara anda... Jangan seenaknya atau pun tidak sopan... Berengsek" cecah Arumi mundur dan lekas menutup pintu tersebut kasar.


Blam!


"Siapa yang kau sebut pria tidak sopan itu?" tanya Yudistira tiba-tiba ada di kamar tersebut.


"Ah!!" Arumi mulai menoleh ke arah pria itu.


"Apakah yang kau maksud adalah aku?" tanya Yudistira. Arumi menggelengkan kepalanya.


"Lantas... Siapa pria yang berani memasuki kamarku?" Pertnyaan Yudistira yang begitu bertubi membuatnya Arumi tak bisa menjawabnya satu persatu.


"Ma-maafkan saya... Tapi saya tak bermaksud menyinggung anda..." jelas Arumi.


"Berhenti!" Pekik Yudistira memaki.


Arumi mulai diam dan mematung seketika itu, netranya mulai membulat kala Yudistira menghampirinya dan menekan bibirnya.

__ADS_1


"Kenapa kau lebih suka menggoda laki-laki?" Tanya Yudistira menatap Arumi dalam-dalam.


"A..."Arumi tak bisa mengeluarkan suaranya hanya untuk bertanya kenapa?


"Apa guna kain yang selalu membalut kepalamu ini hah?" Tanya Yudistira kian menekan Arumi.


"Tu-tuan anda salah paham..." Pekik Arumi membentak.


Yudistira menyungingkan bibirnya "Heh. Sudah berani membentak rupanya..." Bisik Yudistira menekan bibir Arumi kuat-kuat. Terlintas di pikirannya, saat Alan mendekati wanita ini dan ia sangat benci.


"Tu-tuan. Kenapa anda sangat benci pada saya. Padahal telah tertulis dalam hadis, janganlah terlalu membenci karna benci yang terlalu bisa membuat seseorang menjadi suka padanya... Dan jangan terlalu mencintai, karena cinta yang berlebih bisa membuatmu membenci... Jadi, tolong jangan terlalu membenci!" Pinta Arumi memberanikan diri.


"Heh. Kau pikir aku akan tertarik padamu..." Senyum menakutkan Yudistira terukir jelas.


"... Saya bukanlah tife anda. Jadi saya pikir anda tak akan menyukai saya..." Jelas Arumi.


"Heh. Kau pintar..." Yudistira mulai melepas tangannya yang kasar itu dan terdiam di depan Arumi.


Yudistira yang kala itu hanya mengenakan selebar kain pun mulai memberi perintah "Ambilkan pyama malam ku. Pilihlah secara random... Karna aku tak begitu suka warna warna yang cerah.


"Ba-baik..." Arumi lekas ke ruang ganti dan lekas kembali membawa pyama malam tuan Arogan.


"Tuan. Silahkan..." Arumi menaruh pakaian itu di sofa. Yudistira terlihat pucat, ia seperti tengah demam. Dan Arumi bisa membacanya dari raut wajah pria tampan itu.


"Pergilah. Sapa teman-temanku... Lain kali. Jika kamu suka memakai cadar, pakailah itu... Hari ini, kau terlihat seperti wanita penggoda..." Jelas Yudistira. Arumi sungguh malu dan ia hanya bisa menunduk.


"Jika kau tak punya pakaian mintalah pada Joe. Maka dia akan membelikannya sesuai ke butuhanmu..." Jelas Yudistira.


"Tapi... Kenapa saya harus bicara pada tuan Joe? Apakah anda..." Arumi tak berani meneruskan kata-katanya.


"Pergilah. Jangan banyak mengoceh, aku tak suka logat bicaramu yang nyerocos kaya petasan itu" Umpat Yudistira mengomentari cara bicara Arumi.


Arumi pun lekas ke luar kamar... Sementara Yudistira mulai meraih ponselnya dan menatap rekaman cctv beberapa saat yang lalu...

__ADS_1


Ia memasangnya saat Arumi menyiapkan air untuknya. Cctv mungil itu di letakan di sudut kamar tersebut, agar mampu menjangkau setiap seluk beluk ruangan kotak itu.


Saat rekaman di putar, Tangan Yudistira mengepal erat seakan hendak meninju seseorang dengan penuh amarah. Apakah pria itu tengah cemburu?


__ADS_2