
***
Yudistira kembali dari kantornya...
Wajah lelah begitu terlihat di nanarnya, tapi meski demikian, Yudistira tetaplah pria yang tertampan di kediaman tersebut. Para pelayan sibuk menyambut pria arogan itu, yang lain meraih tasnya, jasnya dan melepas sepatu pria itu ketika ia duduk di sofanya.
"Haahh... Seperti biasa. Bekerja membuat otakku panas hingga hendak meledak!" Ucapnya seraya meraih remot dan menyalakan ac.
"Tuan... Apakah anda ingin minum teh manis?" Tanya Moo kala menyambut tuan Arogan yang berkuasa itu.
"Tidak, oh ia Moo... Apakah wanita di kamarku sudah pergi?" Tanya Yudistira langsung ke pokoknya.
"Nampaknya, wanita itu tak keluar dari kamar anda dan ia belum makan atau pun minum..." Jelas Moo membuat Yudistira terkekeh.
"Apa hahahahah... Apakah dia ingin membusuk di kamarku?" Tanya Yudistira sedikit marah. Yudistira mulai bangun dan kembali memerintah "Ambilkan sandalku!" Pekiknya. Para pelayan yang sedari tadi melayani Tuan Arogan itu pun mulai sigap mengambilkan sandal untuk Yudistira.
"Tuan... Anda mau kemana?" tanya Moo khawatir, sedangkan Joe hanya bisa diam kala Yudistira memulai penyiksaannya pada Arumi.
"Pelayan... Bawakan aku semangkuk bubur panas... Dan air putih" Pinta Yudistira. Ia mulai melangkah menuju kamarnya dan beberapa pelayan pun mulai berhamburan untuk mengambilkan bubur yang di minta Yudistira secepatnya. Karna jika tidak begitu, maka Yudistira pasti akan mengamuk.
Yudistira mulai masuk kamarnya, netranya masih menelisik keadaan wanita yang ia tinggalkan pagi itu "Mana wanita sial itu" Yudistira mulai menyalakan lampu.
Plap!
Saat lampu menyala, netranya di kejutkan oleh keadaan wanita tersebut yang tetap bebaring seperti saat ia meninggalkannya "Heh. Dasar wanita manja!" Pekik Yudistira mulai menghampiri wanita bercadar itu.
Yudistira mengamatinya dengan seksama, di lihatnya keadaan kamarnya tampak menjijikan, di mana bercak darah tertera dan begitu jelas kala tergambar di seprei putih kamar itu.
"Menjijikan!" bentaknya seraya menendang Arumi yang masih tak sadarkan diri "Bangun!" Kaki Arumi di tendang pelan dan di goyang-goyangkan "Mmhnngg..." lenguhnya mulai membuka matanya sedikit demi sedikit "Sampai kapan kamu akan tidur di kamarku! Bangulah dan enyahlah!" bentaknya. Arumi bangun perlahan dan mulai kembali terjatuh "Pusing..." Bisiknya meneken kepala sebelah kirinya.
__ADS_1
"Ku bilang bangun ya bangun!!" Bentak Yudistira mulai meraih tangan Arumi dan menjatuhkannya ke bawah ranjang.
"Aaakhhh!" Pekik Arumi.
Yudistira berjongkok dan mulai menatap Arumi yang kala itu menyembuyinkan exspresinya di balik cadarnya "Apakah kau senang tinggal di kamarku?" Tanya Yudistira menekan Arumi dengan tatapannya yang begitu menusuk.
"Tuan... Sebenarnya apa salahku?" Tanya Arumi sedikit takut akan tatapan Yuditira yang dingin dan penuh amarah itu.
"Heh salahmu? Salahmu adalah tertawa di dalam keluarga Anggra... Dan hidup bahagia di dalamnya!" Jelas Yudistira masih menekan Arumi dengan pandangannya yang menusuk.
"Tapi tuan... Kenapa anda membenci kluarga Anggara, kami tak punya musuh sedikitpun... Kenapa tuan begitu tega menculik dan memperkosa saya... Hiks Hiks...hu hu hu, kenapa... Anda begitu tega pada saya..." Tangisan Arumi tak tertahankan hingga pecah begitu saja di depan Yudistira.
"Memperkosa mu? Heh yang benar saja... Bukankah kau yang menggoda ku!" Bisi Yudistira. Saat tangisan Arumi terdengar sesegukan....
Entah kenapa, tangisan itu membuatnya mengingat sosok ibunya. Yang kala itu telah di tekan oleh tuan Anggra saat mereka menagih utang. Padahal saat itu, ibu Yudistira sama sekali tak punya uang sepeserpun "Hentikan tangisan itu!" bentak Yudistira mengingatkan.
"Heh... Anak pintar" Yudistira menyungingkan sebelah bibirnya. Sementara Joe yang menatap di kejauhan amat priahatin pada keadaan Arumi yang saat itu di penuhi noda merah yang hampir mengering.
"Pelayan... Ambilkan bubur yang ku pesan" ucap Yudistira di iringi senyuman menyunging penuh dedam.
Tak berselang lama, para pelayan pun mulai menghampiri dan menyerahkan tatakan berisikan air dan bubur panas yang di pesan Yudistira.
"Makanlah... Jangan sampai kau membangkai di kamarku" ucap Yudistira terasa lembut untuk sesaat. Namun, Arumi menggelengkan kepalanya "Aku tidak lapar..." ucapnya menolak perintah Yudistira yang jelas-jelas akan membuat Yudistira makin marah padanya.
"Heh. Jangan sok mampu di depanku!" bentak Yudistira.
Yudistira mulai meraih mangkuk berisi bubur panas itu dan menyingkupnya kasar "Buka mulutmu!' Bentak Yudistira. Arumi menggelengkah kepalanya.
Yudistira marah dan meraih cadar yang menutupi bibir Arumi secara paksa "Jangan sok alim dan bersembunyi di balik cadarmu! Aku tahu kau adalah wanita serakah!" Ucapnya.
__ADS_1
Breet!
"Tidak!" Pekik Arumi.
Saat cadar terlepas, betapa kagetnya Yudistira, kala menatap wajah Arumi yang begitu cantik nan rupawan. Yudistira terpana hingga ia tak bisa berkata-kata...
Hidung yang begitu runcing dan bibir merah yang tipis sangatlah menggodanya. Di tambah lagi, bulu mata yang lentik dan Alis yang hitam seperti di sulam membuat jantung Yudistira makin berdebaran.
Arumi yang di tatap langsung oleh Yudistira pun mulai merunduk "Ada bukanlah muhrim saya... Jangan tatap saya seperti itu..." jelas Arumi bersembunyi di balik ke sepuluh jemarinya.
Yudistira mulai bergeming kala Arumi merendahkannya dengan kata-kata itu "Wanita tak tahu di untung!'Pekiknya mulai memaksa Arumi untuk makan.
"Ayo buka mulutmu sial!' Arumi di paksa dan ia pun menyerah. Arumi membuka mulutnya dan Yudistira dengan teganya memasukan bubur panas itu ke mulutnya dengan sengaja.
"Aah panas!" Arumi kembali memuntahkannya.
"Kau minta di hajar Ya!!" Bentak Yudistira menjambak kerudung Arumi hingga Arumi kembali terpekik.
"Aaaahhh!" Arumi membuka mulutnya dan Yudistira kembali memasukan bubur panas itu ke mulut Arumi.
"Telan! Ayo telan! Jika tidak maka aku akan terus menyuapimu!!" bentaknya. Dengan tangisan yang ia tahan, Arumi susah payah menelan bubur panas itu.
Gluk!
Yudistira puas dan mulai bangun "Baiklah... Aku akan membersihkan diriku. Jadi kalian boleh pergi..." Ucap Yudistira. Yang lainnya pun mulai berhamburan pergi.
Sedangkan Arumi masih terduduk di pojok ranjang dengan perasaan yang sangat hancur.
Bersambung...
__ADS_1