
Sesuai harapan Arumi, Yudistira memberikan apa pun yang Arumi minta. Meski itu bertolak belakang dengan kepribadian dan prinsif Yudistira "Aku sudah memberikan mereka tempat bernaung!" Ucap Yudistira kecut. Wajahnya seketika itu masam dan enggan menatap Ny Rose meski hanya untuk mendeliknya.
"Mas. Terimakasih, aku sungguh mencintaimu" Arumi lekas menggelayut di sikut Yudistira seraya melempar senyum terbaiknya.
"Heh... Jika bukan karena istriku yang cantik ini. Mana mau aku menarik kata kataku untuk menghancurkan kalian... Bahkan seharusnya aku bahagia, karna kalian jatuh miskin lalu menderita! Sekarang kalian tahu kan, bagai mana rasanya hidup susah dan tak bisa makan? Bahkan, kalian masih bisa tenang karna tak memiliki hutang pada lintah darat!" Bentak Yudistira dengan tatapan berkaca kaca. Setiap ia ingat pada kenangan buruk itu... Ia tak bisa lagi memahami isi hatiny, ia terus benci pada kenangan itu dan selalu menuntut balas.
Arumi lekas menenangkan hati suaminya yang tengah di rasuki nafsu dan amarah "Mas. Kamu harus iklas ya... Biarkan masa lalu berlalu, kamu harus berusaha melupakannya. Kita tak bisa terus hidup dengan belenggu masa masa sulit itu. Umur masih muda Mas, perjalanan kita panjang... Jika kamu terus saja menengok ke belakang. Bagai mana kamu bisa menghadapi jalan mu di depan sana? Akan ada banyak halangan dan cobaan dalam pernikahan kita Mas. Jadi sebisa mungkin... Mari, kita lupakan masa pedih itu. Lagi pula... Kamu tak mau kan orang orang yang kamu cintai menderita, karna kamu belum mampu mengikhlaskan mereka Mas" Jelas Arumi panjang labar.
Yudistira memang ingin melukapan masa lalunya yang kejam dan perih itu. Tapi, mau bagai mana pun... Kenangan itu terus muncul ketika melihat kluarga Anggara baik baik saja.
__ADS_1
"Mas... Ayo. Kita lupakan permusuhan ini. Orang tua ku juga tiada saat kecelakaan itu... Tapi, aku juga tahu... Itu adalah takdir hidup kluargaku. Meski sakit, tapi... Hidup ini masih panjang mas. Jika kita terus larut dalam kenangan buruk itu. Kita hanya akan tetap di sana dan terus menerus jalan di tempat..." Pinta Arumi kembali membujuk.
Lama berfikir akhirnya Yudistura pun mengangguk bersama deraian basah yang tak kunjung henti mengalir di pelipisnya. Meski ia terlihat cengeng, tapi... Itulah yang terjadi, ketika kenangan mencekam itu melintas di benaknya. Yang bisa ia lakukan hamyalah menangis... Arumi sungguh tak tega melihat suaminya yang tampak sangat lemah seperti itu. Hingga ia putuskan untuk membentangkan tangan hangatnya lalu menarik tubuh kekar Yudistura. Arumi pun memeluknya erat... Yudistira merasa tersentuh hingga ia membenamkan kepalanya di lekuk jenjang istrinya yang tertutupi hijab cream syar'I khas Arumi.
"Tak apa mas. Menangislah jika itu bisa meringankan beban pikiranmu. Jika bisa, lepakan lah segala dendam yang ada dalam hatimu... Mari kita memulai hidup baru bersama... Kita mulai kenangan kenangan indah kita bersama Mas. Aku akan berusaha, berusaha dan terus berusaha... Aku akan berusaha keras membuatmu nyaman untuk tinggal di sisiku dan melupakan kenangan buruk mu Mas" Arumi terus meyakinkan hati Yudustira hingga akhirnya Yudistira pun sepakat. Ia sepakat untuk tidak membenci kluarga Anggara lagi... Bahkan ia akan beruaha kerae untuk membuat Alan sembuh, juga Ny Rose yang kehilangan indra mendengarannya. Yudistira bahkan tengah merancang alat bantu dengar dengan kwalitas yang bagus dan tahan lama buatan tangannya.
***
"Mas. Makasih ya... Hari ini aku sungguh bahagia sekali" Ujar Arumi mencondongkan kepalanya ke arah bahu Yudistira yang kekar dan lebar itu.
__ADS_1
"Bahagia? Apakah karna kamu bertemu dengan mantan kekasihmu?" tanya Yudistira cemburu.
Arumi sedikit terkekeh "Apakah itu benar?" Lirik Yudistira tajam ke arah Arumi.
"Mana mungkin Mas, aku tak mungkin menyematkan nama pria lain di hatiku... Karna hatiku sudah sangat penuh oleh nama mu juga segala kasih sayangmu..." Jelas Arumi masih dalam posisi bermanja.
Yudistira tersenyum senang karna mendengarkan penjelasan istrinya yang begitu menyentuh kalbu Yudistira "Kamu memang istriku..." Yudistira pun menepuk pucuk kepala istrinya lalu membelainnya lembut. Tak lupa, ia pun mengecup mesra pucuk kepala Arumi dengan penuh cinta.
"Aku sangat mencintaimu mas..." Bisik Arumi nakal.
__ADS_1
Yudistira pun menatap istrinya yang mulai mengangkat kepalanya "Aku juga... Sangat mencintaimu Arumi" Yudistira mendekatkan wajahnya kian dekat dan kedua kelopak mata mereka mulai memejam...
Cup! Sebuah kecupan hangat pun kembali mendarat, dan keduanya sungguh menikmatinya. Ciuman hangat di tengah dinginnya malam... Membuat Arumi seakan terbuai oleh pelukan sang malam... Yudistira pun kembali memangsa istrinya dengan nafasnya yang selalu memburu...