ISTRI kecil Tuan Yudistira

ISTRI kecil Tuan Yudistira
Memasak untuk suamiku


__ADS_3

***


Yudistira dan rekan-rekannya sangat sibuk siang ini. Acara launcing luncuran pertama mereka sukses besar dan mendapatkan sponsor terbanyak juga, jumlah ponsel Unlimited 1000 Unit ludes setalah peresmian di gelar dalam jangka 1,5 jam saja. Acara tersebut di tayangkan di telepisi swasta dan jadi berita terhot hari tersebut.


Jika Yudistira sedang berpesta hari ini dengan ke suksesannya... Maka berbeda jauh dengan istrinya yang tengah murung...


"Non... Anda sedang apa?" tanya Bi Inah membuyarkan lamunan Wanita cantik yang selalu bersembunyi di balik hijabnya dan selembar cadar tipis itu "Eh... Bi inah jadi kaget" Respon Arumi lekas mengalihkan netra hazelnya ke arah wanita yang menyapanya itu.


"Jangan melamun... Nanti kesamber" Ujar Bi Inah mengingatkan.


"Nggak bi. Cuman lagi mikirin, gimana kea adan Ibu Rose sekarang. Dia baru saja kehilangan anak laki-lakinya yang berharga, lalu sekarang suami tercintanya juga wafat. Aku yakin, hati Ibuku pasti sedang kacau..." Gerutu Arumi menundukkan wajahnya seakan ikut merasa bersalah.


"Non..." Bi inah menepuk pundak Arumi. Arumi kembali mengangkat wajahnya dan menatap bi inah "Jangan menyalahkan diri sendiri dan kecewa atau sedih... Nanti, Alm Pak Anggara akan sulit terbebas, karana merasa berat... Istigfar non..." Ucap Bi Inah menyakinkan Arumi.


"Astagfirullah..." Arumi lekas mengelus dadanya dan berkata demikian.


"Jangan sedih karna tak datang melayad... Mereka pasti akan senang jika non Arumi tak datang ke sana" Ujar Bi Inah.


"Apakah benar ya Bi?" Tanya Arumi.


"Tentu saja... Bukannya Bi Inah mau menghasut, tapi... Bi Inah tahu jelas, bagai mana hati Ny Rose sebenarnya. Jika sudah benci ya benci tak ada alasan apapun untuk memaafkan" Ujar Bi Inah panjang lebar. Mendengar ucapan bi Inah yang begitu blak-blakan... Entah kenapa membuat Arumi sangat sedih. Seakaan bi Inah tahu jelas bagai mana suasana hati ibu angkatnya itu... Mungkin karna bi inah sudah terlalu lama bekerja di kluarga anggara.


"Non. Apakah nona lapar?" tanya Bi Inah.


"Ya bi. Tapi, aku ingin memasak hari ini" Jawab Arumi ringan.


"Memasak? Sebaiknya nona tak usah repot repot memasak. Biar bibi saja yang lakukan" Balas Bi Inah mencoba menghentikan nona Rumah itu.


"Tidak bi... Suamiku pasti lelah, jadi aku ingin memasak untuknya" ujar Arumi mulai melelehkan hati Bi Inah "Ya sudah... Mari kita memasak bersama-sama" jawab bi Inah.


"Terimakasih bi..." Arumi mengangguk dan lekas melangkah ke area dapur kotor lalu meraih celemek dan memakainya langsung. Begitupun bi inah...


Saat mereka mulai membawa beberapa kebutuhan di ruang pendingin. Beberapa pelayan lain mulai menyapa Arumi "Siang nona muda... Apa yang sedang anda lakukan?" tanya salah satu pelayan yang sedikit muda di antara pelayan lainnya "Aku ingin memasak untuk suamiku" Jawab Arumi tegas.


"Begitu ya. Bisakah saya ikut serta?" tanya Wanita muda itu.

__ADS_1


"... Boleh juga, kamu bisa membantuku mengiris beberapa sayuran" Jawab Arumi ramah. Tapi, saat bi inah menatap wanita muda yang saat itu sedang bercengkrama dengan Arumi. Bi Inah sedikit tak suka, sebab wanita itu terlihat sangat berbahaya untuk Arumi.


"Benarkah? Ah... Sangat menyenangkan..." pekik Wanita tersebut.


"Oh ia. Kita belum berkenalan, kalau boleh tahu siapa namamu?" Tanya Arumi menatap wanita itu.


"Oh ia. Namaku Yolanda, panggil saja aku Yola... seluruh rekan di rumah ini memanggilku demikian" Jawab Yola dengan senyum semberingahnya.


"Baiklah Yola, mari kita mulai berkutat" Arumi lekas memberikan tugas memotong sayur pada Yola, lalu tugas memotong daging pada Bi Inah. Arumi hanya menyiapkan bumbu dan menubruknya dalam satu wadah cobekan batu.


"Anda sangat mahir dalam hal ini..." Ucap Yola sedikit terkesima pada tangan cekatan Arumi.


"Karna nona Arumi pernah sekolah dengan jurusan tataboga... Jadi soal memasak dialah jagonya" jelas Bi inah jutek.


"Oh begitu rupanya..." singkat jawaban Yola.


"Bi inah jangan terlalu berlebihan, lagi pula... Aku memang suka memasak" Elak Arumi.


"Anda sangat pintar. Tuan Yu sangat beruntung memiliki anda..." Ujar Yola berseri seri kala menatap Arumi.


"Non. Bibi mau cuci dagingnya dulu..." Bi Inah mulai melangkah ke wastafel dapur itu dan sedikit menjauhi Yola da Arumi.


"Ya bi. Langsung masukan panci ya bi dan didihkan terlebih dahulu" Jelas Arumi.


"Ya non... Akan bibi lakukan" jawab Bi inah.


Kini Yola dan Arumi yang masih berduet "Yola hati hati jangan alihkan pandanganmu ketika memotong-motong sayuran. Nanti kamu bisa terluka" jelas Arumi.


"Terima kasih sudah mengkhawatirkan aku" Jawab Yola masih ramah pada Arumi. Namun bi inah tetap tidak menyukai Yola.


"Yola berapa usiamu?" Tanya Arumi menatap Yola.


"Usiaku Ya...? Aku akan menginjak 20 tahun bulan ini..." Jawabnya singkat.


"20 tahun? Selamat ya... Kamu sudah sampai sejauh ini mengabdi di kediaman ini" Ucap Arumi di iringi senyum ringannya.

__ADS_1


"Ah benar. Aku bekerja sejak usia ku 18 tahun, sampai saat ini pun aku masih merasa belum puas" Jawabnya lesu.


"Belum puas? Memang belum ada hal yang kamu capai ya?" tanya Arumi penasaran.


"Ya. Itu karna aku masih belum bisa memenangkan hati seseorang" jawab Yola lemas.


"Apakah ada pria yang kamu suka ya?" Arumi begitu antusias seraya meyiapkan loyang dan memasukan minyak ke lotang panas itu.


"Tentu saja... Alasanku bekerja di kediaman ini pun. Karana laki-laki itu pernah berjasa sebelumnya" Jelas Yola menatap Arumi.


"Wah sungguh cinta yang manis..." Tawa Arumi mulai terkekeh.


Setelah wajannya panas bumbu yang di ulek tadi mulai di masukan "Kenapa anda tertawa nona?" tanya Yola sedikit merubah air wajahnya menjadi sedikit muram.


"Aku tidak tertawa lho. Hanya saat ini aku merasa sangat takjub padamu... Lalu bagai mana? Apakah pria itu sudah tahu isi hati mu yang sebenarnya?" Arumi kembali mengalihkan pembicaraannya.


"Tidak, aku tidak pernah memberi tahukan hatiku yang sebenarnya pada pria itu" Jelas Yola sedikit membuang wajahnya kesal.


"Wah sayang sekali... Jika saja kamu bicara pada pria itu, sudah pasti dia akan sangat terkejut dan bisa saja dia mau membalas perasaanmu" Ujar Arumi menyemangati Yola.


"Benarkah? Apa itu boleh?" Tanya Yola mendesak Arumi.


"Boleh dong... Kamu pasti akan lebih baik" Jelas Arumi memberi aura baik untuk wanita cantik berpakaian pelayan itu.


"Begitu ya? Meski pria itu sudah beristri, aku tetap di perbolehkan mengatakan perasaanku ini padanya?" tanya Yola mendesak.


"Ah... Jika itu... Sebaiknya, jangan... Ku pikir pria itu masih lajang" Arumi sedikit tersentak.


"Ya. Beberapa minggu yang lalu ia melajang. Tapi sekarang dia sudah beristi" Jelasnya. Bi Inah lekas menghampiri Arumi dan menghalangi pandanagan Yola yang begitu terobsesi pada Arumi "Sudah-sudah. Jika ngobrol terus kapan kalian akan selesai memasak" Bi inah sedikit marah.


"Ah ia aku lupa... Aku akan membersihkan sayuran ini dulu" Yola lekas pergi ke arah wastafel dengan sayuran yang telah ia potong potong. Sedangkan Arumi masih bengong ia teringat omongan Yola yang seakan menyinggungnya "Non. Jangan bengong begitu... Ayo kembali memasak" jelas Bi inah.


"Ah. I-iya..." Arumi kembali memasak makan yang ingin ia hidangkan untuk suaminya.


Kenapa aku jadi kepikiran... Ucapan Yola tadi membuatku berfikir bahwa pria yang Yola inginkan adalah suamiku. Aahhh mana mungkin... Astagfirullah halazim aku sudah salah menilai orang. Bathin Arumi menggumam ia lekas menyibat wajahnya dan membuang jauh jauh pikiran buruk itu dari otaknya.

__ADS_1


__ADS_2