
***
"Ahem..." Malam ini Yudistira terbatuk-batuk di ranjangnya. Arumi pun bangun dari sofanya dan mulai menghampiri Yudistira "Tuan. Silahkan minum... Agar tenggorokan anda tak terlalu kering" Pinta Arumi. Yudistira yang sedari tadi cari perhatian Arumi pun mulai pura-pura membuka matanya 'Nggh... Apakah aku lupa mematikan acnya?" tanya Yudistira sedikit bangun dari rebahannya "Biar saya bantu...' Ucap Arumi lekas meraih pundak pria itu dan membantunya bangun, meski tubuh Arumi sangat mungil... Ia berusaha keras melayani suami arogannya itu.
Saat tubuh Yudistira bersentuhan dengan Arumi, ia mulai sedikit jatuh dalam buayan aroma tubuh Arumi yang begitu wangi semerbak. Apa lagi, ia merasakan sebuah gumpalan enyoy yang melekat di bahu kanannya begitu hangat dan terasa nyaman ketika tak sengaja menempel di bahu itu.
"Tuan. Bisakah anda bangun, saya tak bisa mengangkat tubuh anda yang kekar ini..." Jelas Arumi sedikit bersusah payah. Yudistira pun mulai terbangun dari hayalannya yang begitu penuh dengan fantasinya.
"Apa yang kau lakukan! Jangan sentuh aku!" Bentaknya mulai bangun dan mundur. Yudistira sangat ke kanak-kanakan di mata Arumi.
"Ck. Astagfirullah... Anda sungguh... Sssh" Arumi sedikit gemas.
"Kau pasti sedang menggodaku..." Bentak Yudistira.
"Astagfirullah... Tuan, jangan salah paham" Pekik Arumi mengelak.
"Jangan salah paham? Heh, dasar picik... jika aku baik padamu bukan belarti kamu bisa menyentuhku seperti itu dasar wanita mesum!' Gumam Yudistira hingga membuat Arumi sedikit tersinggung.
"Ya sudah. Jika anda bisa melakukan nya sendiri... Silahkan minum air sebelum tidur... Saya akan menaruhnya di meja" ucap Arumi seraya menaruh segelas air putih itu di meja sebelah ranjang tersebut.
BRAK! Arumi memang kesal saat ini, ia sedang tak bisa tidur karna tak enak hati atas ke adaan ayah angkatnya juga pikiran tetang kejadian 15 tahun yang lalu, kala pristiwa tragis menimpa kluarganya.
"Hei. Apa maksudmu... Apakah sekarang kamu sudah kaya hingga bisa membentakku begitu?" tanya Yudistira menggoda Arumi lagi. Ia tak paham bagai mana cara merayu istrinya, Apa lagi ia tak bisa mengerem mulutnya, dan alhasil yang selalu keluar dari mulut pria itu hanyalah sebuah amarah dan cacian. Meski Yudistira ingin bilang A... Ia hanya malu dan malah terus berkata B dan selalu mencaci Arumi.
"Hhh... Astagfirullah... Lalu apa mau anda? Jika ini salah dan itu salah... Lalu saya harus apa?" Tanya Arumi sedikit marah.
"Tuh. Kamu membentak lagi... Kamu harus tahu, aku ini adalah tuan muda... Jadi, jaga sikapmu..." jelas Yudistira membuang wajahnya dan menolak tatapan Arumi yabg sedikit tajam pada pria itu.
"Baiklah... Lalu apa mau anda?" Tanya Arumi mulai mendekati Yudistira.
__ADS_1
"Ambilkan aku minum" ucap Yudistira mulai menatapa Arumi kembali.
"Tapi tuan, air ada di samping anda... Kenapa anda tak ingin meraihnya dan meneguknya" pinta Arumi menjelaskan kebenaran pada pria itu.
"Tapi tanganku sedang ku gulung di perutku. Posisi ini sangat enak... Jadi jangan banyak komentar lalu ambilkan saja..." jelas Yudistira bersikeras.
Arumi lekas melangkah ke arah gelas air tersebut, namun siapa sangka... Kakinya malah terpeleset dan ia pun oleng, Yudistira panik dan reflekas menangkap tubuh Arumi yang jatuh ke arahnya itu... Hingga
BRUKKK!!
Arumi terjatuh di atas tubuh Yudistira... Arumi membelalakkan matanya kala dua tatapan insan itu saling berpaut kaget satu sama lain.
Yudistira masih menatap nanar Arumi yang begitu dekat... Entah kenapa, Saat itu... Jantung Yudistira berdegup kencang seakan hendak meledak... Wajah keduanya memerah pekat. Yudistira baru sadar jika saat ini, jantungnya memang sedang tak baik-baik saja.
Sentuhan Arumi yang tiba-tiba membuat Yudistira bereaksi itu sungguh membuat Yudistira tak bisa berfikir sehat. Sesuatu mulai bergerak di bawah sana... Si junior sedang beraksi gegara sentuhan Arumi yang menghimpit area sensitif itu.
"T-tuan maafkan saya...!" Arumi mulai berusaha bangkit. Namun, Yudistira menarik tangan Arumi dan menjatuhkannya di ranjang. Ia mulai membalikkan ke adaan dan malah menghimpit Arumi di ranjangnya lalu menahan ke dua tangan arumi.
Yudistira belum bergeming dan tetap menatap Arumi penuh kehausan... Yudistira mendekatkan wajahnya dekat dan begitu dekat seakan hendak ******* bibir Arumi dengan sebuah kecupan manis pria itu.
Wajah Yudistira dekat... Dekat dan makin dekat... Arumi hanya bisa diam dan mengerutkan dahinya seraya memejamkan seakan ketakutan atas perlakuan Yudistira yang begitu berbeda.
Deg! Deg! Deg! Jantung Yudistira bedegup sangat kencang dan makin membuatnya tak nyaman.
Ketika dua bibir tipis itu mulai hendak bersentuhan... Tiba-tiba ketukan pintu membuyarkan ke harmonisan di antara ke duanya.
TOK! TOK!
Pupil mata Yudistira mulai membesar dan menatap Arumi penuh amarah. Ia mulai melepaskan tangan Arumi dan lekas menggebrak matras BRAK! Arumi terperanjat dan sangat kaget "Keterlaluan!!" Bentak Yudistira seketika menyingkir dari atas tubuh Arumi dan berpaling kesal menghempas rambutnya penuh emosi.
__ADS_1
"S-Siapa?" tanya Arumi yang mulai bangun dan merapihkan pakaiannya.
"Non... Ini Bi Inah non" seru Bi inah di balik pintu.
"Sial! Baru sejam ada di rumah ini, dia sudah berulah!" amuk Yudistira mondar-mandir di depan ranjang penuh emosi.
"Saya akan membuka pintu sebentar..." Jelas Arumi.
"Heh. Pergi saja sana! Selamanya pun tak apa..." Cemooh Yudistira masih terbakar emosi.
"Hus. Bicaranya jangan seperti itu... Nanti bisa turun talak... Jaga bicara anda tuan" pinta Arumi mengingatkan. Yudistira sedikit kaget dan mulai duduk di ujung ranjang kasar hingga menghempaskan tubuhnya.
Klek!
"Bi ada apa malam malam begini?" tanya Arumi membuka pintu itu perlahan.
"Non. Ada kabar duka non..." Ucap Bi inah gelagapan.
"Astagfirullah... Apa maksud bibi?" Arumi panik wajahnya mulai pucat kala mendengar penjelasan sang bibi.
"Tuan non. Tuan besar meninggal dunia tadi sore..." jelas Bi inah dengan suara paraunya.
"Apa? I-innalilahi..." bisik Arumi seraya membungkam mulutnya dan tubuhnya mulai lemas.
Kabar tersebut terdengar langsung ke telinga Yudistira dan membuatnya tersenyum dan menghampiri bi inah "Apa katamu wanita tua? Apakah yang meninggal itu si Anggara tua?" Tanya Yudistira sinis.
"Astagfirullah... Tuan jaga lisan anda, jangan bicara se enteng itu... Setidaknya anda harus bicara baik tentang mendiang almarhumah" Pinta Arumi menatap pria di sampingnya itu.
"Heh. Jangan terlalu dramatis, memangnya jika kau menangis hingga matamu busuk... Apakah orang mati itu akan bangun kembali...? Cih... Dasar wanita konyol..." Yudistira mulai mendobrak bahu Arumi lalu keluar dari kamar tersebut.
__ADS_1
Sedangkan Arumi yang bersimbah air mata hanya bisa menggelengkan kepalanya seakan tak percaya jika suami yang kini jadi imamnya itu adalah pria tak tahu tatak rama dan rasa hormat juga pengetahuan agama hingga ia tak kenal pada tuhannya.
"Astagfirullah... Tolong bukakan mata hati suamiku ya allah..." pinta Arumi seraya menyibat air matanya yang tumpah ruah bah tiada henti itu.