ISTRI kecil Tuan Yudistira

ISTRI kecil Tuan Yudistira
Sangat hati-hati


__ADS_3

Joe mendekati Yudistira dan menyerahkan sekotak bungkusan berwarna cerah. Mungkin bisa di sebut sebuah kado kecil "Tuan ini silahkan... Apakah yang anda maksud adalah kotak ini?" tanya Joe seraya menyerahkan benda itu ke tangan Yudistira.


"Apa itu?" bisik Kruss menatap intrents kotak tersebut.


"Kerja bagus Joe" Balas Yudistira meraih kotak itu.


"Tuan, ayo buka mulut anda..." Pinta Arumi. Dengan wajah memerah pekat, Yudistira pun membuka mulutnya.


"Seperti bayi besar... Padahal di perusahaan Tuan Yu bagai kan beruang kutub yang galak dan dingin..." Oceh Kruss membuat Yudistira mendelik ke arahnya dan menatap nya dengan ekor matanya. Yudistira pun merasa sangat malu sendiri.


PLETAK! Alex sigap memukul pucuk kepala Kruss dengan sendok yang ia pegang untuk menyingkup makanannya tadi.


"Aaawww! Sial! Apa yang kau lakukan!" amuk Kruss mengusap usap kepalanya dan menatap Alex tajam.


"Jaga bicaramu... Kau pikira kau ada di mana sekarang!" lerai Alex menasihati pria itu.


"Sakit tahu..." Kruss merasa marah pada Alex tapi dari pada Aska, Kruss sangat takut pada Alex.


"Makanya. Tutup mulutmu" Umpat Aska mengolok Kruss.


"Diam kau atau ku pukul nanti!" Bentak Kruss masih mengelus benjol di kepalanya.


Yudistira yang malu lekas menarik mangkuk yang di genggam Arumi dan lekas melakukan aktifitasnya sendiri.


"Jangan hiraukan aku... makanlah punya mu" Ujar Yudistira mengalihkan perhatian. Arumi terkekeh tanpa sebab hingga Yudistira sedikit salah tingkah dan marah pada Arumi "Siapa yang sedang kau tertawakan?' Tanya Yudistira dengan nada tingginya.


"Hehehhe... Tuan, anda memang pria yang sangat istimewa" ucapnya lembut, seraya meraih selebar tisue dan mengusapkannya di pipi kiri Yudistira dengan begitu hati hati.

__ADS_1


"Aaa..." Yudistira mematung seketika dengan wajah merah nya yang pekat. Tatapan Arumi dan kebaikan Arumi yang tulus, amat menusuk hati juga jantungnya,


"Makan pelan pelan... Jangan sisakan nasi di pipi anda... Ya" Ucap Arumi mersa. Seketika aura ruangan itu menjadi hangat dan membuat siapapun yang melihatnya berbinar.


"Wah romantis sekali..." Bisik Alex dan bi Inah.


Sedang Aska dan Kruss mengerucutkan bibir mereka "Romantis apanya..."Berbarengan seraya membuang wajah mereka.


"S-sudah, sudah ku bilang! Aku lakukan semuanya sendiri saja..." Gagap Yudistira salah tingkah.


"Hemmm silahkan" senyum Arumi memejamkan matanya dan sesekali menatap Yudistira.


"A-Aku pergi dulu... Kalian makanlah" Yudistira berdiri hingga kursinya tergesek ke belakang.


"Tuan anda mau kemana?" tanya Arumi panik karna suaminya tiba tiba berdiri dan ingin pergi.


"... Aku ikut" Pinta Arumi mulai membuntuti Yudistira dari belakang.


"Sudah ku bilang tunggu saja di sini. Sapa para tamu ku..." Ia pun mulai melangkah dan mengabaikan Arumi. Arumi kemudian terdiam di belakang punggung pria itu yang berjarak beberapa senti meter saja. Namun seperempat jalan menuju ke ruang kerja nya. Ia pun kembali membalikan tubuhnya "Kau... Kemarilah..." Ujar Yudistira. Arumi pun menganguk dan mulai mengikuti pria itu "Ya tuan. Ada apa?" tanya Arumi menatap intrents pria itu.


"Ini..." Yudistira lupa jika ia ingin memberikan hadiah kecil untuk istrinya.


"... Ini? Apa?" Tanya Arumi bingung, tangannya ragu untuk meraih kotak berbungkus walpaper kado itu.


"Ambil saja..." Tegas Yudistira.


Arumi masih ragu menangkap kado dari Yudistira dan nampaknya ia sedikit takut "Tapi. Kenapa anda memberikan ini pada saya... Karna rasanya saya tidak lah pantas"Jelas Arumi amat merendah.

__ADS_1


"Kau banyak sekali bicara!" bentaknya seraya meraih tangan Yudistira lalu meletakan hadiah itu di telapak tangan Arumi.


PLAK! Kasar... "Ah..." pekik Arumi.


"Ku bilang ambil ya Ambil! Jangan banyak bertanya atau berkata tidak pantas! Kau adalah nyonya Rumah ini. Jadi apapun yang kau pakai akan selalu pantas!" Jelas Yudistira menekan Arumi dengan tatapan tajamnya.


"...." Arumi tak berkomentar.


"Aku pergi dulu... Temuilah para tamu. Bukankah itu adalah cita citamu... Makan bersama para pelayanku di meja yang makan utama bersama sama?" Cerocos Yudistira kesal pada Arumi.


Arumi masih terdiam dengan menggenggam kado dari tuan muda itu. Yudistira mulai memegang Hendle dan menekannya hendak masuk ke ruanh tersebut. Lalu Arumi pun menyeru "Tuan muda..." Ucap Arumi.


Yudistira yang baru saja membuka pintu pun mulai menoleh karna istrinya menyeru "Apa?" sahutnya jutek.


"Terimakasih banyak... Anda sangat baik. Saya sangat merasa bersyukur" Ungkap Arumi mengiringi senyuman indah hingga pipinya mengembang.


Deg. Melihat senyuman istrinya yang begitu indah bah cahaya mentari yang hangat dan terang, seketika hati Yudistira mulai terenyuh. Ia baru sadar, jika dirinya benar-benar telah demam... Namun demam yang Yudistira alami adalah Demam Cinta yang saat ini mulai bersemi hingga menggebu dalam hatinya.


"Heh. Jangan berlebihan... Aku hanya menyisakannya satu untukmu" Balas Yudistira membuang wajahnya dan mulai masuk ruang kerja itu.


Blam! Pintu pun tertutup kasar. Arumi masih berdiri menatap pintu yang tertutup itu "Alhamdulilah... Apapun isi dalam kotak ini, aku akan sangat berterimakasih dan merasa bersyukur... Terimakasih..." Ucapnya seraya memeluk kado kecil itu.


Akhirnya, Arumi meninggalkan front ruang kerja Yudistira, dan kembali ke meja makan tersebut... Arumi mulai makan bersama dan bercengkrama bersama para pelayan kediaman rumah itu. Alex dan Aska jadi tidak nyaman setelah mengetahui bahwa tipe pria dingin yang arogan itu adalah gadis bercadar yang sedikit kuno. Krus hanya bisa tertawa karna ia sama sekali tak paham, kenapa pria seperti Yudistira mau-maunya memilih istri tak modern seperti wanita di meja makan tersebut.


Dan pada Akhirnya... Yudistira hanya bisa merenung sendirian. Ia beberapa kali menepuk-nepuk kepalanya yang terasa bodoh. Karna setiap isi pikirannya di penuhi oleh senyuman Arumi yang penuh pesona dan terkesan sangat indah.


"Oh astaga... Aku sungguh... Gila! Aku harus secepatnya konsultasi, konsultasi ke dokter ahli psikologis..." Gumamnya seraya menekan nekan kepalanya beberapa kali.

__ADS_1


Malam ini... Yudistira pun kelelahan dan menyelam ke alam mimpi, di meja kerja pribadinya.


__ADS_2