
Tidak banyak macam-macam lauk di sana, hanya ada sop buntut dan goreng peyek... Nampaknya meski Yudistira kaya raya. Ia hanya makan dengan satu jenis Lauk, makanan pavoritnya hanyalah nasi dan sop buntut. Para pelayan berjejer kala melayani sang tuan angkuh itu, pelayan yang lain mengambilkan gelas dan menuangkan air dan yang lain menempelkan serbet di kerah leher tuan tersebut "Hentikan... Aku punya orang baru di rumah. Kalian tidak perlu mengurusiku lagi..." Imbuh Yudistira menatap Arumi yang begitu tergiur oleh makanan di hadapannya. Beberapa hari ini, ia sama sekali belum makan sesuap nasi pun.
Gluk! Susah payah ludah itu di telan sang wanita cantik itu "Apa yang kamu lakukan? Cepat... Layani aku" Ucap Yudistira tegas.
"A-apa...?' Arumi tak paham.
"Ambilkan aku nasi dan lauknya" ujar Yudistira masih menatap Arumi.
Dengan tangan gemetaran, Akhirnya Arumi pun mulai menata mangkuk yang ada di depan Yudistira, ia menyingkup nasi yang telah tersedia itu. Lalu memasukan lauknya yang berupa sup buntut dan gorengan peyek tempe. Kemudian Arumi pun menaruh semangkuk nasi itu di depan Yudistira.
Trak! Nasi dan lauk itu di taruh di depan sang tuan muda begitu saja oleh Arumi, ia sungguh tak tahu apapun ketika ada di kediaman Yudistira. Yudistira menatap mangkuk yang Arumi berikan padanya "Lalu aku harus apa?" tanya Yudistira menoleh ke arah Arumi yang masih menatap setumpuk nasi yang ada di hadapannya.
"Hei. Kau adalah istriku bukan?" Yudistira kembali menyinggung soal status Arumi.
Arumi memgalihkan atensinya lalu menatap sang tuan muda "Ia tuan muda..." balas Arumi.
"Kenapa kau masih diam, cepat suapi aku!" pekik Yudistira semena-mena. Akhirnya tanpa pikir panjang, Arumi mulai melupakan perutnya yang lapar itu dan mulai mengambil mangkuk tersebut, lalu menyuapinya.
Astagfirullah... Kenapa pria ini begitu manja dan kekanak-kanakan, ia bahkan di jadikan tuhan di rumah ini dan bertindak semena-mena. Ya allah, engkaulah maha pengasih lagi maha penyang, tolong sadarkan lah pria angkuh di depanku ini dan bawa ia kembali ke jalan yang lurus, beri ia hidayah mu ya allah. Bathin Arumi mendoakan sang tuan muda agar lekas taubat.
"Pelan-pelan dong! Masih ada nasi dan aku harus mengunyahnya!" bentak Yudistira kesal kala Arumi menyuapinya dengan ritme yang begitu cepat.
"Gluk!" Arumi hanya diam dan meneguk ludahnya beberapa kali, ia bahkan menahan rasa lapar di perutnya yang seakan mencekik tenggorokannya.
Grauuukkk... Kriuuuukkk akhirnya, Arumi mulai tak bisa menyembunyikan rasa lapar itu. Sebab cacing di perut Arumi sudah berontak dan perlu sesuap makan untuk di cerna.
"Bunyi apa itu?" Tanya Yudistira mencari.
__ADS_1
"Mungkin suara nyamuk tuan... Inikan malam hari" ucap Arumi berusaha menyembunyikan rasa laparnya di depan pria angkhuh itu.
Dan suaranya kembali terdengar, Yudistira tahu jika suara itu berasal dari perut Arumi "Aku mendengarnya..." Ucap Yudistira mulai menatap perut Arumi yang tersembunyi di balik pyamanya "Kau laparkan?" Tanya Yudistira mulai menyungingkan bibirnya.
"Aku... Akan menyuapimu" Jelasnya mulai meraih mamgkuk dan menaruh nasi yang amat banyak lalu mengisinya dengan sop yang ada di sana. Untung kali ini, sop yang ada di hadapan Yudistira sedikit hangat dan menjadi dingin kala masuk ke mangkuk yang saat itu nasinya cukup dingin.
"Buka mulutmu" Pinta yudistira menyingkup sendok yang penuh dengan nasi. Arumi menggelengkan kepalanya "Tidak tuan. Biarkan aku makan sendiri" Pintanya. Yudistira makin terkekeh dan tak ingin menggubris wanita itu "Buka mulutmu!!" bentak Yudistira. Arumi pun pasrah dan membuka mulutnya perlahan "Aku benci pada Alan dan kluarganya! Saat melihatmu... Aku merasa kau sama saja dengan mereka! Kau pun ikut tertawa di atas pe deritaan ku! Dasar wanita jala-ng!" Bentak Yudistira menyuapi Arumi dengan cepat hingga pipinya mengembung karna terlalu banyak makan yang belum ia kunyah ada di dalam mulut itu.
"Mmmmhhh..." Lenguh Arumi.
Tak berselang lama, bunyi ponsel mulai menyelamatkannya "Trrrrttt..."
"Tuan, ponsel anda berbunyi..." Ucap Joe berusaha menolong Arumi yang saat itu ada dalam siksaan tuan muda.
"Sial. Siapa ini?" Tanya Yudistira dan mulai menatap layar di ponselnya "Alex? Ada apa dengannya?" Tanya Yudistira seraya mengusap ponselnya.
"Hallo... Apa Lex?" tanya Yudistira dengan nada sedikit kesal.
"Aku selalu bekerja di rumah dan menyelesaikan tugasku hanya dengan mengetik key board. Kenapa harus repot-repot datang dan membuat kepalaku meledak" Umpat Yudistira mengelak datang.
"Tolonglah tuan muda... Ini sangat penting untuk perusahaan. Dan mungkin kita bisa memenangkan Tender terbesar untuk menunjang kelanjutan perusahaan anda..." Jelas Alex bersikeras.
"Hais. Baiklah... Aku akan berngkat besok... " Yudistira lekas menutup ponselnya dan kembali menatap Arumi.
"Kau!" Pekik Yudistira, Arumi mulai mendonggakan wajahnya dan menatap Yudistira.
"...Besok, layani aku dengan baik... Atur segala keperluanku dan antar aku sampai daun pintu, kau paham?" tanya Yudistira. Arumi mengangguk dengan perasaan campur aduk.
__ADS_1
Sesaat tuan ini terlihat baik, lalu sebentar lagi ia terlihat buruk... Hatinya sungguh tak bisa di tebak, pria ini seperti tengah terserang gangguan jiwa. Bathin Arumi.
"Mulai saat ini, jadilah istri yang baik... Kau akan memenuhi segala kebutuhanku dan segala ke perluanku" Jelas Yudistira beranjak dan mulai pergi meninggalkan meja makan.
Arumi masih diam dan mengunyah apa yang ada di mulutnya saat itu "Hei. Sedang apa kau di sana!" Pekik Yudistira. Arumi menoleh lagi ke arah pria itu.
"Ayo masuk kamar!" pinta Yudistira. Jantung Arumi kembali terpacu, dan ia kembali menelan salivanya.
Astagfirullah, semoga tak ada kabar buruk, semoga tuan angkuh itu lebih baik kala memperlakukan ku yang di anggap istri namun tampak seperti pembantunya ini. Bathin Arumi menggumam. Arumi lekas mengikuti langkah Yudistira dan mereka pun mulai masuk kamar yang sama. Apakah Yudistira berubah pikiran dan mulai menyukai Arumi. Hingga ia butuh sentuhannya malam ini? Bathin Joe menggumam dengan perasaan sedikit senang. Sebab, keberadaan nona Arumi sangat berpengaruh pada psikologis Yudistira yang cenderung serimg uring-uringan. Namun kini suasana hatinya selalu terlihat baik...
Blam!! Pintu tertutup, Arumi terasa kaku saat ini, Ia melihat punggung Yudistira yang melangkah menghampiri matrasnya dan menjatuhkan dirinya di sana. Yudistira mulai mendelik ke arah Arumi dan menoleh ke sana "Apa yang kau lakukan?" Tanya Yudistira menatap di kejauhan.
"Sa... Saya" Arumi tengang saat ini, ia gugup dan takut pada pria yang berstatus sebagai suaminya itu.
"Cepat kemari... Tidurlah" Ujar Yudistira mulai agak baik pada Arumi. Arumi mulai melangkah pelan dan hati-hati. Ia hampiri pria itu dan lekas duduk di ujung ranjang berharap bisa merebahkan tubuhnya yang gemetaran itu.
"Apa yang kau lakukan?' tanya Yudistira.
"Aku..." Arumi belum bisa bicara.
"Jangan duduk di sana bodoh! Tempatmu adalah di karpet itu... Jangan coba menggoda ku dan tidurlah di lantai!" Bentak Yudistira hingga Arumi mulai turun dan meringkuk di lantai yang bertilamkan karpet permadani yang cukup tebal. Tanpa selimut dan tampa bantal.
Menjelang tengah malam...
Yudistira yang gelisah entah apa sebabnya itu mulai bangun dan menatap Arumi. Ia menatap Arumi sangat lama sekali, hingga timbul rasa iba yang tak pernah ia rasa sebelumnya, lalu turun dari ranjang dan melangkah ke arah lemari besar yang ada di ruang ganti.
Ia membawa bantal baru dan selimut tebal, entah apa yang merasuki Yudistira kali ini. Karna sering berbagi Ruangan yang sama, hati Yudistira terenyuh kala wanita itu tidur dengan meringkuk seperti bola dan tampak kedinginan.
__ADS_1
Yudistira perlahan mengangkat kepala Arumi dan mulai menyelimutinya. Ia bahkan menatap paras Arumi selama mungkin, bahkan Arumi menyembunyikan wajah cantik itu kala ia terlelap.
"Apakah ini benar untukku?" Gumam Yudistira. Setelah puas menatap Arumi, Yudistira lekas bangkit dan mulai kembali merebahkan tubuhnya dan kali ini ia benar-benar terlelap.