
***
Waktu menunjukan pukul 00:09 Am...
Arumi bangun beberapa kali untuk memastika Yudistira yang belum kembali dari ruang kerja pribadinya "Apakah... Tuan muda tak akan pulang?" Tanya Arumi. Ia mulai beranjak dan membuka pintu, saat Arumi ada di luar kamar. Arumi pun lihat jelas Yudistira telah melangkah menuju kamar tersebut. Hingga mereka berpapasan "Apa yang kau lakukan tengah malam begini?" Tanya Yudistira curiga.
"Ah tuan. Saya pikir anda tidak akan kembali" Kalimat tersebut lolos begitu saja dan membuat Yudistira berdengus kesal "Apakah itu maumu?" Tanya Yudistira.
"A-apa?"
"Apakah kau suka jika aku pergi, tanpa harus kembali...?" Ulang Yudistira menatap Arumi intrents.
"Sa-saya... Saya tak bermaksud berpikir demikian, saya hanya khawatir pada anda, jadi saya ingin pastikan... Apakah anda baik-baik saja?" Arumi mulai menjelaskan hal tersebut. Yudistira sesaat terdiam... Ia menatap Arumi dalam-dalam, netranya yang lelah itu terlihat begitu sedih dan sayu...
Apa yang pria ini pikirkan? Kenapa di antara tatapan ganasnya. Selalu ada sebuah pesan... Bahwa ia sangat kesepian. Apakah aku harus iba? Sedangkan pria ini lah yang telah menghancurkan pernikahan ku dan mas Alan. Bathin Arumi.
"Apakah kau... Masih memikirkan pria itu?" Tanya Yudistira. Arumi terperanjat dari lamunannya kala pertanyaan tersebut di lontarkan pria tampan itu.
"A-apa maksud anda..." Arumi jadi kalang kabut saat Yudistira bertanya demikian.
"Aku melihatnya dengan jelas, bahwa di matamu memang ada pria itu, dan kamu tak bisa melupakannya kan?..." Tanya Yudistira masih menatap Arumi dengan pandangan lurus dan tajam.
"A-aku tak bisa menjawabnya..." Umpat Arumi.
__ADS_1
"Heh. Dasar! Wanita plin plan! Jika kau masih menyukai pria itu! Kenapa kau malah mengkhawatirkanku... Dasar wanita bodoh!" Yudistira mulai melangkah ke arah kamarnya dan mengabaikan Arumi. Bahkan karna kesal, Yudistira malah menabrak bahu wanita itu dengan keras.
DUK!
"Awww...!!" Pekik Arumi seraya meraba bahunya yang serasa sakit.
Arumi lekas menoleh ke arah Yudistira karna ia khawatir pada pria itu. Namun pria itu malah mengabaikan perasaan Arumi dan malah menutup pintu tersebut dengan keras BLAM!!!
"Aah... Tu-tuan..." Arumi menatap daun pintu itu dan malu untuk masuk ke dalam kamar tersebut.
Sementara di bawah sana, ada Kruss yang menatap di kejauhan... Ia menyungingkan bibirnya seakan puas "Tuan, apakah anda membutuhkan sesuatu?" Tanya Joe. Joe sungguh tak suka melihat Kruss yang tak bisa mengalihkan atensinya sedari tadi pada Arumi.
"Ah. Joe... Kau, mengagetkan saja!" Pekik Kruss membentak Joe.
"Tuan. Jika anda tak membutuhkan sesuatu, silahkan kembali ke kamar tamu. Di kediaman ini, anda harus mematuhi aturan yang telah di terapkan. Jadi... Silahkan, kembali" Joe menyarankan Kruss untuk kembali. Meski dengan kesal, Kruss pun menuruti peringatan Joe yang menegurnya dengan tegas.
"Nona, apa yang anda lakukan malam-malam begini?" Tanya Joe.
"Tuan Joe. Sebenarnya, saya khawatir pada tuan muda... Karna ia belum kembali di jam segini. Tapi, tuan muda salah paham dan malah marah. Apa yang harus aku lakukan, untuk meredam kemarahan pria itu... Aku sungguh bingung" Cerocos Arumi mengutarakan unek-unek di kepalanya.
"Hem..." Joe tersenyum.
"Lho kok tuan Joe malah tersenyum... Apa ada yang salah dengan perkataan ku tadi ya?" Arumi sungguh polos dan jujur, ia bicara kan apa yang ia pikirkan tanpa sensor sedikitpun.
__ADS_1
"Nona... Mulai sekarang panggil saya Joe. Dan anda... Sebaiknya kembali lalu tidur" Jelas Joe.
"Begitu ya... Apa dia tak akan marah?" Tanya Arumi masih ragu untuk masuk.
"Tidak... Silahkan masuk..." Joe mulai memutar langkahnya karna ia pun lelah bekerja seharian hanya untuk mengikuti pria penguasa itu.
"Tu-tunggu... J-J- Joe..." Gagap Arumi. Joe lekas mendekat dan mulai menyimak hal apa yang ingin Arumi sampaikan lagi padanya.
"Sebenarnya... Aku ingin sekali menjenguk ayah angkat di rumah sakit, bisakah anda membujuk tuan Yudistira agar ia mau mengijinkan saya pergi besok?" Tanya Arumi sangat canggung.
Joe tersenyum, apa yang di katakan Arumi selalu membuatnya terkejut "Bagai mana jika anda mencobanya terlebih dahulu untuk membicarakannya dengan tuan muda... Tuan muda, pasti akan mengijinkan anda jika anda sedikit membujuknya" Jelas Joe sungguh tak membantu Arumi. Arumi merasa makin terpuruk kala mendapat nasihat Joe yang menurutnya memberatkannya.
"Begitu ya. Baiklah..." Arumi mulai memutar langkahnya menuju kamar tersebut.
Ia membuka pintu itu pelan, lalu masuk dan menghampiri Yudistira yang kala itu terlelap di matras dengan berbalut selimut.
"Tu-tuan..." Arumi menyeru Yudistira. Namun tak ada respon dari pria itu. Arumi pun lekas menggoyang-goyangkan tubuh pria itu pelan. Namun tetap saja, tak ada balasan yang belarti dari pria itu.
"Apakah anda sudah tidur?" Arumi menggumam. Namun apapun yang ia lakukan, tetap saja... Yudistira tak bangun ataupun menoleh ke arahnya.
"Tuan... Sebenarnya. Saya ingin meminta izin pada anda, saya sungguh ingin menjenguk ayah di rumah sakit... Hanya sebentar saja, jika anda mengijinkan.. Saya akan sangat bersyukur dan sangat berterimakasih... Saya sangat rindu pada Ayah..." Gumam Arumi bicara di samping Yudistira dengan posisi berdiri dengan tatapan menunduk ke bawah. Jantungnya berdebar kencang kala bicara panjang lebar di hadapan pria itu.
"Pergilah..." Balasnya. Arumi mulai mendonggakan wajahnya "Tu-tuan... Apakah anda sungguh setuju jika saya pergi?" Tanya Arumi. Yudistira menggerakan tubuhnya dan merubah posisi tidurnya jadi meringkuk dan membelakangi Arumi "Ku bilang pergilah... Ya pergi saja, hanya satu hari... Bila kau kabur, tanggung sendiri akibatnya" Jelas Yudistira.
__ADS_1
Arumi sungguh senang kala mendengar jawaban yang baik itu. Arumi sangat besyukur "Terima kasih tuan. Saya tak akan melupakan kebaikan anda..." Arumi mulai merasa tenang dan ia pun terlelap malam ini... Sedangkan Yudistira terjaga sepanjang malam...
Matanya enggan terpejam meski saat ini ia begitu lelah. Ia merasa sedikit takut, jika besok ia melepas Arumi keluar dari istananya... Ia takut, bila Arumi tak akan pernah kembali ke kastilnya lagi... Dan membuatnya kembali merasa sangat kesepian...