ISTRI kecil Tuan Yudistira

ISTRI kecil Tuan Yudistira
Memandikan Bayi besar


__ADS_3

***


Pagi yang cerah menyapa seluruh kota... Arumi yang bangun lebih awal usai ibadah subuh mulai berkutat menyiapkan keperluan tuan muda. Meski ia tahu, jika pilihannya tak akan membuat sang tuan muda puas. Tapi tak ada salahnya mencoba...


"Tuan... Tuan..." Arumi mencoba membangunkan sang tuan muda dengan cara menggoyang-goyangkan tubuhnya. Saat Arumi menyentuh bahu itu, Yudistira bergeming dan malah meraih tangan Arumi dengan matanya masih terpejam dan mulai menariknya hingga Arumi terjatuh ke matras


BRUAKK!!


"Tuan!" Pekik Arumk panik. Tapi, Yudistira malah memeluk Arumi tanpa di sadarinya. Dan jika nantinya, Yudistira sadar ia pasti akan marah "Tuan, Tuan bangunlah..." Arumi mulai menggoyang-goyangkan tubuh Yudistira lagi, lalu berusaha keluar dari pelukannya.


"Tuan... Tolong Bangunlah..." Arumi yang mulai kesal pun mencubit pipi Yudistira sekeras mungkin.


Gyuut!


AKHHH! Yudistira terpekik dan mulai membuka matanya, ia mencercapkan matanya beberapa kali untuk menyesuaikan menglihatannya. Saat netra itu menyimak, betapa kagetnya Yudistira kala wajah Arumi dan dirinya berjarak begitu dekat dan saling bertatapan "Ahk!" Yudistira terpekik hingga segera menjauhi Arumi.


"Se-sejak kapan kau ada di ranjangku!" bentak Yudistira menunjuk.


"Saya hendak membangunkan anda, dan anda malah meraih tangan saya hingga saya terjatuh. Lalu anda malah menghimpit tubuh saya hingga terasa patah..." Jelas Arumi. Dan Yudistira mengelak "Mana mungkin aku melakukannya setiap hari padamu! Kau sangat cabul... Dasar wanita penggoda!" Yudistira lekas menjauh dan mulai membuang wajahnya.


"Anda akan ada rapat penting pagi ini... Jadi saya membangunkan anda lebih awal agar anda tidak terlambat" Ucap Arumi. Yudistira mulai memutar bola matanya, dan rupanya yang di katakan Arumi memang benar "Ambilkan minum... Aku sangat haus" Pinta Yudistira.


Arumi mulai melangkah ke samping Yudistira dan meraih gelas yang ada di sampingnya, gelas berisikan air putih itu tergeletak di atas laci lampu malam pria itu "Saya pikir gelas ini ada di sana sedari tadi, kenapa anda tidak meraihnya?" tanya Arumi sembari menyerahkan gelas tersebut ke hadapan Yudistira.


"Lalu apa yang harus aku lakukan?" tanya Yudistira.

__ADS_1


Arumi mulai mendercik kesal "Ck. Dasar manja" bisiknya seraya membantu Yudistira minum dari tangan Arumi. Yudistira tampak seperti bayi besar.


"Siapkan Air hangat di bathtub... Aku ingin berendam... Pastikan airnya tak terlalu panas dan tak terlalu dingin" jelas Yuditira mengingatkan. Arumi pun mulai melangkah ke arah dimana pria itu akan membersihkan dirinya. Sesampainya di kamar mandi, Arumi lekas mengisi bak tersebut dan pastikan air itu hangat kuku dan memasukan beberapa kelopak bunga.


Arumi mulai berdiri dari sana, namun Yudistira masuk dan mereka berpapasan "Aahhh!" Pekik Arumi nyaring, kala melihat Yudistira mulai telanjang dada dan melepas pakaiannya di hadapannya hingga tubuhnya tampak polos tanpa selebar benang yang melekat di tubuhnya. Arumi yang mengumpat di balik kesepuluh jemarinya hanya bisa mundur kala Yudistira menghampiri Bathtub tersebut.


"A-aku akan ke luar" ucap Arumi. Namun, Yudistira meraih tangan Arumi dan menghentikan langkah kaburnya "Mau kemana? Kau kan istriku... Jadi, bantu aku membersihkan diriku" Pinta Yudistira membuat Arumi salah tingkah.


"Ta-tapi tuan..." Arumi enggan menatap Yudistira yang telah telanjang itu, hanya saja Yudistira telah bersembunyi di bawah Air hingga tak terlihat begitu cabul.


"Bila kau menolak, jangan salahkan aku... Jika salah satu tanganmu patah!" bentaknya. Arumi gemetaran akan ancaman pria itu, hingga Arumi pun berbalik ke arah Yudistira, meski lutut wanita itu terasa lemas, Arumi lekas menghampiri Yudistira dengan amat perlahan seakan ketakutan.


"Ba-baik tuan..." Arumi mulai berjongkok dan meraih sabun cair yang ada di dekatnya.


"Lakukan seperti saat aku memandikanmu" jelas Yudistira tanpa ragu.


Akhirnya Arumi menurut dan mulai menyabuni punggung kekar pria berotot itu. Meski tangan Arumi kaku dan gemetaran, ia tetap melakukannya dengan lembut hingga Yudistira merasakan sensasi yang cukup aneh. Ada sebuah kenikmatan tersendiri kala seseorang meraba tubuhnya dengan begitu lembut. Bahkan Yudistira mulai memejamkan matanya...


Ada apa denganku... Kenapa perasaan aneh ini tiba-tiba muncul dan membuatku nyaman. Bathin Yudistira menggumam. Tentu saja, selama dua puluh enam tahun ia selalu menjomblo. Bukan tak laku, tapi ia memilih menjauhi para wanita karna mereka terlalu serakah menurutnya


Yudistira seakan terpancing dan kejantanannya mulai berdiri. Yudistira lekas membuka matanya kala si junior berdiri tegak dan meminta jatah "Berhenti!" bentak Yudistira. Arumi pun mulai menghentikan gerakan itu "Tu-tuan apakah aku melakukan ke salahan?" tanya Arumi tengang.


Yudistira mulai meraih tangan Arumi dan menatap nya tajam "Apa yang kau lakukan dasar ja-lang!!" bentak Yudistira menatap bengis Arumi.


"Ma-maafkan saya..." Arumi sungguh ke takutan setengah mati.

__ADS_1


"Kau! Kenapa kau membuatku serba salah!" Yudistira terus menatap Arumi dan makin haus! Akhirnya Arumi berdiri dan Yudistira pun menarik tubuh Arumi hingga ia tercebur ke bathtub...


BYUURR!!


Yudistira mulai menatap wajah Arumi yang basah. Dan lekas menarik kerudungnya yang terlihat panjang, karna itu adalah mukena putih pemberian Yudistira. Lalu Yudistira pun melempar kain itu jauh-jauh,


Yudistira memang tergoda setiap kali Arumi melepas hijabnya, Yudistira mulai dengan kedua tangan Arumi yang di tahannya dengan kuat, lalu Yudistira mencumbunya.


Ia melu-mat bibir merah Arumi dengan lembut dan mengulangnya beberapa kali. Yudistira menikmati sentuhannya saat melepas hasrat biologisnya yang jahat itu. Apa boleh buat, Yudistira yang kejam tetaplah pria dewasa normal. Jika ia dekat dengan lawan jenisnya ia sama sekali tak bisa menolak godaan itu.


"Mmhh" Arumi meringis kala cumbuan Yudistira telah sampai di lekuk leher jenjangnya dan turun lalu turun lagi. Yudistira sangat bersemangat dan terus mencumbunya "Tu-tuan... Tuan... Lepaskan!" lenguhan Arumi yang terdengar bergetar itu mulai membuyarkan titik pokus Yudistira yang saat itu melepas satu persatu kancing pyama Arumi yang basah dan hendak terlepas sempurna.


"Tuan... Hentikan ku mohon..." Arumi menangis dan wajahnya tampak merah pekat karna malu.


Yudistira tersadar kala pakaian yang Arumi kenakan mulai semberawut dan hendak terlepas. Yudistira juga menatap dua tangannya yang telah mengunci pergerakan Arumi "Apa yang kau lakukan?"Tanya Yudistira garang menatap Arumi.


"Tuan... Seharusnya saya yang bertanya pada anda... Apa yang anda lakukan pada saya?" Tanya Arumi balik tanpa membalas pertanyaan Yudistira.


"Ahk!" pekik Yudistira mulai melepas tangan Arumi.


"Kau...' Bisik Nya nyaris tak terdengar dan Yudistira pun berpaling "Pergi!" Bentaknya.


Arumi lekas berdiri dan lari dengan cepat ke arah kamar Yudistira lalu bersembunyi di ruang ganti pribadi Yudistira.


Sedangkan di kamar mandi... Yudistira hanya bisa menghempas air di bathtub dan uring-uringan "Sial! Apa yang telah aku lakukan..." bentaknya marah pada dirinya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2