ISTRI kecil Tuan Yudistira

ISTRI kecil Tuan Yudistira
Jadi istri yang baik


__ADS_3

***


Yudistira selesai membesihkan dirinya, Ia mulai masuk kamarnya dan meraih pakaian yang telah Arumi siapkan untuknya "Mana wanita itu..." Bisik Yudistira menelisik sekeliling.


Tak ada tanda-tanda bahwa Arumi ada di kamarnya. Hingga Yudistira pun mulai melangkah ke arah ruang ganti pribadi miliknya.


GRRREETTT! Pintu ruang ganti itu di geser kasar dan ia pun masuk, ternyata Arumi bersembunyi di ruangan tersebut. Arumi mengganti pakaiannya yang basah itu dengan pyama milik Yudistira "Apa yang kau lakukan?" Tanya Yudistira membentak. Arumi lekas menoleh "Ah tuan... Maafkan saya, saya meminjam pakaian anda tanpa bertanya terlebih dahulu" Ucap Arumi kaku dengan nanar menunduk tak berani menatap Yudistura.


Yudistira mendekat dan melepas kimononya begitu saja di depan Arumi "aaah!" Arumi teriak lagi "Kenapa kamu malah teriak?" tanya Yudistira tersinggung. Ia mendelik tajam ke arah Arumi.


Arumi hanya bisa menunduk "A-anda melepas pakaian anda di depan seorang wanita..." Umpat Arumi menunduk.


"Kau benar... Kau adalah seorang wanita, tapi... Kau harus tahu, jika aku adalah suamimu" jelas Yudistira terus mendekati Arumi. Arumi sedikit panik dan ia malah mundur...


"Ta-tapi tuan" gagap Arumi.


"Sebaiknya... jangan lihat jika kau tidak suka..." jawab Yudistira dingin seraya mulai berpakaian.


Usai memakai seluruh pakaiannya... Yudistira lekas mengambil dasi dan menyerahkannya pada Arumi "Ini..." Ucap Yudistira.


Arumi bengong dan menatap dasi tersebut "A'apa itu?" Tanya Arumi.


"Ini dasi... Kau pikir apa?" Yudistira membentak.


Arumi pun mengambilnya dengan tangan yang gemetara, dan itu menarik perhatian Yudistira "Pasangkan di leherku..." Ucapnya.


Arumi pun mulai berusaha, namun karna Yudistira terlalu tinggi, Arumi jadi harus mencari sebuah kursi kecil dan naik ke atasnya untuk menyamakan keadaan.


Yudistira sedikit menyeringai, jika Arumi melepas kerudungnya... Arumi sangat berbeda dan itu membuat Yudistira tersenyum "I-ini pertama kali nya saya memasang dasi di leher seseorang, maaf jika hasilnya tak terlalu bagus..." Ucap Arumi sangat berusaha, ia berkata dengan suaranya yang parau.

__ADS_1


"Kalau begitu, berusahalah lebih keras, karna kau akan melakukannya setiap hari..." Jelas Yudistira seraya menghempaskan tangan Arumi dan mulai menjauhinya.


"Ikut aku... Kau masih harus mengurus segala kebutuhanku ketika aku ada di rumah" Jelas Yudistira meraih jasnya dan melangkah ke luar kamar Yudistira. Arumi bingung, ia mencari sesuatu untuk menutupi rambutnya.


"Ba-baik..." Arumi meraih handuk dan membelitkannya di rambutnya.


***


Yudistira duduk seperti biasa di meja makan, sedangkan Arumi mulai menuang nasi dan kuah nya yaitu sup buntut "Setiap hari tuan kaya ini makan makanan seperti ini?" Bathin Arumi menggumam.


"Apa yang kau pikirkan?" tanya Yudistira.


Lamunan Arumi buyar dan ia pun lekas menoleh "Kau masih harus menyuapi ku..." Jelas Yudistira.


Arumi pun menyingkup sendok itu dan mulai menyuapi tuan Angkuh itu, ia melakukannya seperti tengah merawat seorang bayi...


"Rasany sangat kesal..." Bathin Arumi menggumam.


Arumi mulai menunggu Yudistira selesai mengunyahnya "Apa yang kau lakukan? Cepat suapi aku..." Tgasnya lagi. Sontak Arumi keget dan lekas kembali menyuapinya lagi.


"Berhenti!" Yudistira menghempas sendok dari tangan Arumi itu dan seluruh isi sendok itu tumpah kemana-mana.


"Aah..." hanya itu yang keluar dari mulut Arumi ketika tangannya di tepis oleh Yudistira.


GREEPP! Lagi-lagi Yudistira mencubit pipi kedua Arumi dan menekannya "Sudah ku bilang... Kau adalah istriku! Jadi kau harus penuhi segala ke butuhanku!" Ucapnya dengan tatapan yang tajam dan dingin.


"Ta-tapi saya sudah berusaha..." Balas Arumi merengutkan wajahnya, ada rasa sakit kala Yudistira menekan pipinya kuat-kuat hingga Wajah Arumi memerah.


"Berusaha katamu..." Yudistira mulai menghempas wajah Arumi dan meraih mangkuk di tangannya "Heh. Aku heran, kenapa saat menatap mu... Aku jadi sangat membencimu! Mungkin karna kau, adalah wanitanya Alan musuh ku itu..."Umpat Yudistira membuang wajahnya.

__ADS_1


"Tapi tuan... kenapa anda membenci kluarga Anggara dan bahkan anda pun membenci saya... Benci hanya akan menyisakan luka di hati tuan, dan akan menyiksa anda seumur hidup... Sebaiknya anda hindari perasaan itu..." Ujar Arumi. Nasihat Arumi membuatnya tak suka, Joe ada di sana dan ia pun mulai keget kala Arumi berkata demikian, Joe takut jika Arumi menyinggung Yudistira, maka Arumi akan menerima hukuman.


"Kau harus tahu! Aku sangat mendendam pada kluarga itu! Dan karna kau adalah calon istri musuhku! Aku pun sangat membencimu! Camkan itu!" Bentak Yudistira seraya pergi dari Arumi.


Arumi kembali bicara "Jika tuan mengenal tuhan tuan, tuan tak akan pernah membenci atau mendendam... Dendan dan benci itu adalah dua hal yang harusnya tak ada dalam hati manusia, Karna dendam hanya akan membuat anda tersiksa, Menang jadi arang.. Kalah jadi abu... Dendam hanya akan mendatangkan dendam baru tuan... Jika anda bisa ikhlas, anda akan jadi pribadi yang baik..." Jelas Arumi panjang lebar. Yudistira lekas berbalik dan mulai murka atas nasihat Arumi yang menurutnya merendahkannya.


"Beraninya kau menasihatiku tanpa tahu apa alasanku membenci mereka!" Yudistira memegang bahu Arumi dan menekannya kuat-kuat, hingga Arumi meringis "Sa-sakit tuan..."


"Jika sakit dan tak ingin aku aniaya lagi... Tutup mulutmu dan diam! Jika kau terus bicara! Maka aku akan merobek mulutmu dan mencabiknya! Kau paham!!" Bentak Yudistira. Arumi pun mengangguk dengan menahan air matanya yang hendak terjun.


"Heh. Bagus... Anak baik" Yudistira menyeringai dan mulai melangkah menuju pintu keluar.


"Ikuti aku..." Ucapnya. Arumi pun mulai melangkah mengikuti pria itu.


Sesampainya di pintu keluar, Arumi menyerahkan tasnya dan melepas Yudistira "Kenapa kau diam?" tanya Yudistira. Arumi hanya menatap pria itu tanpa bertanya.


"Mulai saat ini, kau harus terbiasa..." Jelas Yudistira mengarahkan tangannya ke Arumi "Kau harus mencium tangan suamimu..." Jelas Yudistira, barulah Arumi paham...


Arumi lekas meraih tangan yang di sodorkan itu dan lekas mengecup punggung tangan tersebut. Joe menatap intrents pemandangan indah itu "Mulai ada perubahan dalam diri tuan muda..." Bathin Joe menggumam.


Usai mengecup lengan itu, Yudistira menghampiri Arumi dan lekas mengecup keningnya.


"Tunggu aku pulang dan sambut aku! Kau paham!" Tegas Yudistira Arumi pun mengangguk tanpa suara.


"Anak pintar!" Imbuh Yudistira seraya pergi dari Arumi.


"Joe. Ayo kita berangkat" Joe pun mulai menghampiri Yudistira dan mereka pun berangkat bersama.


Arumi masih berdiri di front kediaman Yudistira yang megah bah istana itu, hingga Yudistira menghilang dengan mobilnya.

__ADS_1


Arumi sangat gemetaran karna takut, ia pikir ia akan di siksa seperti pertama kali ia datang ke lediaman tersebut.


__ADS_2