
***
Meja makan tertata rapih dan hidangan siap di santap. Arumi menunggu suaminya dengan sabar dan penuh senyuman.
"Hari ini... Adalah hari istimewa suamiku. Meski hari ini juga seharusnya hari yang cukup memilukan bagiku. Tapi... Asalkan suamiku bahagia itu saja sudah cukup..." Bisik Arumi menyelesaikan sentuhan terakhirnya dan Riasan meja makan pun sempurna, dan begitu menggoda selera.
"Wah nona... Ini begitu istimewa dan sangat mewah..." Ujar Bi Inah terpukau dengan tatapan berbinar.
"Benar... Nona anda sangat hebat..." pekik Yola menepuk pungung Arumi penuh semangat.
"Ya Yola. Ini juga berkat kerja keras kita..." Balas Arumi dengan nanar yang berbunar.
Saat Bi inah, Arumi dan Yola merayakan hasil kerja sama mereka dengan penuh semangat. Salah satu pelayan yang bertugas mengurus dapur pun datang menghampiri bi Inah dan ia sedikit terkejut "Oh astaga... Siapa yang melakukan ini semua?" Tanya Petugas dapur tersebut kaget dan sedikit pucat.
Yola lekas menghampiri Pelayan itu dan menyeretnya menjauhi Arumi yang saat itu ingin bertanya, tentang apa yang salah di meja makan itu, hingga sang pengurus dapur itu begitu kaget dengan wajahnya yang pucat.
"Ayo ikut... Ada hal yang ingin aku bicarakan sedari tadi dengan anda..." Ujar Yola menyeretnya menjauh.
"Ta-tapi, Jika memasak makanan sebanyak itu tuan muda bisa..." Tak sempat Arumi mendengar pelayan tersebut menyelesaikan kalimatnya, Yola berhasil menyeret wanita itu hingga mereka menghilang di balik pintu.
"Nona Arumi..." Tepuk Bi Inah membuyarkan titik pokus Arumi yang saat itu memperhatikan kepergian Yola dan pelayan tersebut.
"Astagfirullah bi inah selalu saja mengagetkan ku..." risau Arumi mengelus dadanya karna kaget.
"Non.. Jangan selalu melamun" Ujar Bi Inah.
__ADS_1
"Tidak bi. Aku hanya penasaran, sebenarnya apa yang ingin di bicarakan oleh pelayan tersebut" Arumi sedikit tertarik oleh perkataan pelayan tersebut yang belum tuntas, hingga ia pun terus pokus pada tingkah Yola dan pelayan itu.
"Apakah nona Cemas?" tanya Bi Inah dan Arumi pun lekas mengangguk diam.
"Jangan cemas... Mungkin tuan sangat senang jika ada makanan sebanyak itu..." Jelas Bi Inah mencoba meyakinkan Arumi.
Arumi pun mulai mengangguk dan segera mengembangkan bibirnya tipis "Benar bi... Lagi pula, aku belum pernah memasak makanan special seperti ini... Apa lagi ini, untuk suamiku sendiri" Jawab Arumi dengan mata berbinar. Saat Bi Inah dan Arumi berbincang di depan meja makan penuh hidangan istimewa buatan Arumi. Suara beberapa mobil pun mulai terdengar...
"Tuan muda sudah kembali..." sahut Kepala pelayan rumah itu. Arumi pun menoleh dan bergegas pergi ke tempat tersebut.
"Sambut tuan muda secepatnya... Sebelum ia mengamuk" pinta kepala pelayan rumah itu.
Arumi pun mulai menghampiri daun pintu utama kediaman Yudistira dan berjejer di antara para pelayan lainnya. Tak lama tubuh Yudistira pun mulai keluar dari dalam mobil, namun ternyata tampaknya ia tidak sendiri.
Ada beberapa rekan kerjanya yang membuntuti langkahnya dari belakang. Hingga langkah Yudistira mulai sedikit mendekat ke arah Arumi "Se-selamat datang tuan... Apakah hari anda menyenangkan?" tanya Arumi berusaha menyapa dan begitu ramah pada suaminya.
"Kalian... masuklah" Imbuh Yudistira begitu dingin. Kruss masuk lebih dulu dan ia bersikap seperti biasanya begitu genit pada Arumi "Hai nona, bagai mana kabarmu... Lama tak bertemu tubuhmu makin indah saja" Gerutunya begitu Fulgar, Yudistira marah dan mendelik tajam ke arah Kruss. Tapi nampaknya tatapan pedas itu tak berpengaruh untuk Kruss. Yudistira pun marah dan lekas mencengkram pergelangan tangan Arumi yang saat itu memeluk tas Yudistira, lalu menyeretnya menuju ke lantai dua. Yakni kamar pribadi mereka "Ikut aku..." ucapnya kasar.
Kruss terpana hingga mematung di depan daun pintu... "Kruss bodoh! Kau memaksa ingin makan malam di kediaman Tuan Yu untuk merayakan ke berhasilan kita. Tapi justru kau mengacau. Jangan jangan niat mu yang sebenarnya adalah menggoda Wanita nya tuan Yu!" Komen Alex sedikit marah oada Kruss dan tingkahnya itu.
"Heh... Kau hanya sedang mengira-ngira... Aku kemari karna makanan di rumah ini sangat enak saja. Itu saja" Ringan jawaban itu lolos dari mulut pria berambut pirang tersebut.
"Sudah-sudah... Dari pada kalian bertengkar, lebih baik kita masuk saja" Jelas Aska, Aska pun sedikit sebal pada Kruss hingga ia masuk ke dalam rumah itu dengan menabrak bahu Krus sangat keras BRAK!!
"Aw! Kau sengaja ya? Dasar!" amuk Krus mengepalkan tangannya ke arah Aska.
__ADS_1
"Kalian sangat kekanak-kanakan!" Alex pun masuk. Sementara Joe yang sedari tadi diam itu mulai menjalankan tugasnya dengan sangat hati-hati.
Dari gelagatnya saja, pria itu memang terlihat sangat terobsesi pada nona Arumi. Kruss tife pria yang sangat berbahaya. Bathin Joe munggumam.
Mereka pun mulai masuk ke area ruang tamu... Dan Yudistira sedari tadi belum keluar dari kamarnya.
BLAM! Pintu di tutup kasar. Arumi di seret lalu di lempar ke matras "Aak!" Arumi terpekik. Yudistira yang tentramental itu masih berdiri di depan pintu dengan napas tak karuan. Sesaat amarahnya sampai di ubun-ubun "Apa yang sudah kau lakukan?" Tanya Yudistira menunjuk Arumi begitu marah.
Arumi mulai bangun dan berusaha duduk dengan menahan tubuhnya oleh kedua tangan yang ada "T-tuan... Saya sungguh tak paham maksud anda" balas Arumi gagap.
"Kau! Lagi-lagi pria itu memuji mu!" Yudistira mendekati Arumi selangkah demi selangkah.
"S-siapa maksud anda?" Arumi panik dan mengingsut ke kepala ranjang untuk menjauh dari pertanyaan tak berdasar Yudistira yang Arogan itu.
"Kau main mata dengannya?" Yudistira menghampiri Arumi dekat dan makin dekat saja.
"T-tuan. Jangan begini... Aku sungguh tak paham apa sebenarnya maksud anda..." Arumi mulai menitikan aur matanya karna takut oleh tatapan Yudistira yang begitu kejam.
DAK! Yidistira mendang kaki ranjang keras hingga Arumi makin takut dan terperanjat. Melihat Exspresi Yudistira yang begitu marah seakan ingin membunuhnya. Arumi pun mulai bangkit dari duduknya dan mulai berusaha kabur dari cengkraman Yudistira.
"Aaak!" Arumi lari dan Yudistira pun menangkap tubuh wanita itu "Apakah kau akan kabur ke arah pria berambut pirang itu?' Tanya Yudistira mulai mengeratkan rangkulannya lalu mencubit pipi Arumi dan mengarahkan wajah Arumi secara paksa untuk tetap menatap pria itu.
"T-T-tidak... Anda hanyalah salah paham... A-aku tidak berniat kabur dari anda..." Jelas Arumi terbata-bata ia begitu takut akan tatapan Yudistira yang menyakitkan di hati wanita itu.
"Menangis? Hanya itu yang bisa kau lakukan?" tanya Yudistira melotot di iringi senyuman menyunging yang tajam.
__ADS_1
"H-hikss...' Tangisan mulai pecah. Yudistira makin tak tahan dan meluapkan amarahnya pada wanita itu "Kau... Harus di hukum!" bentaknya seraya mendekatkan wajahnya dengan bibir Arumi lalu mengecupnya kasar. Arumi terbelalak karna napasnya seakan tertutupi kecupan panas itu.
"Nggghhh!" hanya itu yang mulai terdengar kala pertengkaran berujung sebuah kecupan.