ISTRI kecil Tuan Yudistira

ISTRI kecil Tuan Yudistira
Kejutan


__ADS_3

***


Mobil Yudistira yang di kemudikan Joe telah sampai di garasi rumah. Arumi bersama Bi Inah sudah bersiap untuk menyambut kedatagan Yudistira. Arumi bahkan sampai membuat sebuah boxs kecil dan mengemasnya menjadi sebuah kado. Ia berharap Yudistira akan bahagia dengan kabar baik itu.


"Non Arum! Tuan Yudistira sudah sampai di depan pintu" Ujar Bi Inah mulai membuka kan pintu depan rumah itu.


"Bi... Kita buat suamiku kaget ya" Ucapnya. Bi Inah pun mengangguk. Sedangkan Yolla tak ikut dengan rencana Arumi karna ia sibuk dengan hal lain.


Yudistira mulai sampai di depan pintu yang telah di buka Bi Inah untuknya "Selamat siang tuan... Tumben anda pulang cepat" Ujar Bi Inah.


"Tuan sedang tidak enak badan" jawab Joe. Yudistira hanya tersenyum lalu mengabaikan bi Inah.


"Mas. Wajahmu pucat sekali" Arumi cukup khawatir pada ke adaan Yudistira yang terlihat drop.


"Ia. Ini karna aku muntah muntah nggak jelas! Bahkan selera nafsu makan ku hilang setelah aku melihat makanan beraroma bawang. Memangnya aku ini vampire? Setiap mencium bau bawang, maka aku akan muntah" Cerocos Yudistira tidak senang.


Bi inah tersenyum dan membuat Yudistira marah "Bi. Kenapa bi Inah terlihat senang begitu mendengarkan ocehanku? Memangnya semua itu lucu untuk ibu?" Tanya Yudistira sedikit menaikkan nada bicaranya.


"Mas. Jangan ngambek begitu sama bi inah. Nggak sopan membentak orang yang lebih tua dari kita..." Ujar Arumi.


"Ya. Habisnya aku kan sedang mengeluh tentang penyakit aneh ini! Bahkan dokter bilang kondisiku baik baik saja? Dasar dokterpun nggak becus memeriksa tubuhku ini" Cerocos Yudistira memaki dokter dengan kinerja yang tak membuatnya puas itu.


"Sudah sudah... Dari pada marah marah. Mending aku siapkan air hangat, lalu kamu mandi mas... Aku punya kejutan buat kamu" Arumi lekas menarik tas kerja Yudistira dan menyerahkannya pada Joe. Lalu menarik jas Yudistira yang menempel di tubuhnya dan membelitkannya di tangannya.


"...Tolong siapkan air. Lagi pula... Apa hadiah darimu? Apakah itu sesuatu yang membuatku bisa lebih baikan?" Tanya Yudistira sedikit penasaran.


"Kamu istirahat saja dulu mas. Aku akan menyiapkan air hangat untuk mu berendam" Ujar Arumi. Yudistira pun duduk lemah tak berdaya di kursi ruang tengah dan menyendekan kepalanya di kulit sofa.


"Aku sungguh lelah sayang" Umpat Yudistira menahan tangan Arumi yang hendak meninggalkanya.


"Apakah kamu mau rebahan dulu mas? Atau duduk dulu di sini lalu berendam?' Tanya Arumi.


"Apa saja deh. Yang jelas, aku sangat lemas" ucap Yudistira.


"Nanti setalah kamu berendam. Aku akan buatkan escream coklat untukmu mas" Ujar Arumi.


Yudistira lekas terperanjat "Benarkah?"


"Tentu... Kalau begitu, aku siapkan air dulu buat kamu ya mas?"


"Ya. Jangan lama lama... Aku mau makan escream rasa coklat nih" Rengek Yudistira.


"Nanti aku akan kembali kok mas. Buat ngabarin kalau airnya sudah siap" Ucap Arumi. Arumi pun lekas pergi ke arah kamar pribadinya lalu menyiapkan air hangat di bathtub dan mulai menyeru Yudistira.


"Mas..." Seru arumi.


Tak ada jawaban yang belarti dari Yudistira hingga ia pun lekas kembali dan menghampiri Yudistira. Namun, Yolla tiba tiba menyeru "Nona Arumi. Anda mau memasak apa untuk makan malam nanti?" Tanya Yolla.


"Eh... Entahlah. Aku mau tanya sama mas Yudistira, soalnya dia tidak mau makan makanan yang mengandung bawang" Balas Arumi dengan seutas senyum.


"Begitu ya. Aku mau belanja bersama bi Inah ke swlayan. Jadinya, aku mau beli bahan bahan yang akan non Arumi butuhkan"


"Begitu ya? Aku akan masak sop buntun jadi tolong belikan daging sapi segar saja..." Pintanya.

__ADS_1


"Baik... Saya akan segera pergi"


Yolla mulai enyah dari hadapan Arumi namun ia menyisakan delikan yang tak arumi sadari, juga sebuah senyum menyunging yang cukup misterius, memang apa yang akan Yolla perbuat pada Arumi.


"Mas..." Arumi menghampiri Yudistira, tapi Yudistira malah terlelap.


"Mas... Kamu mau tiduran di kamar gih. jangan di sopa, nanti badan kamu bisa pegal" ujar Arumi menggoyang goyangkan tubuh suaminya agar ia bisa bangun.


"Emmmh" Yudistira hanya mengerang.


"Mas. Bangun... Tidurnya di kamar yuk" Pinta Arumi membujuk.


Yudistira yang hampir menyelam ke alam mimpi pun mulai terbangun sedikit demi sedikit.


"Sayang..." Bisiknya. Yudistira tak sadar jika Joe sedang berdiri di belakang sopa tempatnya merebahkan kepalanya.


"Ada apa mas?"


"Aku mau... Boleh ya, sekalian berendam... Temani aku ya" pinta Yudistira.


Arumi tersenyum seraya memperingati Yudistira "Mas. Bicaranya di kamar saja"


"Lho. Memang kenapa, ini kan rumahku" Respon yang cepat dari Yudistira tapi ia tak sadar jika Joe ada di sana dan mendengarkan permintaan Yudistira tentang hasratnya.


"Tapi tak enak di dengar orang. Aku malu mas" Arumi menunduk.


"Mendegar, memang siapa lagi yang ada di ruangan ini selain kita?" Tanya Yudistira pada Arumi.


Sontak, Yudistira mulai menoleh ke arahnya dan mematap Joe dengan mata membulat "Joe! Sedang apa kamu di sini?" Yudistira tampak malu ketika menyadarinya.


"...Sedari tadi saya sudah berada di sini" Ujar Joe.


"Disini? Belarti kamu menguping dong?"


"Saya hanya tidak sengaja mendengarnya tuan" Elak Joe dengan senyuman isengnya.


"Apa itu? Kau tersenyum?"


"Mas. Kita pindah ke kamar yah... Malu"


"Astaga. Kau... Hais! Aku akan pindah ke kamar ku. Lain kali jangan menguping pembicaraan orang lain. Kamu tak tahu... Aku jadi malu tahu!" Cerocos Yudistira.


Yudistira yang terlanjur malu mulai menarik tangan istrinya dan menyeretnya ke kamar "Mas. Pelan pelan sakit"


BLAM!


Yudistira menutup pintu kamarnya kesal. Arumi dan Yudistira mulai ada di dalam kamar "Sayang. Aku kangen" bisik Yudistira menghampiri wajah Arumi berharap sentuhan darinya.


"Mas. Mandi dulu... Air sudah siap"


"Huh. Aku masih kangen kamu nyuruh nyuruh terus..."


"Mas. Sana bersihin dulu tubuhmu yang berkeringat. Nanti ada hal yang ingin aku sampaikan padamu mas" ujar Arumi.

__ADS_1


Yudistira pun terpaksa menuruti permintaan Arumi dengan melangkah malas ke arah kamar mandi. Tak berselang beberapa menit, Yudistira mulai kembali dengan tubuh yang bersih wangi juga segar.


"Wah. Kamu segar banget mas... Sini, pakai pakaian ini... Aku udah menyiapkannya untuk kamu mas"


Yudistira seakan terhibnotis oleh permintaan istrinya, ia mau maunya menerima suruhan atau pun permintaan dari istrinya tanpa menolak.


"Kita ke meja makan mas. Aku udah menyiapkan escream untukmu"


"Benarkah?" tanya Yudistira.


"Ya...' Arumi tersenyum. Yudistira penuh semangat seperti anak kecil yang mendapat hadiah dari orang tuanya.


Ia lekas berlari seketika itu dan meninggalkan arumi di kamarnya "Dasar kamu mas..." Arumi tak habis pikir oleh kelakuan suaminya yang kekanak kanakan itu.


Mungkin karna Yudistira tumbuh tanpa kasih sayang orang tuanya hingga ia berperilaku normal dan abnormal. Kadang kadang tegas seperti orang dewas pada umumny. Kadang kadang dia seperti anak kecil.


Sesampainya di meja makan...


Yudistira terdiam mematung seraya menatap kado kecil di atas meja makan beserta semangkuk escream buatan istrinya.


"Apa ini?" Bisiknya.


"Itu kado untukmu mas" Arumi menghampiri suaminya.


"Kado? Memangnya hari ini adalah hari ulang tahunku ya?" tanya Yudistira seraya menarik kado tersebut.


"Bukalah mas. Kamu pasri bahagia"


Sesuai anjuran Arumi, Yudistira yang tak sabaran itu pun lekas membuka kotak itu "Kamu suka nggak mas?" tanya Arumi.


Yudistira hanya terbelalak seraya meraih sebuah alat test kehamilan yang brtandakan dua strip merah pekat.


"Sayang, apa ini?"


"Mas. Itu adalah hasil testku... Aku positif mas" ujar Arumi. Yudistira menoleh ragu ke arah arumi.


"Positif?"


"Ya mas. Aku hamil..." Jelas Arumi. Sontak Yudistira lekas membelalakan matanya lebar lebar.


"Hamil?" Nanar Yudistira mulau berubah memerah dengan tatapan berbinar.


"Ya. Mas, selamat ya... Sebantar lagi. Akan ada seseorang yang memanggilmu dengan sebutan ayah" Jelas Arumi.


Test tersebut jatuh dari tangan Yudistira, Yidistira mulai menghampiri istrinya lalu memeluknya erat.


"Terimakasih sayang. Ini adalah kado terhebat yang pernah aku dapatkan" Yudistira menangis haru bahagia dan campur adauk perasaannya.


"...Sama sama Mas. Kamu adalah pria beruntung yang paling sempurna.


Joe melihat di kejauhan dan mulai berasumsi "Lantas saja tuan Yu mual mual dan muntah. Rupanya ia sedang ngidam... Dan aneh nya lagi. Bukan nona Arumi yang ngidam. Tapi malah ke tuan Yudistira... ini sungguh luar biasa" Bathin Joe menggumam.


Mungkin karna perlakuan buruk Yudistira pada Arumi sebelumnya. Hingga ia jadi mendapatkan hukum karma...

__ADS_1


__ADS_2