
Jelas saja Andes terperangah dengan sikap konyol adiknya ini. Dimana mereka berdua memang telah sah menjadi sepasang tunangan. Pria itu masih melongo akan sikap Cici, Dimana adik sekaligus tunangan nya itu malah memintanya untuk menciumnya.
"Come on bang!. Kiss me please!. " Ulang Cici dengan tatapan menggodanya.
"Jangan gila kamu!, " Andes menggelengkan kepala nya. Dan ingin beranjak pergi dari hadapan Cici. Gadis cantik dengan bola mata indah itu, Yang saat ini malah terlihat mesum padanya.
Bukannya takut, Cici malah menghalangi langkah Andes dengan membentangkan salah satu kaki jenjangnya. Sontak membuat Andes menghentikan langkah kakinya.
"Apa kau tidak bisa berhenti menggoda ku?. Hem?. " Andes bertanya sambil melirik kaki jenjang Cici.
"Kalau iya, Kenapa?. " Tantang Cici dengan senyum penuh artinya.
"Kau akan menyesalinya. " Ancam Andes dengan suara seraknya. Pria itu juga hanya melirik sekilas pada tunangannya, Sebab Andes yakin jika Cici tak akan mempan untuk di ancam bagaimana pun juga.
Sreppptt!
Tanpa di duga, Kekhawatiran Andes akhirnya terjadi juga, Dimana Cici langsung menarik lengan tangan Andes. Sehingga tubuh kekar Andes yang tak siap, Kini berbalik badan dan condong kearahnya. Senyum menawan dengan penuh sawan ikut terbit dibibir ranum merah muda milik Cici.
Tangan Cici mulia terulur dan membelai nakal jakun yang masih sedikit basah akan keringat sisa olahraga Andes beberapa menit yang lalu. Kemudian terus turun kebawah-bawah sana.
__ADS_1
"Cici!!!. " Geram Andes sambil menahan aksi nakal tangan gadis cantik itu.
"Apa bang?. " Cici malah terus menggoda Andes, Bahkan ia sambil mengedipkan sebelah matanya. Tanpa merasa takut sedikitpun pada pria tampan nan rupawan. Yang Saat ini ada di hadapan nya.
"Berhentilah berbuat konyol seperti ini!. Jika kau tidak mau membangunkan sesuatu yang masih belum saatnya bangun!. " Tutur Andes dengan nada peringatan nya.
Lagi-lagi Cici tak mengindahkan ucapan Andes. Gadis itu malah semakin menggila saking konyolnya. Ia pun menyambar bibir tebal milik Andes, Sambil menyesapnya perlahan namun pasti.
"Bagaimana rasanya, bang?. " Tanya Cici menggoda Andes kembali. Setelah ia menjeda ciuman nya.
Andes tak menjawab nya, Pria itu hanya diam sembari menyeka sisa saliva di permukaan bibirnya. Tatapan nya terus tertuju pada Cici. Dimana gadis berwajah cantik jelita itu, Malah semakin terlihat mesum saja.
Kini giliran Andes yang menyerang Cici. Sehingga tubuh ramping Cici sampai hampir terlentang di atas meja minimalis tersebut. Tapi, Saat Andes telah menyambar bibir merah muda tunangan nya. Cici malah memejamkan matanya agar ia bisa menikmati kecupan, dan sesapan Andes saat ini. Kedua tangan Cici kembali di kalungkan di leher Andes.
Ting!!!
Tong!!!
Saat keduanya sedang asyik bertukar saliva satu sama lainnya. Tiba-tiba bel Apartemen berbunyi, Sehingga Andes segera menyudahi ciuman nya.
__ADS_1
"Biarkan saja! " Ucap Cici berusaha mencegah Andes untuk beranjak pergi.
"Bagaimana kalau itu Daddy atau Mommy?, " Andes baru sadar setelah menyudahi ciuman, Yang hampir panas itu dengan adik sekaligus tunangan tersebut. Bahwa apa yang barusan saja terjadi sebenarnya tak boleh ia lakukan. Namun, Ia juga tak kuasa menahan diri lagi. Saat Cici menatap nya sedemikian rupa.
"Paling juga di kawinkan. " Jawab Cici dengan sangat entengnya. Seolah ia sendiri sudah siap untuk menikah muda.
Pletak!
"Awww... "
"Selesai kan dulu kuliahmu itu!. Baru mikirin kawin!. "
"Katanya kawin itu enak, Bang." Timpal Cici asal.
"Jangan sok tahu, Kamu!. " Andes benar-benar kehabisan kata-kata nya. Jika berurusan dengan Cici dalam situasi seperti ini.
"Mari kita coba!. "
"Oh, Astaga" Andes kesal sendiri, Dan mengusap wajahnya kasar. Lalu langsung beranjak pergi dari hadapan Cici.
__ADS_1
"Abangggg... Oh Abanggg... " Teriak Cici dengan nada sangat manja.