
Pulang dari pemakaman ibunya Venus. Andes langsung mengajak Cici untuk segera pulang. Namun, Karena suasana sudah malam. Akhirnya Andes memutuskan untuk pulang ketempat lain. Bukan langsung ke Mension utama. Sebab, Ia juga telah merencanakan semua ini sebelum ia berangkat ke desa tempat dimana orang tua sekretaris nya itu tinggal.
Andes melirik calon istri nya. Yang mana malah nampak hening tak ada suaranya sedikitpun. Karena tak biasanya Cici diam saat dalam perjalanan ataupun dalam situasi seperti apapun. Namun, Begitu Andes meliriknya. Ternyata Cici sudah terlelap dengan mulut yang sedikit menganga.
Andes menghela nafasnya lega. Karena wanitanya itu tidak akan membuat ulah jika sudah terlelap begitu. Dengan sudut bibir yang terangkat tipis. Senyumnya memang sangat pelit sekali. Hanya saja sayangnya tak mengurangi kadar ketampanan nya sedikitpun juga.
"Kau ini akan jauh terlihat cantik jika kalem begini. " Guman Andes seraya membenarkan posisi tidur tunangan nya itu. Ketika ia telah menepikan mobilnya. Hanya untuk membenarkan kepala Cici. Dan menutupi tubuh Cici dengan jasnya yang ada di jok penumpang sana. Serta menurunkan sedikit jok mobilnya, Agar Cici bisa sedikit lebih nyaman.
Helaian anak rambut yang menutupi wajah Cici. Andes singkirkan perlahan, Sehingga wajah cantik itu nampak jelas di depan matanya. "Dasar bodoh, Kenapa kau selalu bersikap konyol saat di depan ku?. Hm?. " Andes menggeleng kan kepalanya pelan. Bahkan, suaranya juga terdengar lirih.
__ADS_1
"Kau tahu, Jika aku kesulitan menahan diri ini. Tapi kau malah semakin keterlaluan saja. " Sambung Andes lagi seraya menatap wajah cantik gadis muda. Yang telah menjadi tunangannya itu.
Setelah puas menatap nya dengan tatapan penuh cinta. Andes kembali melajukan mobilnya. Karena, Ia juga tak ingin membiarkan Cici tidur dengan posisi seperti itu lebih lama lagi. Lagian tempat yang akan ia tuju sudah tak jauh lagi dari posisi nya saat ini.
Andes juga tadi sudah memberikan bela sungkawa untuk sekretaris nya. Serta memberikan cek untuk membantu semua keperluan pemakaman ibunya. Walaupun Venus sendiri menolak nya, Sebab ia merasa masih mampu untuk itu semua. Hanya saja, Andes tidak menerima penolakan dalam jenis apapun. Bahkan, Andes memberikan waktu cuti selama beberapa hari. Agar Venus bisa lebih lama untuk tinggal di sana. Dan menenangkan pikirannya dulu. Walaupun, Andes juga tahu jika itu bukan orang tua kandung Venus.
Nampak dari arah Villa datang seorang pria. Yang menghampiri mobil Andes. Membantu tuannnya untuk membuka pintu mobilnya.
"Semuanya sudah saya siapkan di dalam Villa. Tuan. " Ujarnya setelah ada di hadapan Andes.
__ADS_1
Andes pun hanya menganggukkan kepalanya saja. Dan mulai mengitari mobilnya, Untuk membawa tunangan nya masuk kedalam Villa sana. Memindahkan tubuh ramping tapi semok tersebut, Ke tempat istirahat yang jauh lebih nyaman tentunya.
"Kalian boleh pergi!. " Ujar Andes pada anggota nya itu.
"Tapi, Tuan... " Salah satu pria langsung menundukkan kepalanya, Saat ia melihat tatapan tajam Andes yang nampak nya tak mau untuk di ganggu sama sekali.
"Baik, Tuan. " Akhirnya ia pun pamit undur diri. Meskipun mereka khawatir akan keamanan disini. Apalagi, Tuan dan nona mudanya itu hanya akan tinggal berdua saja di tempat ini. Tapi, Ia juga tak memiliki keberanian untuk membangkang perintah atasannya itu.
Andes pun langsung kearah Villa. Sembari menggendong Cici dengan sangat pelan dan juga sangat hati-hati. Takut jika gadis konyol itu malah terbangun sebelum mereka masuk kedalam Villanya itu.
__ADS_1