Istri Liar Tuan Andes

Istri Liar Tuan Andes
Rasa Rindu


__ADS_3

Cici merebahkan tubuhnya kembali, di atas sofa empuk yang ada di dalam ruangan keluarga. Dia menyalakan televisi, hanya untuk mencari hiburan saja. Sebab, hiburan yang biasanya ia lakukan. Kini, mainan barunya malah sudah pergi ke perusahaan.


"Huh, Apa yang akan aku lakukan sekarang? " Tanyanya pada diri sendiri.


Nampak nya wanita , yang telah berstatus istri ini sudah mulai bosan saat sedang sendirian begini. Ia juga biasanya selalu mengganggu Andes, kala kebosanan dalam dirinya mulai muncul. Cici juga belum mengganti pakaian nya sejak tadi. Ia masih memakai kimono handuknya, sama seperti Andes masih bersamanya tadi saat sarapan.


Ting...


Tong...


Bel Apartemen nya berbunyi, ketika Cici sedang rebahan di atas sofa empuk tersebut. Rasa malas untuk beranjak pun mulai ia rasakan juga. Namun, semakin ia mengabaikan nya. Semakin sering bel itu berbunyi berkali-kali.


"Aduh... Siapa sih?. Gangguin orang lagi santai saja" Gerutunya kesal.


Cici pun akhirnya terpaksa bangkit dari sofa empuk tersebut. Untuk menuju kearah pintu utama, melihat siapa yang datang di jam begini. Dan mengganggu dirinya yang sedang bersantai. Tanpa ingin melakukan apapun lagi, lebih tepat nya dia tak ingin melakukan apapun tanpa adanya sang suami tercinta di Apartemen. Walaupun rasa bosan sudah menyelimuti dirinya sekarang.


"Gak ada orang" Guman Cici sambil menatap layar monitor, Yang ada di samping pintu tersebut.


Tapi, bel Apartemen nya malah terus berbunyi. Hingga wanita cantik dengan tubuh ramping, tinggi semampai bak seorang model ternama itu. Akhirnya kesal dan langsung membuka pintu Apartemen nya. Berharap ia melihat orang yang sudah iseng, dengan menekan-nekan bel Apartemen miliknya berulang kali.


"Awas saja, jika aku tahu siapa pelakunya" Guman nya lagi dengan nada jengkel.


Ceklek!


"Siapa si... " Mata Cici membelalak, dengan mulut yang menganga, menjeda kata yang akan mengumpat kesal. Ketika ia melihat sosok pria tampan, yang semakin tampan dan mempesona. Yang mana sangat ia rindukan selama ini. Bahkan, sudah sangat ia rindukan sekali.

__ADS_1


"Bang Zein... " Mata Cici pun sampai berkaca-kaca, saking rindu dan kangen nya dia dengan abang nya satu ini. Pria, yang hampir saja meninggal dunia, dan bahkan koma dengan waktu yang cukup lama. Karena sebuah kecerobohan dan kebucinan, yang pernah ia lakukan di dalam hidupnya.


"Surprise... " Seru sang pria dengan senyum dibibirnya. Merentangkan kedua tangan untuk menyuruh adik kesayangan nya itu, masuk kedalam pelukan hangat nya.


Terang saja, Cici tak akan pikir panjang lagi. Sebab, ia juga sudah sangat merindukan kebersamaan mereka. Saat dimana, kedua abang nya dan juga seorang pria yang kini, sudah jadi suaminya. Duduk bersama dan saling mengobrol santai, sambil sesekali bercanda satu sama lainnya. Walaupun satu abang nya dan juga suami tampan nya itu memiliki raut wajah yang selalu dingin. Namun, mereka jika sudah bercanda. Maka, akan membuat orang di dekatnya tertawa sampai terkekeh-kekek. Namun, yang sedang bercanda pasti tak menampakkan ekpresi apapun.


"Abang... Cici sangat rindu. Abang kemana saja sih?. Bahkan, Cici nikah saja gak ada apa niatan untuk pulang? " Cecar Cici dengan semua rasa dalam dirinya.


Ada rasa kesal, marah, emosi, rindu, kangen dan juga bahagia. Sekarang ini bercampur jadi satu. Yang mana lebih dominan rasa bahagia nya. Sementara, Zein hanya menarik sudut bibir nya saja. Ia tahu, bagaimana perasaan adik bungsunya itu.


"Selamat atas pernikahan mu honey. Abang yakin, Andes adalah suami yang baik untuk kamu. Dan bukankah, ini adalah impian kalian? " Goda Zein, sembari mengucapkan selamat untuk adik satu-satunya ini.


"Bang Zein dan bang Zello malah gak datang. Cici kan sedih. " Ujar Cici meluapkan semua perasaan nya selama ini. Menahan rindu dan juga sedikit kecewa, karena kedua pria tampan itu malah kompak tidak ada yang pulang.


"Zello memang keterlaluan. Masa adiknya menikah tidak pulang" Seru Zein malah ikut menyalahkan saudara kembarnya itu.


"Oh ya? "


"Bang Zein, iihhh... " Cici semakin kesal. Lantaran Zein malah merasa tak bersalah sama sekali.


Tawa Zein pecah begitu saja. Ketika, sudah melihat wajah masam Cici. Lalu, pria itu baru sadar jika penampilan adiknya saat ini sangat tidak sopan sekali.


"Apa kau tidak ada niatan, untuk memakai baju Cik? " Tanya Zein sambil menautkan kedua alisnya.


Cici lalu memperhatikan penampilan nya. Dari ujung kaki sampai ke ujung kepalanya. Kemudian, ia tersenyum. "Aku bahkan rela tidak pakai baju seharian, kalau ada suamiku di rumah. " Sahut Cici yang malah tak ada rasa canggung sedikitpun, bicara prontal seperti itu di depan Zein.

__ADS_1


"Dasar wanita tak tahu malu. Kau pikir tugas suaminya hanya ada di atas ranjang saja?. Hm? " Zein menggeleng kan kepalanya, sambil masuk kedalam Apartemen. Karena pemilik nya, sama sekali tak menawarkan dirinya untuk di ajak masuk sejak tadi.


"Bang Andes tidak kerja satu tahun pun, kami masih bisa berfoya-foya bang. " Timpal Cici sambil cekikikan, dan memeluk pinggang Zein dari arah samping. Sehingga keduanya malah terlihat sangat mesra sekali.


"Mulai lagi, Suami dan istri memang kompak sekali. Wajar saja bisa jadi jodoh. " Zein kembali menggeleng kan kepalanya.


"Iya dong, Kalau aku tidak jadi istri nya. Mungkin aku akan jadi pelakotnya bang Andes. " Seru Cici menjawab ledekan Zein barusan.


"What? "


Zein sampai kehabisan kata-kata. Saat ia bicara dengan adik bungsunya itu. Yang mana, Cici selalu saja ada bahan untuk membuat kekonyolan akan karakter nya sendiri. Namun, saat-saat seperti inilah. Yang sebenarnya Zein rindukan juga. Apalagi, dia juga sudah hampir tiga tahun tidak pulang. Dan dalam tiga tahun terakhir ini, Zein benar-benar menata ulang hidupnya.


Pria itu sudah banyak berubah, dan bahkan rambutnya sekarang sedikit gondrong. Tapi, penampilan nya sekarang malah membuatnya semakin terlihat tampan saja. Zein juga telah berganti profesi, yang dulunya adalah publik figur. Kini, ia malah banting stir menjadi seorang chef.


Tentunya bukan hanya chef biasa saja. Sebab, ia juga bukan seorang Zein yang dulu lagi. Lucas banyak membantu Zein membentuk karakter aslinya. Bahkan, Zein kinerjanya tak usah di ragukan lagi.


"Abang udah pulang ke mension utama? " Tanya Cici sambil mendaratkan bokongnya di atas sofa yang ada di dalam ruangan tamu.


"Abang haus, sana buatkan minuman yang segar-segar dulu!. Baru kita ngobrol! " Pinta Zein dengan nada perintahnya.


"Ck,,, Abang tetap saja sama seperti dulu. Selalu memerintah. Tapi, berhubung ini pertemuan awal kita lagi. Setelah abang sempat ingin bertemu malaikat maut. Cici akan membuatkan minuman yang paling segar sedunia, dan spesial buat abang. " Cici terkikik puas.


"Awas saja, kalau tidak enak. "


"Paling juga gulanya, Cici ganti dengan garam. " Sahut Cici asal.

__ADS_1


"SUCI... "


Tawa Cici pecah, karena ia sudah lama sekali tidak mendengar bentakan abangnya satu ini. Yang mana sekarang jauh terlihat dewasa. Dengan penampilan yang beda. Tapi, tak mengurangi kadar ketampanan nya sedikit pun.


__ADS_2