
Cici mendengus kesal. Ketika ia sudah membayangkan hal gila kembali terjadi dengan Andes. Namun, Andes malah menjitak jidadnya hingga kebas. Dan menolak untuk melakukan hal konyol yang pernah mereka rasakan sebelum nya.
"Ayo pulang!. " Seru Andes yang sudah bangkit dari atas tubuh Cici.
"Ogah." Jawab nya dengan nada kesal.
"Yakin?. Mau aku tinggal sendirian lagi disini?. "
Mendengar itu, Cici kembali mendengus kesal. Lalu menyambar tas bahunya dan juga mantel yang ia letak kan di badan sofa sejak tadi. Lalu pergi keluar lebih dulu meninggalkan Andes yang masih berdiri di tempat semula.
Melihat calon istri nya sudah merajuk. Andes hanya hanya bisa menghela nafasnya saja. Dan menarik sudut bibirnya tipis.
Andes meraih ponselnya. Karena sejak tadi tak berhenti bergetar di saku celananya. Hingga nama Daddy nya muncul memenuhi layar ponselnya tersebut.
"Ada apa Dad?. "
"Kau sedang bersama adikmu, sekarang?. "
"Iya"
"Bisa kau jaga dia untuk beberapa hari kedepan lagi?. "
__ADS_1
"Sepertinya tidak, Dad. " Jawab Andes sembari melangkah keluar apartemen nya.
"Why?. "
Nada bicara Daddy nya dari seberang sana sedikit kesal. Saat ia menjawab tidak, Hanya untuk menjaga adik bungsunya yang urakan itu. Karena, Andes sudah bisa menebak nya. Jika kedua orang tuanya itu pasti masih ingin liburan panjang. Dan juga menikmati masa santainya berdua tanpa ada gangguan sedikit pun juga. Bahkan, mereka tidak tahu saja, Bagaimana tersiksanya Andes saat putri bungsu mereka itu berulah setiap harinya. Hanya untuk membuat Andes panas dingin.
"Kapan Daddy dan Mommy pulang?. " Andes bertanya serius.
"Belum tahu, kapan. "
Dengan nada bicara yang sangat santai, Mark menjawab pertanyaan putranya itu. Hingga, Andes menarik sudut bibir nya. "Pulanglah sebentar, Dad!. Andes tidak mau ketika Daddy dan Mommy pulang malah Cici sudah mengandung cucu kalian. " Seru Andes dengan tak kalah santainya.
"Berani kalian berbuat lebih sebelum menikah. Maka, Siap-siap saja kau Daddy asingkan Ndes!. "
Mark kembali mengancam putranya. Agar tidak berbuat konyol. Dan malah tak sabaran lagi untuk melakukan hal lebih bersama putri bungsu nya itu.
"Waktu Daddy dan Mommy hanya sampai lusa. Kalau tidak, Andes tak akan janji bisa menahan nya lebih lama lagi. "
Tut!
Tut!
__ADS_1
Tut!
"Shitt... " Mark langsung mengumpat, Saat telpon nya mendadak terputus begitu saja. Sebelum ia selesai bicara kembali.
"Sayang, Ada apa?. " Naura pun langsung menghampiri suaminya. Yang mengumpat kesal saat ia masih ada di dalam kamar mandi tadi.
"Kita pulang hari ini juga!. " Ujar Mark tanpa banyak bicara lagi.
"Hah?. Bukannya perjalanan kita masih panjang?. Kenapa dadakan begini? " Naura mulai protes akan sikap suaminya.
"Kalau kita tidak pulang secepatnya. Maka, Andes akan bikin adonan dengan Cici. "
"What?. " Naura pun langsung melotot dengan mulut yang menganga lebar. Ia sangat terkejut akan ucapan suaminya saat ini. Namun, Naura pun segera sadar. Jika putri bungsu nya itu sangat mirip dengannya juga.
"Kita pulang sekarang!. " Seru Naura.
"Harus, Sayang. " Timpal Mark tak mau menunggu lama lagi.
Sementara di tempat lain dan juga negara yang berbeda juga. Andes menarik sudut bibir nya penuh arti. Pria itu sangat puas, Karena akhirnya Daddy nya menghubungi nya juga. Dimana ia pun selama ini nampak sulit untuk menelpon Daddy dan juga Mommy nya itu. Lantaran mereka sengaja mematikan ponsel mereka. Agar tak bisa di ganggu oleh siapapun saat pergi liburan.
"Lihat saja, kalau masih tidak pulang juga. Daddy dan Mommy pikir Andes main-main apa? " Guman Andes dalam hatinya. Sambil meraih tangan tunangan nya itu. Dan melangkah bersama menuju arah mobilnya di basemen gedung Apartemen nya.
__ADS_1