
Ruangan kerja yang cukup luas dan nyaman. Untuk jabatan seorang CEO seperti Andes. Pria tampan dengan jambang tipis bak jelmaan dewa yunani itu, sedang fokus dengan setumpukan berkas yang menggunung. Kaca mata bertengger pas di hidung mancungnya.
Ceklek!
"Selamat siang adik ipar? " Sapa seorang pria tampan dengan penampilan yang jauh berbeda dari dia yang dulu.
Andes mendongak, sambil melepaskan kaca matanya. Meletakkan benda itu di atas meja sana. Lalu, ratapan nya teralihkan akan kedatangan sosok pria, yang sudah lama tak ia dengar kabar beritanya. Bahkan, mereka pun sama sekali tak saling hubungi satu sama lainnya. Lantaran, pria yang ada di hadapan nya saat ini. Sangat susah sekali untuk di hubungi.
"Apa aku sedang melihat hantu, sekarang? " Ledeknya dengan nada sedikit sinis.
"Ck,,, Kau pikir aku sudah mati? "
"Bisa saja begitu, karena sampai tiga tahun terakhir kau sama sekali tak ada kabar beritanya. Bahkan, Zello pun tak bisa melacak keberadaan mu" Andes bangkit dari kursi kebesaran nya. Untuk menuju arah sofa sana, setidaknya ia akan sedikit bersantai. Setelah melihat saudara yang sudah lama tak jumpa dengan dirinya.
"Kalian itu hanya bisa mengoceh saja. Tapi, tak tahu pasti dengan apa yang aku alami selama ini. " ketus sang pria bernada sinis.
Puk!
Puk!
Puk!
"Duduklah dulu! " Andes menepuk sisi sebelah sofa yang telah ia duduki saat ini.
Pria yang baru datang itu pun, menurut dengan menghampiri Andes. Siapa lagi kalau bukan Zein. Sosok pria yang dulunya sempat bucin dengan wanita yang salah. Dan dengan semua kelicikan wanita itu, karir serta kehidupan nya hancur dalam sekejap. Masa lalunya benar-benar hancur, tapi sekarang ia sudah menata ulang hatinya lagi. Dengan hidup jauh dari pantauan keluarga nya. Memulai karir dari awal lagi. Namun, ia tak kalah sukses dari sebelumnya. Hanya saja, jalan kesuksesan nya sekarang, sangat jauh berbeda dari karir sebelumnya.
__ADS_1
"Kenapa belum ada tanda-tanda akan adanya kehadiran keponakan ku? " Zein malah meledek Andes.
"Hei, kami baru beberapa hari menikah. Mana mungkin bisa langsung jadi begitu saja. " Jawab Andes sinis.
"Bilang saja!. Jika benihmu itu jelek! " Ledeknya lagi, sambil terkekeh geli.
Andes menatap ketus Zein. Namun, ia malah menepuk pelan bahu pria itu. Rasa rindu, khawatir dan juga penasarannya. Tak akan bisa di hilangkan begitu saja, apalagi mereka memang sudah lama tidak berjumpa. Zein sepertinya akan berada di pengawasan keluarga Lucas. Sebab, sejak saat itu hanya Lucas lah yang dekat dengannya. Dan tahu semua pergerakan Zein.
"Pulanglah ke mension utama dulu!. Daddy dan Mommy sangat merindukan mu! " Ujar Andes berkata jujur.
Andes tahu, jika Mommy nya hanya menahan rindu. Untuk tidak mengganggu ketenangan Zein selama ini. Ia tahu putranya terluka dan kecewa. Tapi, apa yang di lakukan Zello semua itu demi kebaikannya. Zein dulu memang kurang jelih dalam bergaul, berteman dan juga memilih pasangan. Mungkin dulu Zein belum begitu dewasa dalam berpikir. Karena di pikiran nya hanya ada nama kekasihnya saja. Sehingga, ia mengabaikan semua nasihat semua orang. Menganggap jika wanita yang ia cintai adalah orang yang paling benar. Dan berpikir jika wanita itu patut untuk di cintai serta di perjuangkan.
"Setelah dari sini, aku akan pulang" Jawabnya jujur. Ia tahu, semua keluarganya pasti sangat merindukan dia. Terutama kedua orang tuanya sendiri.
"Ck,,, Aku belum cukup untuk bersenang-senang sekarang" Jawab Zein sambil tertawa renyah.
"Jangan bilang,! Jika kau sudah mulai jadi pria hidung belang sekarang! " Seru Andes mulai menebak asal.
Zein pun menarik sudut bibir nya, sambil mengendikkan bahu acuh. Entah apa yang ada di dalam otak pria itu sekarang. Yang jelas, Andes malah mencium gelagat aneh dari Zein. Dengan tampilan barunya saat ini. Sebab, Zein juga mengganti gaya rambutnya dengan gaya gondrong, namun kadar ketampanan nya sangat memukau.
3 tahun waktu yang cukup singkat. Untuk menata hati dan juga menata hidup. Di lihat dari segi gayanya, Zein nampak nya memang sudah benar-benar sukses. Hanya saja, Andes belum tahu. Apa pekerjaan pria itu sekarang, mantan seorang artis ternama. Mengganti pekerjaannya, dan banting setir menjadi pengusaha, atau apalah. Yang jelas hidupnya sekarang tak seberantakan dulu.
Hal itu sudah cukup membuat Andes dan juga keluarga nya bangga. Sebab, Zein bisa berubah menjadi lebih baik dalam persoalan asmara.
******
__ADS_1
Lingerie tipis dengan bentuk tubuh yang molek. Sedang di kenakan wanita cantik, yang saat ini sedang menunggu pria yang ia cintai untuk pulang.
"Sayang, Aku pulang" Seru suara seorang pria, yang sejak tadi sudah di tunggu kepulangannya.
"Aku di kamar, yang" Sahut Cici sambil menarik sudut bibir ranum itu.
Ceklek!
Andes menautkan kedua alisnya. Saat ia masuk dan melihat istri nya, malah berpose bak seorang model majalah dewasa saja. Lingerie seksi dengan bentuk dada huruf V. Memperlihatkan belahan sengkang dan sesak. Belum lagi betis dan juga bokongnya, yang mulus karena bagian bawahnya singkat. Membuat Andes meneguk salivanya dengan susah.
"Sayang, apa kau sedang menggodaku? " Andes bertanya, tapi dia sudah menanggalkan celana panjangnya. Membuka nya dengan terburu-buru.
"Hahaha... Jangan bilang sedang menggodamu, yang!. Coba lihat dirimu itu!. Yang sudah setengah polos" Seru Cici menggeleng kan kepalanya.
Andes pun melemparkan kemeja nya asal. Begitu juga dengan jas kerjanya tadi. Lalu, Andes menghampiri istrinya yang binal itu, di atas ranjang sana. Apalagi yang akan mereka lakukan kalau bukan kuda-kudaan.
"Kau akan menyesalinya! " Seru Andes dengan seringai licik.
"Bukan menyesalinya, tapi... "
"Tapi apa? "
"Menikmatinya! "
Brakkk!
__ADS_1