Istri Liar Tuan Andes

Istri Liar Tuan Andes
Godaan


__ADS_3

Pletak!


"Awww... " Pekik Cici saat tiba-tiba Andes menjitak keningnya, Saat keduanya sudah ada di basemen pusat perbelanjaan tersebut.


"Abang... iihhh, Sakit tau. " Gadis cantik itu merengut sambil mengusap jidatnya, Yang terasa sedikit kebas. Akan ulah abangnya sendiri.


"Jangan begitu lagi!. Dia sudah sakit hati, Jadi tidak usah di tambah panas lagi!. " Ujar Andes dengan nada pelan nya.


Andes tahu, Sejak awal hubungan keduanya memang tidak sehat. Hanya saja, Andes ingin mencari sela saja. Agar ia tidak terlihat begitu mengharapkan adiknya. Sebab, Dulu Andes masih ragu untuk mengungkapkan perasaan nya itu. Ketakutan Andes sebagai anak angkat, Tidak mau rusak hanya karena ia lancang mencintai adik bungsunya sendiri. Tapi, Siapa sangka jika kedua orang tuanya malah mendukung penuh hubungan nya ini.


"Siapa yang sakit hati?. Kikil atau abang sendiri?. " Timpal Cici dengan nada kesalnya. Saat ia dengar Andes masih saja membela mantan kekasihnya itu.


"Apa tampangku terlihat sedang sakit hati?. Hem?. " Andes malah menggoda Cici sambil tersenyum penuh arti.


Cici menggeleng kan kepalanya, Lalu menjawab" Abang justru malah terlihat sedang mesum. " Sahut Cici lagi sambil ingin beranjak pergi, Untuk menuju kearah mobil mereka tadi. Di parkiran sana.


Namun, Sayangnya gerakan nya kurang cepat dengan gerakan tangan Andes. Pria itu telah lebih dulu mencekal pergelangan tangan nya. Dan bahkan menarik pinggangnya secara bersamaan. Sehingga tubuh Cici lamgsung membentur dada bidang Andes.

__ADS_1


Gadis cerewet dan super jahil itu, Sama sekali tak berteriak. Ia malah tersenyum penuh artinya, Lalu berucap. "Apa abang ingin meneruskan ciuman yang tadi?, " Serunya dengan tatapan menggodanya.


"Apa kamu tidak akan menyesalinya?" Tanya balik Andes sambil menaik turunkan alisnya. "Karena jika di lanjutkan aku tidak akan hanya meminta ciuman saja. " Sambungnya lagi dengan mengulum senyum nya.


"Aaa... Apa adegan nya akan jauh lebih panas lagi, Daripada film dewasa?. " Ceplos Cici sambil mulai menggerakkan tangannya yang mulai nakal. Merambat pada kancing kemeja yang di kenakakan oleh Andes.


Tuk!


"Aww... " Lagi-lagi Cici memekik, Sambil memejamkan matanya. dengan mengusap keningnya lagi.


"Baru gitu aja udah lemah. " Ledek Cici yang masih saja menggoda abangnya.


"Ayo kita buktikan!. Selemah apa abangmu ini!. " Andes menarik kembali tangan Cici. Dan ingin membawanya kearah mobilnya sana.


Drt!


Drt!

__ADS_1


Baru saja akan membuka pintu mobilnya. Tiba-tiba ponselnya malah berdering, Membuat Andes mau tak mau harus merogoh ponselnya. Di dalam saku celana nya itu.


Cici mengulum senyumnya. Saat ia melirik nama Daddy nya yang muncul memenuhi layar ponsel Andes saat ini.


Andes langsung mengedarkan pandangan nya. Menelisik area basemen sana. Dan baru sadar, Jika di ujung lorong ada mobil milik salah satu anggota Daddy nya. Yang tentunya sejak tadi mereka selalu menguntit. Dan melaporkan semua nya pada Daddy nya.


Namun, Baru saja Andes ingin mengangkat telpon Daddy nya. Malah ponsel Andes di rebut oleh Cici. Dan dengan konyolnya ia masukan kedalam bajunya. Di himpit oleh kedua benda kenyal padat miliknya sana.


"Hei, Daddy akan keluar tanduknya, Jika kita tidak mengangkat telponnya. " Ujar Andes mengingatkan adiknya. Yang sekarang sudah menjadi tunangannya itu.


"Biarkan saja!. Sesekali kena marah sama Daddy tidak apa-apa juga. " Sahut Cici dengan nada santainya.


"Kamu mau kita batal nikah?. Hanya karena Daddy marah pada kita?. "


"Kalau begitu bagaimana kalau kita buat jangan sampai batal lagi?. " Tawar Cici sambil mengedipkan sebelah matanya.


Andes pun memicingkan matanya. Lalu langsung beranjak kearah pintu mobilnya. Meninggal kan adiknya yang super konyol itu. Bisa-bisa Andes sendiri tak akan bisa menahan dirinya. Jika Cici terus menerus bersikap seperti itu padanya.

__ADS_1


__ADS_2