
Andes buru-buru menyuruh sopir nya untuk menyiapkan mobil. Saat ia baru saja mendengar kabar jika Ibu dari sekretaris nya meninggal dunia. Cici ikut berlarian untuk mengejar langkah abangnya itu. Karena langkah Andes begitu lebar, Sehingga ia sedikit kelelahan mengejarnya.
"Bang, Tungguin Cici!. " Teriaknya dengan rasa kesalnya.
Andes menoleh dan langsung menghentikan langkah kakinya. Untuk menunggu wanita nya itu menghampiri nya. Dimana Cici sedikit kesulitan menuruni tangga teras mension nya.
"Makanya kalau dandan jangan kelamaan!. Kita ini mau melayat bukan ke pesta. " Cibir Andes dengan gelengan kepalanya pelan. Karena ia kadang kesal sendiri, Lantaran Cici tak pernah gagal untuk berpenampilan.
Sebagai tunangannya, Yang jelas usia Andes jauh lebih dewasa dari pada Cici. Tentunya Andes tidak ingin wanitanya sampai di lirik oleh pria lain. Sepertinya sifat posesif Andes mulai nampak. Sehingga ia selalu saja geram kala melihat calon istrinya itu terlihat perfect di depan umum.
"Kalau Cici dekil, Emang abang masih mau nikah sama Cici?. Hem?. " Goda Cici seraya menaik turunkan alisnya.
"Tentu saja, Karena aku menikahi kamu bukan karena penampilan saja, tapi... "
__ADS_1
Andes menggantung ucapan nya, Karena hampir saja ia keceplosan. Dan itu tentunya membuat Cici langsung menautkan kedua alisnya. Menatap nya dengan tatapan rasa penasaran nya.
"Tapi...?. " Ulang Cici sambil mendekatkan wajahnya kearah Andes. "Tapi apa bang?. " Tanyanya lagi dengan nada kesalnya.
"Hais... Sudahlah!. Ayo kita berangkat!. " Andes langsung menghindari pertanyaan penasaran Cici. Karena sangat tidak mungkin, Jika Andes akan bilang sesuatu hal yang malah memnuat Cici semakin mesum padanya nanti.
Dan entah apa yang ada di dalam otak Andes. Sehingga ia sempat berpikiran konyol seperti itu tadi. Padahal, Rasa cintanya pada Cici jauh melebihi apapun. Dan rasa itu pun tak pernah berubah sejak dulu. Walaupun, Andes sendiri sempat mengalihkan nya pada sosok wanita lain. Yang ia pikir akan mampu melupakan Cici dengan sendirinya.
"Dasar aneh. " Gerutu Cici dengan nada semakin kesalnya.
Namun, Cici juga menurut saat Andes membukakan pintu mobil untuknya. Gadis itu masuk dan langsung duduk sambil mengerucut kan bibir nya.
"Tidak usah merajuk begitu!. Kau akan semakin terlihat jelek saja. " Ledek Andes seraya menutup pintu mobil untuk tunangan nya.
__ADS_1
"Bodoh amat. " Timpal Cici semakin kesal saja.
Andes mengulum senyumnya. Dan ia juga sudah punya rencana sendiri, Setelah nanti pulang dari pemakaman ibunya Venus. Dan kemungkinan juga malam ini mereka tidak akan pulang ke Mension utama.
Pria tampan itu mulai membantu Cici memasang kan seatbelt untuk nya. Karena, Cici juga lupa belum memasangnya sama sekali. Karena ia masih saja enggan untuk menatap Andes. Hanya karena masalah sepele tadi saja.
"Perjalanan kita cukup jauh. Jangan abaikan keaman diri sendiri!? " Tutur Andes dengan nada pelan nya. Agar calon istri nya itu tidak cemberut lagi.
Cici masih saja enggan bicara. Bahkan ia memasang wajah masamnya saat ini. Membiarkan Andes melakukan apa yang ingin pria itu lakukan, Yang jelas Cici tetap penasaran dengan alasan Andes tadi. Tapi, Bukannya mendapatkan jawabannya. Andes malah mengalihkan pembicaraan.
Cup!
Deg!
__ADS_1