
Brakkk!!!
"Bang, pelan-pelan napa? "
"Tidak bisa!. Ini sudah di ujung"
"Apa sudah mengembang? " Tanya Cici melirik area pangkal paha suaminya.
"Menurut mu? "
"Hah.... Sepertinya tak tertolong lagi"
"Begini akan terasa jauh lebih baik! "
"Akhhh.... Sayang... "
Andes langsung memasukkan benda tak beraklak itu, untuk masuk memenuhi lubang yang masih saja terasa sempit. Padahal, ia sudah berapa kali melakukannya. Sampai lupa hitung lagi, saking seringnya berkeringat di atas ranjang.
Sore menjelang petang, Dengan rintik hujan di luar sana. Semakin, membuat pasangan pengantin baru itu sibuk dengan dunianya sendiri. Yang mana dunia rasa milik berdua saja. Bukannya masak untuk makan malam, Cici malah mengajak suaminya panasin sayur lebih dulu.
"Akhhh... Sayang... Kau memang yang terbaik! " Puji Cici mulai menggila sambil menggigit bibir bawahnya.
"Really? "
"Hem... Ayo kita selesai kan bersama! "
"Tentu saja! " Jawab Andes dengan semakin semangatnya.
Bagi mereka saat seperti ini adalah momen terpas untuk menyatakan perasaan. Sehingga, apapun yang di rasakan. Akan dengan yakin untuk di ungkapan. Dan beginilah, jika sudah di rasuki rasa dan cinta. Apalagi, hasrat selalu bangkit untuk terus bercumbu. Pasangan pengantin baru memang tak lepas dari kata lelah. Rasa lapar pun hilang saat sedang mandi keringat. Tapi, begitu selesai dan sudah lemas, apapun pasti akan di kunyah untuk menghilangkan rasa laparnya.
Ponsel berdering pun, Andes tak akan menggubris nya. Ia malah menutup benda pipih itu di atas nakas sana. Karena kegiatannya yang tak mau di ganggu gugat. Sebelum ia menuntaskannya dengan sangat puas.
"Siapa yang telpon? "
__ADS_1
"Bukan orang penting" Sahut Andes sembari melepaskan sisa kain di tubuh sang istrinya yang binal dan penuh dengan ide konyol itu.
"Benarkah? "
"Hem... Jangan banyak tanya!. Kita tuntaskan saja ini dulu! "
"Akhh... Jangan seperti itu! "
"Lalu, aku mesti bagaimana?. " Tanya Andes dengan seringai liciknya. Saat ia sadar, Cici mulai tak tahan jika ia semakin menekankan miliknya masuk kedalam sana.
"Apa begini? "
"Ouwhhh... Akhhh.. kau mau menyiksaku? "
"Tidak sama sekali, sayang! " Sahut Andes dengan santai. Sambil menahan rasa ternikmat yang ia rasakan saat ini.
"Shitt...! "
"Akhhh... Andes! "
Andes dan Cici tak akan selesai hanya dalam satu permainan saja. Mereka pasti akan mengulangi nya sampai benar-benar lemas. Dan itu yang pasti bukan hanya satu ronde. Karena keduanya sama-sama berhasrat tinggi. Saling mampu mengimbangi satu sama lainnya. Sampai-sampai telpon dari Daddy nya sendiri Andes abaikan. Dan ia bilang tidak penting, kalau Cici tahu pasti ia akan menyuruh suaminya untuk semakin lanjut saja. Sebab, mereka berdua adalah pasangan somplak. Termasuk Andes yang mulai ketuluran kekonyolannya Cici.
*******
"Kenapa?. Apa mereka tidak ada yang mau angkat telpon kita? " Tanya wanita paruh baya pada suaminya. Dimana keduanya sedang duduk di dalam ruangan tamu.
Kalau sore hari seperti sekarang ini, Pasangan paruh baya itu memang selalu menghabiskan waktu berdua untuk bersantai. Apalagi, mereka juga sudah tidak ada yang perlu di asuh lagi. Anak-anak nya sudah tumbuh dewasa, Dan mendapatkan pasangan masing-masing. Meskipun, tinggal satu orang lagi yang saat ini, masih saja betah dengan kesendirian nya. Setelah peristiwa masa lalu, yang sempat mengguncang hati, pikiran serta hidupnya.
"Apa yang sedang mereka lakukan?. Sampai-sampai mengabaikan telpon dari ku? " Mark malah bertanya pada dirinya sendiri.
"Paling juga sedang bercinta" Ungkap seorang pria yang baru saja tiba di mension dan langsung menghampiri kedua orang tuanya di ruangan keluarga tersebut.
"Zein...! " Seru Naura yang menoleh dan menatap wajah tampan putranya. Yang sangat ia rindukan
__ADS_1
Mark hanya menarik sudut bibirnya saja. Ia ikut bahagia dan lega. Akhirnya putranya kembali pulang, dan masih ingat dengan keluarganya sendiri. Setidaknya juga, Zein dalam keadaan baik-baik saja. Satu hal yang membuat Mark khawatir, karena ia tak bisa melacak keberadaan Zein selama ini. Padahal, apapun bisa Mark temukan hanya dengan hitungan menit. Tapi, untuk masalah putranya satu ini, ia angkat tangan. Sebab, saudaranya sendiri yang ikut campur. Yang mana kekuatan dan kekuasaannya sudah terbaca oleh saudaranya tersebut.
"Zein, ya ampun boy. Akhirnya kamu pulang juga. Mommy sudah sangat merindukanmu" Naura tak bisa lagi membohongi dirinya sendiri. Air matanya menetes karena harus akan kepulangan sang putra.
Saking bahagia nya bisa melihat kembali putranya ini, Padahal wajah Zein dan Zello tak ada bedanya. Namun, yang namanya anak tak akan bisa di gantikan. Apalagi, mereka memiliki karakter yang berbeda juga.
"Masih hidup kau rupanya? " Seru Mark dengan nada yang sama, yaitu kedataran dan juga sikap dinginnya yang memang melekat dari ia lahir.
"Sayang... " Naura langsung mendelik pada suaminya tak terima, karena Mark malah bertanya dengan nada yang ketus seperti itu, untuk menyambut kepulangan putra nya sendiri.
"Hahaha... Aku tahu, Daddy juga sangat merindukan Zein, bukan?" Bukannya takut, Zein malah meledeka Daddy nya yang mana tatapan Mark mengatakan begitu. Sangat beda dengan ucapannya barusan.
Pug!
"Dasar anak nakal" Naura mencubit gemas perut sixpack putranya. Yang malah membuat jarinya sendiri sakit.
Mark yakin, perubahan sikap Zein sekarang sangat beda. Dan ia melihat gelagat yang begitu tenang dari diri Zein sekarang. Pembawaannya sangat beda dari dia yang dulu.
"Kemarilah! " Mark merentangkan tangannya. Untuk menyuruh putranya mendekat. Namun, Zein belum sempat menghampiri nya. Naura sudah lebih dulu masuk kedalam dekapan Mark.
"Hihihi... Ayo pelukan bertiga saja! " Ujar Naura sambil nyengir kuda mendongak menatap wajah kharismatik suaminya.
"Ck,,, Mereka masih sama seperti dulu. " Guman Zein yang sangat hafal betul, bagaimana sikap dan juga kelakuan orang tuanya ini. Dimana pun, kapan pun mereka pasti selalu mesra.
Sampai terkadang, orang yang melihat mereka yang hanya bisa gigit jari saja. Bagaimana tidak?. Jika Mark dan Naura itu tidak tahu malu. Orang di sekitar nya mungkin di anggap patung. Sehingga mereka dengan bebas bermesraan tanpa terganggu dengan suasana sekitar nya.
"Zein... Kemarilah boy!. Mommy juga ingin peluk kamu! Sebelum kamu di peluk oleh wanita lain" Seru Naura dengan kekehan kecilnya.
"Haisss.... Kurasa suketi, sudah sering memeluk nya, sayang" Mark masih saja ingin menyindir putranya.
"Daddy, itu hanya masa lalu" Timpal Zein sembari menghampiri kedua orang tuanya itu.
Zein lebih baik menurut, daripada ratu di mension ini mengeluarkan taringnya.Jangankan dirinya, Daddy Mark saja angkat tangan. Jika Naura sudah berubah menjadi singa betina yang sedang menyusui.
__ADS_1
Tinggal Beberapa Bab lagi bakal End yak, Nanti Othor akan buat cerita khusus untuk Zein...