Istri Liar Tuan Andes

Istri Liar Tuan Andes
Lihat Ular


__ADS_3

Cici mengulum senyumnya. Saat ia berhasil membuat Andes menunjukkan sisi liar nya itu. Dan nampak begitu ganas sekali saat menyerangnya di mobil tadi. Bahkan, Cici tak henti-hentinya memegangi bibir mungilnya itu. Tak ingin menyia-nyiakan begitu saja, bekas ciuman ganas Andes.


Tak hanya itu saja, Andes juga sempat memberikan remasan kecil pada bagian da** nya. Dan juga meninggalkan tanda merah kebiruan yang membuat Cici selalu ingin menatap nya terus-menerus.


Saat ini ia sudah ada di dalam kamarnya. Dan menatap penampilan dirinya dari ujung kaki, sampai ujung kepalanya. Ia berdiri di depan cermin besar yang ada di dalam ruangan walk in closet tersebut.


"Hahaha... Bang Andes nyentuh ini juga." Serunya dengan sangat bahagia.


Cici memang agak lain. Karena di saat seorang gadis yang masih segelan disentuh pria. Maka, ia pastinya akan berontak dan juga menangis. Tapi, hal itu malah tak berlaku untuk Cici. Putri bungsu sang mafia tersebut, Malah berlaku sebaliknya. Cici malah begitu senang saat Andes menyentuh tubuhnya. Terutama bagian yang seharusnya belum sewajarnya untuk di sentuh begitu saja.


"Baru begitu saja sudah enak, Bagaimana kalau lebih ya?. " Tanya Cici pada diriny sendiri.


"Wah, Mungkin rasanya akan jauh lebih enak daripada yang tadi. " Sambungnya lagi sambil tertawa puas.


Putri bungsu Mark dan Naura, Memang tak bisa di prediksi. Ketika berada di depan orang tuanya, Terutama Daddy nya ia akan bersikap layaknya anak perempuan yang baik dan juga kalem. Tapi, ketika hanya berdua dengan Mommy serta saudara nya yang lain, Ia akan bersikap sebaliknya. Apalagi, jika sudah bertemu dengan dua sepupunya yang sifatnya sangat sama dengannya. Maka, dapat dipastikan jika dunia tak sedang baik-baik saja.

__ADS_1


*****


Di dalam kamar yang berbeda, Andes nampak sedang mengguyur kepalanya dengan cucuran air shower. Pria itu tak beranjak dari sana, Sejak beberapa menit yang lalu. Sesekali ia juga mendongakkan kepalanya. Untuk membasahi wajahnya. Dan juga mengusapnya dengan sedikit kasar.


"Haiss...Shiitt!. " Umpat Andes merasa kesal sendiri.


Hasratnya selalu saja di uji dalam satu waktu yang tak bisa di tebak. Hingga, Dirinya tak bisa menahan yang semestinya harus ia tahan.


"Aku harus segera menikahi nya. Kalau tidak?. Bila-bila kamu akan terus di bawa ke kamar mandi tiap harinya. " ujar Andes melirik satu benda tumpul dengan ukuran yang menjadi idaman wanita. Terutama idaman Cici tentunya.


"Sampai kapan dia harus konyol begitu, sih?. " Tanya Andes pada dirinya sendiri.


Nampaknya kesabaran Andes sudah mulai goyah juga. Karena kelakuan konyol Cici yang selalu saja menguji imannya itu. Bahkan, Andes hampir saja lepas kendali gara-gara calon istri nya tersebut.


"Apa dia tidak sadar?. Jika tubuhnya begitu sangat menggoda?. " Guman Andes pelan, Merutuki kebodohan Cici saat di hadapan nya.

__ADS_1


"Benarkah?. "


Pertanyaan itu muncul dengan tiba-tiba. Hingga mampu membuat Andes segera menoleh. Dan betapa terkejut nya Andes. Ketika ia melihat Cici sudah ada di dalam kamar nya.


"Cici... "


Mata Andes membulat sempurna. Kala ia benar-benar tak sedang menghalu. Dan Cici malah gagal fokus dengan arah bagian pangkal paha nya. Sontak saja, Andes langsung menutup bagian itu dengan kedua tangannya.


"Wow... Gede banget bang. " Seru Cici dengan nada gemasnya.


Andes meraih handuknya, Dan langsung menutup nya rapat-rapat. Lalu ia keluar dari ruangan shower nya sana. Menghampiri Cici yang masih saja fokus ke arah nya. Lebih tepat nya kearah pangkal paha nya itu.


"Bagaimana kamu bisa masuk?. " Tanya Andes yang saat ini menutup rapat mata indah itu dengan telapak tangannya yang lebar.


"Bang, Ularnya gede banget. "

__ADS_1


"SUCI.... "


__ADS_2