
Andes langsung merebahkan tubuh Cici, dengan sedikit kasar. Namun, Pria itu tak ingin memasukkan miliknya kedalam sana. Ia hanya mulai menggesek-gesekkannya saja. Tapi, hal itu justru mampu membuat Cici mende*ah pelan.
"Bang.... Akhhh... "
"Hussstttt...!. Jangan berisik!" Andes masih sadar jika suara Cici pastinya akan membuatnya semakin tak terkendali. Padahal, Andes hanya ingin membuat sang ular tidur saja, Tanpa harus melakukan interaksi yang lebih aktif lagi dari ini.
"Tapi, Ini geli sekali bang... Akhhh... "
Cici malah semakin tak karuan saja, Padahal itu hanya gesekan kecil tanpa tusukan syahdu dari sang ular. Namun, Karena ukuran yang super jumbo dengan rasa yang keras. Sehingga Cici pun mulai bak cacing kepanasan, Belum lagi cairan lendir halus mulai ikut membasahi permukaan apem tebal dan berdaging itu. Memberikan sentuhan liar pada ular milik Andes.
"Apa tidak bisa lebih dalam lagi, Bang?. "
Tantang Cici yang malah semakin penasaran saja, Dengan sebuah rasa istimewa itu. Baginya kalau cuma begini saja mana cukup. Sementara tubuhnya mulai mengingin kan hal lebih parah lagi dari ini.
"Diam!. Jangan berisik!. Kau membuat konsentrasi ku hilang saja. " Ketus Andes yang semakin menekan miliknya. Tanpa ingin melukai milik Cici sama sekali.
Sungguh Andes sangat bisa mengontrol dirinya. Walaupun ia sendiri sudah melihat dengan jelas bagaimana, bentuk Apem montok dan tebal itu, dengan warna merah muda terawat. Dan juga sedikit gundukan bukit kecil sebagai perias penyempurnaan nya. Namun, Andes tetap saja tidak ingin melakukan penyatuan lebih dalam dari ini.
"Aku sudah tak tahan lagi, Bang. Lakukanlah, sekarang!. " Desak Cici mulai tak karuan saja.
__ADS_1
Andes pun mengangkat bokongnya. Dan mulai naik kepermukaan Cici. Menghadapkan sang ular tepat di depan wajahnya Cici. Lalu, pria itu dengan konyol dan sedikit kesalnya mulai memainkan sang ular. Yang mana ular itu seperti nya akan segera muntah. Dengan kocokan dan juga elusan sedikit cepat.
"Bang, Jangan disini!. " Cegah Cici sebelum sesuatu terjun di depan wajahnya.
"Diamlah!. " Suara Andes mulai serak, dan pria itu pun mulai memejamkan matanya.
"Hoekkk.... "
Cici mulai mual, Saat wajahnya di hujani oleh cairan kental dengan aroma pandan, Dan juga lengket pada tangan serta keningnya.
"Makanya, jangan berisik!. " Ujar Andes yang ambruk tepat di samping Cici.
"Tapi, kenapa harus dimuka bang?. Ini sangat lengket. " Protes Cici sedikit kesal.
"Kalau di dalam, pasti akan langsung jadi baby. Kau mau hamil di luar nikah?. " Jawaban Andes sungguh membuat Cici mendengus kesal. Tapi, ia malah mulai memperhatikan penampilan nya saat ini. Dimana ia sudah setengah tel*nj*ang.
"Aku belum puas. Tapi, abang udah pingsan duluan. " Cibirnya menahan senyumnya.
Andes yang tadinya ingin memejamkan matanya. Kini, malah kembali membuka mata Hazel itu. Dan menyeringai licik. Pria tampan dengan jambang tipis tersebut bangkit, Dan langsung melirik penampilan calon istri nya.
__ADS_1
"Apa mau coba pake ini?. " Tanya Andes sembari memperlihatkan jari telunjuknya.
"Kalau robek gimana, bang?. " Pertanyaan konyol akhirnya muncul juga dari bibir mungil itu.
Andes menyeringai licik. Dan kembali memposisikan tubuhnya. Lalu menarik pinggul Cici lagi. Sehingga kini berhadapan dengan wajah tampan Andes. Tanpa menunggu lama lagi, Andes langsung menyesapnya dengan benda tak bertulang miliknya.
"Ouw... Akhhh... bang... "
"Lebih dalam lagi!. Akhhh.... "
Racau Cici dengan tak tahu malunya. Ketika sesapan lidah Andes bekerja dengan baik dibawah sana. Keduanya sudah tak saling malu lagi, Padahal ini pertama kalinya mereka melakukan hal gila seperti ini. Cici juga semakin menekan kepala Andes. Agar semakin memperdalam kegiatan nya dibawah sana.
Tok!
Tok!
Tok!
Deg!
__ADS_1