
Beberapa hari kemudian, Andes seperti nya hampir saja kualahan menghadapi calon istrinya itu. Namun, Beruntunglah Andes tak ingin membuat kesalahan dengan menyalahgunakan kepercayaan kedua orang tuanya itu. Walaupun baginya sedikit berat berada di dekat Cici akhir-akhir ini. Karena gadis itu sangat lah konyol dan juga ceroboh saat dibiarkan bebas.
Seperti pagi ini, Andes sudah duduk di kursi meja makan sana. Untuk sarapan pagi dengan penampilan yang sudah sangat rapi. Sebab ia juga akan pergi ke perusahaan seperti biasanya.
"Morning honey... " Sapa Cici yang baru saja bergabung.
Gadis itu pun sudah nampak rapi dengan jumpsuit tanpa lengan warna maroon nya. Bahkan tas bahunya yang menambah kesan anggun saat ia sedang berjalan seperti itu. Tak lupa hells setinggi 7 sentimeter yang pas di kaki jenjangnya.
"Morning Baby.... " Balas Andes yang menunggu maid menyiapkan kopi hangat untuknya.
Namun, Dengan gaya tengilnya Cici malah memilih untuk duduk di pangkuan Andes. Membuat para maid yang ada di sana langsung tertegun akan ulah nona muda nya ini. Akan tetapi, Mereka pun segera menundukkan kepalanya. Saat Andes langsung menatap mereka satu persatu dengan tatapan dingin nya.
"Disana masih banyak kursi!. Kenapa malah duduk disini?. " Tegur Andes sembil menatap mata bulat dengan bulu mata lentik itu.
"Sebab, duduk disini jauh lebih nyaman." Jawab Cici dengan santainya.
Andes melirik arloji di pergelangan tangan nya. Ketika Cici telah mengalungkan kedua tangannya tepat di leher Andes. Tatapan gadis itu kembali nakal dan itu semua bisa Andes lihat dari sorot mata indah tunangan nya tersebut.
"Aku tidak tahu apa yang akan di lakukan Daddy dan Mommy? . Setelah melihat rekaman CCTV itu!. " Seru Andes dengan menahan tawanya. Ketika raut wajah Cici sontak berubah begitu saja.
__ADS_1
Namun raut wajahnya yang terkejut itu, Hanya bertahan beberapa detik saja. Selanjutnya Cici malah tersenyum merekah, Seolah ia tak takut akan hal apapun lagi. Hingga kekehan kecilnya semakin di dengar jelas oleh Andes serta maid di sana. Sebelum para maid itu Andes suruh keluar dari dalam ruangan makan tersebut.
"Kenapa malah tertawa?. Tidak takut apa, dengan hukuman Daddy nanti?. Hem?. " Andes mulai menakut-nakuti tunangan nya itu.
"Kenapa harus takut? " Tanya balik Cici dengan nada bicara uang yang masih saja santai.
Cici mulai mendekat bibirnya. Tepat di depan telinga Andes lalu ia bilang. " Yang ada kita malah di suruh kawin dengan segera bang. " Bisiknya dengan nada suara menggodanya.
Andes hanya menggelengkan kepala nya pelan. Dan menarik pinggang Cici. Sehingga tubuh ramping itu semakin dekat tanpa jarak lagi dengannya.
"Memangnya sudah siap?. Hem?. " Goda Andes lagi dengan mengulum senyum nya.
"Bilang saja kau itu sudah tak sabaran lagi mau bikin anak!. " Andes kembali menggoda calon istrinya. Sambil menggelengkan kepala nya kembali.
Sementara Cici langsung terkekeh dengan wajah yang merona merah. Sepertinya tebakan Andes benar adanya saat ini. Sehingga mampu membuat Cici tak bisa berkata-kata lagi.
"Ayo kita menikah, bang!. Abang tahu?. Kalau bikin anak itu katanya enak. " Ucap Cici dengan gamblang nya.
"Kamu lupa apa kata Daddy dan Mommy bilang?. " Pertanyaan Andes membuat Cici langsung menggelengkan kan kepalanya cepat.
__ADS_1
"Tentu saja aku ingat, Honey. "
"Makanya, kuliah yang bener!. Dan kau harus... "
"Ah, Mana bisa sabar lebih lama lagi. Aku sudah ingin seperti ini. " Potong Cici yang malah menggerakkan pinggulnya sambil memasang wajah mesum penuh gairah itu di depan Andes.
Posisi Cici kali ini benar-benar mirip dengan wanita yang sedang melakukan penyatuan nya dengan pasangan nya. Belum lagi suara yang ia lontarkan saat ini, begitu mirip dengan suara rintihan seorang perawan di malam pertama saja.
"Akh.... ahkhhhh..."
Sontak membuat Andes langsung menutup mulut Cici dengan tangannya yang lebar itu. "Berhentilah bersikap konyol, CICI....!. " Ujar Andes dengan wajah sedikit kesalnya.
"Kenapa?. Menara abang udah gerak ya?. "
"SUCI... !. "
"Upsss.... "
MINTA VOTE DAN HADIAH NYA DONG GENGππππ
__ADS_1