
Setelah drama di lobby, Rayhan dan Harold menuju ke ruangan Harold dan sesampainya disana Harold langsung duduk di kursi 'kebesaran nya untuk menandatangani berkas-berkas yang sudah menumpuk. sedangkan Rayhan, ia merebahkan diri nya sambil bermain game. Keduanya serius dengan kegiatan masing-masing hingga suara ketukan pintu membuyarkan konsentrasi mereka.
"maaf tuan mengganggu, saya ingin menawarkan kopi atau cemilan untuk tuan dan tuan muda." ucapnya.
"aku mau eskrim dan cemilan yaa paman Roki " sahut Rayhan. ya memang Roki lah yang masuk kedalam ruangan tuan nya.
Setelah Roki keluar lagi dari ruangan itu untuk menyiapkan pesanan tuan nya, Rayhan berjalan dan duduk di depan meja kerja Harold.
" dad apa kamu yakin akan menikahi bunda?? atau karena permintaan ku saja??" tanya Rayhan.
Harold menghentikan pekerjaannya dan menatap Rayhan. "kenapa kamu menanyakan ini lagi son??" Harold balik bertanya.
"dengar Daddy... apapun yang Daddy lakukan itu semua untuk kebahagiaan mu." sambung Harold sambil menatap Rayhan.
"kamu terbaik dad." sahut Rayhan sambil tersenyum, kemudian bocah kecil ini mulai membayangkan bagaimana serunya jika sang daddy sudah menikahi Luna dan mereka semua tinggal satu rumah.
Hari cepat berlalu dan kini sedang dalam perjalanan menuju kampung halaman Luna untuk menemui orang tua Luna. Ketiga bocah ini tampak sangat bahagia, mereka sudah tidak sabar ingin menjadi satu keluarga yang bahagia. Berbeda dengan Luna yang masih memikirkan apa keputusannya sudah benar atau tidak, ada trauma tersendiri dalam diri Luna terhadap laki-laki.
"kamu baik-baik saja??" tanya Harold sambil menggenggam tangan Luna yang berada disebelah. Harold memilih menyetir sendiri dari pada menggunakan jasa supir.
"aku baik-baik saja bang." balas Luna sambil tersenyum.
"kita makan siang dulu yaa...." ucap Harold pada mereka semua.
Sesampainya disebuah restoran Rayhan, Rio dan Leon keluar mobil duluan dan masuk ke dalam restoran. Sedangkan ketika Luna ingin membuka pintu mobil Harold dengan cepat menarik tangannya membuat Luna menoleh.
"ada apa?? apa kamu masih ragu untuk menikah dengan ku??" tanya Harold sambil menatap dalam mata Luna.
"a-akuuu..." Luna tak tahu harus menjawab apa.
"setidaknya lakukan ini demi anak-anak." sela Harold.
__ADS_1
"karena aku pun melakukannya demi mereka. Jika kamu memasang wajah seperti itu terus aku takut mereka menjadi sedih." lanjut Harold lagi.
duuuuaaaarrrr....
Hancur sudah harapan Luna, ia pikir beberapa hari belakangan ini Harold mulai belajar mencintai karena perlakuan Harold yang begitu baik dan manis padanya ternyata itu hanyalah di depan anak-anak mereka. Luna merutuki dirinya sendiri karena telah salah menilai perlakuan Harold padanya dan sekarang ia dapat menyimpulkan jika semua laki-laki memang sama saja."laki-laki akan berubah menjadi baik jika mereka memiliki keinginan" itulah yang ada dipikiran Luna saat ini.
"iya aku paham kok, yawdh ayo turun. kasian mereka menunggu lama." Luna berusaha tersenyum.
Mereka berdua berjalan masuk ke dalam restoran sambil bergandengan tangan, lebih tepatnya Harold yang menggandeng tangan Luna sambil menatap ketiga bocah itu yang juga sedang menatap mereka.
"kalian udh pesan makanan??" tanya Harold yang sudah berada di depan mereka.
"kami menunggu bunda dan daddy" sahut Leon yang dibalas anggukan oleh Harold.
Setelah memesan makanan, mereka makan dengan tenang sesekali harold menyuapi Luna seolah mereka adalah pasangan yang sedang jatuh cinta.
"tahan Luna, tahan. kamu ga boleh sampai jatuh cinta sama laki-laki ini" batin Luna menguatkan hatinya sendiri. Ia bersikeras ingin menutup hatinya rapat-rapat, ia tidak ingin kecewa untuk kedua kalinya.
Selesai makan mereka melanjutkan perjalanan,, sambil bercanda tawa hingga ketiga bocah itu mengantuk dan tertidur. Harold terus mengajak ngobrol Luna, entah kenapa ia ingin sekali tahu tentang keseharian Luna.
"lumayan, dari rio berusia 3th." jawab Luna.
"lama juga ya..." sahut Harold yang hanya dibalas anggukan oleh Luna. dan setelah itu tidak ada lagi pembicaraan di antara mereka hingga sampailah mereka di depan rumah orang tua Luna, disana sudah ada ibu dan bapak Luna yang menunggu mereka di teras depan rumah. Rio langsung turun dari mobil dan berlari berhamburan memeluk nenek dan kakek nya secara bergantian, disusul oleh Leon dan Rayhan.
"ini Rayhan, temen sekolah Rio dan Leon ayah ibu." Luna memeluk pundak Rayhan dan memperkenalkannya pada orang tuanya.
"dan ini Daddy nya Rayhan." lanjut Luna sambil menatap Harold yg langsung mencium tangan kedua orang tuanya.
"yasudah ayo masuk, kita lanjutkan obrolan nya didalam" ayah Luna mempersilahkan mereka semua masuk dan duduk diruang tamu.
"ayo diminum" ibu Luna menyuguhkan minuman untuk mereka semua.
__ADS_1
Seperti biasa Rayhan dan Rio yang senang sekali bercanda membuat mereka semua tertawa, sesekali Rio menceritakan tentang pertemanan nya dengan Rayhan pada nenek dan kakeknya.
"kalian akan menginap kan??" tanya ibu Luna.
"iyalah nek,, masa jauh-jauh ga nginap" jawab Rio dengan semangat.
"besok ajak kita jalan" ke ladang yaa kek" sambung Leon tak kalah semangat.
" klo soalnya itu sih beres deh" ayah Luna memberikan jempol pada ketiga bocah itu.
"ohiya... maksud dan tujuan saya kesini adalah untuk melamar Luna." ucap Harold tiba-tiba membuat mereka yang ada disana menatapnya, terutama ayah dan ibu Luna.
"apa nak Harold yakin??" tanya ayah Luna sambil menatap Harold dengan serius.
"saya yakin pak, lagi pula anak saya menyayangi Luna dan begitu sebaliknya." jawab Harold.
"bagaimana dengan kamu, Luna??" kini ayah Luna menatapnya.
"Luna bersedia ayah,," jawab Luna sambil menunduk. Ibu Luna yang berada disana terus memperhatikan sang putri yang entah kenapa ada yang berbeda dari raut wajah Luna.
Setelah pembicaraan itu Luna membantu ibunya menyiapkan makan malam untuk mereka semua, sedangkan para laki-laki asik bermain dan bercanda. Harold pun merasa nyaman berada dirumah itu karena ayah dan ibu Luna menerimanya dan juga Rayhan dengan baik.
"ayo sudah dulu mainnya... makanan sudah siap tuh." ucap ibu menghentikan kegiatan mereka
Mereka makan dengan hening, hanya terdengar suara benturan sendok dan garpu. Setelah makan malam mereka kembali keruang keluarga untuk bersantai sedangkan Luna membereskan bekas makan mereka semua.
"sudah malam,, ayo anak-anak tidur" ucap Luna saat tiba diruang keluarga.
"masih sore kan Bun?? aku juga belum mengantuk." jawab Rio
"ini sudah malam Yo... katanya besok pagi mau jalan-jalan kan?? jadi harus tidur sekarang." putus Luna yang akhirnya ketiga bocah itu menurutnya.
__ADS_1
Setelah memastikan anak-anaknya masuk kedalam kamar, Luna berjalan menuju taman belakang dan duduk di bangku yang berada di sana,
hingga.....