
Keesokan paginya, Luna membangunkan Harold yang masih tertidur di sofa.
"aku udh siapkan air hangat dan pakaian untuk mas" ucap Luna yang hanya dibalas senyuman oleh Harold.
"aku siapkan sarapan dulu ya..."
"iya sebentar lagi aku mandi" Harold merenggangkan kan otot-ototnya. tidur di sofa membuat tubuhnya terasa pegal.
Luna meninggalkan kamar untuk menyiapkan sarapan, ternyata sudah ada sang ibu yang sedang memasak di dapur dan sudah hampir selesai.
"masak apa Bu?? aku bantu yaa..." Luna berdiri disamping sang ibu.
"ga usah nak, ini udh mau selesai. kamu bangunkan anak-anak aja..."
"selamat pagi Bunda... selamat pagi nek" ucap ketiga bocah itu sambil duduk di bangku meja makan.
"eh sudah bangun rupanya" Luna menghampiri ketiganya
"kalian duduk lah dulu, bunda akan siapkan susu untuk kalian" lanjutnya lagi yang dibalas anggukan oleh ketiganya.
tak lama kemudian, ayah Luna dan juga Harold datang dan ikut duduk bersama ketiga bocah itu.
"ohiya, Daddy harus kembali ke kota, ada pekerjaan yang harus Daddy kerjakan di sana" ucap Harold tiba-tiba.
__ADS_1
"apa paman Roki tidak bisa mengerjakan nya dad??" tanya Rayhan.
"apa kamu masih ingin berlibur disini boy?" Harold balok bertanya yang dibalas anggukan pelan oleh Rayhan.
"baiklah jika kalian masih ingin berlibur, Daddy akan kembali lebih dahulu. Jika kalian sudah puas berlibur, Daddy akan mengirimkan supir untuk menjemput kalian" sambungnya lagi.
Luna yang mendengar percakapan mereka mulai berpikir yang tidak-tidak, ia berpikir jika itu hanya alasan Harold saja untuk menghindarinya.
"apa itu tidak masalah dad?" kali ini Leon yang bertanya.
"tentu saja tidak. kalian tau, apapun yang membuat kalian bahagia menjadi prioritas Daddy tapi maaf untuk kali ini Daddy tidak bisa menemani kalian." jelas Harold
"ayo kita sarapan dulu,, makanan nya sudah siap" ucap ibu Luna sambil meletakkan beberapa makanan dibantu oleh Luna. Tidak lupa juga Luna dengan siaga menyiapkan makanan untuk Harold dan anak-anaknya.
Selesai sarapan Harold pamit ke kamar untuk membereskan barang-barangnya tanpa menoleh ke arah Luna. Luna yang sadar akan hal itu berjalan mengikuti Harold.
"tidak perlu, jika kamu masih ingin disini maka menetaplah selama yang kamu mau." sahutnya masih fokus dengan kegiatannya.
"aku bantu yaa bang" Luna mulai mendekati Harold.
"tidak perlu. ini sudah mau selesai kok." jawabnya acuh.
"ini untuk keperluanmu dan anak-anak selama disini." Harold memberikan sebuah black card kepada Luna.
__ADS_1
"tidak perlu bang, aku masih ada uang kok" tolak Luna.
"apa aku setidak berguna itu sampai uangku pun tak mau kamu terima??" Harold mulai tersulut emosi .
"bu-bukan begitu maksud ku." Luna mulai terbata-bata.
"aku tau kamu bisa mencari uang sendiri dan pernikahan kita hanya sebatas untuk anak-anak, tapi itu berarti anak-anak menjadi tanggung jawabku sekarang. setidaknya biarkan aku mencukupi kebutuhan mereka jika kamu tidak mau menerima uangku ." Harold memotong pembicaraan Luna.
"apa kamu kembali ke kota untuk menghindariku??" tanya Luna dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"bahkan baru beberapa hari menikah dan sekarang sudah akan ditinggal" lirih Luna yang masih terdengar.
Harold yang berdiri membelakangi Luna mengulum senyumnya. Ia menghampiri Luna yang sedang duduk di sofa lalu menggenggam tangannya.
"aku tidak bermaksud menghindari tapi aku memang memiliki pekerjaan yang sangat penting." Harold menatap luna dengan lembut .
"lalu kenapa Abang tidak mengajakku untuk kembali??"
"karena aku tau kamu masih ingin berada disini, begitupun dengan anak-anak." jawab Harold sambil menoel hidung Luna membuat pipi Luna memerah.
"kemarilah" Harold menarik tangan Luna lalu memeluknya.
"aku sama sekali tidak punya niat buruk, aku terima jika kamu belum siap menjadi istriku dan aku akan menunggu hingga kamu siap" ucapnya lembut.
__ADS_1
"aku tau kelakuanku dimalam pertama kita membuatmu sakit dan aku yakin kamu belum bisa melupakannya hingga sekarang, oleh sebab itu aku ingin memberi kamu waktu." lanjutnya lagi
"taa-taaapii....."