Istri Pilihan Anakku

Istri Pilihan Anakku
episode 47


__ADS_3

Hari ini adalah hari pernikahan Harold dan Luna, setelah mengucapkan ijab qobul dan sudah sah menjadi sepasang suami istri mereka menyambut para tamu yang hadir, tidak banyak yang mereka undang kerena memang pernikahan ini diadakan secara mendadak. Terlihat jelas raut kebahagiaan di wajah ketiga bocah itu yang mendatangi Luna dan Harold di pelaminan.


"selamat yaaa Daddy, bunda" ucap Rayhan bahagia.


"terimakasih bunda karena sudah mau menjadi pengganti mommy untukku" lanjutnya lagi.


"sama-sama sayang." Luna memeluk Rayhan. Leon dan Rio pun bergantian mengucapkan selamat pada kedua orangtuanya.


Sore hari acara sudah selesai karena memang Luna tidak ingin acara tersebut hingga malam hari dan Harold mengajaknya ke hotel yang telah ia pesan untuk malam pertama mereka, kini mereka sedang berpamitan pada ketiga anaknya.


"kami ga di ajak dad??" tanya Rayhan sedih.


"biarkan Daddy dan Bunda berdua dulu yaa" ucap sang opa


"biar nanti pulangnya bawa asik" sambung Oma membuat muka Luna merona.


"beneran Oma??" tanya Rayhan antusias


"waah asik dong klo kita punya Ade.." sambung Rio


"apa lagi kalau adiknya cewek" Leon ikut menimpali. Mulailah ketiga bocah ini menghayal memiliki adik.

__ADS_1


"nah klo kalian mau punya adik,, biarin Daddy dan Bunda pergi berdua ya...." bujuk opa


"oke deh,, Daddy sama Bunda hati-hati yaa..." ucap ketiganya bersamaan.


Setelah berpamitan Harold dan Luna pergi ke hotel yang telah disiapkan oleh orang tua Harold sebagai hadiah pernikahan untuk keduanya. Sepanjang perjalanan hanya ada keheningan, Luna yang bergelut dengan pikirannya ia tidak menyangka bahwa sekarang telah menikah dan Harold dengan gengsinya untuk membuka pembicaraan di antara mereka, hingga ...


"kita makan dulu ya..." akhirnya Harold membuang sedikit gengsinya.


"terserah Abang saja " jawab Luna acuh


"kamu tau tempat makan yang enak disini??" tanya Harold.


"aku ga tau restoran yang enak disini tapi kalau tempat makan kaki lima yang enak aku tau."jawab Luna


"aku memang ga pernah makan ditempat seperti itu, tapi ga ada salah nya dicoba" jawab Harold.


"kamu kasih tau aja ya jalan sama tempatnya" sambungnya lagi. Luna hanya mengangguk kepalanya dan menunjukkan arah jalan pada Harold. Sesampainya disana Harold menatap aneh tempat itu, warung pinggir jalan dengan duduk beralas tikar ..


"kamu yakin mau makan disini??" tanya Harold memastikan.


"iya, emangnya kenapa bang??" Luna bertanya balik. Ia menahan tawanya melihat ekspresi Harold yang sedang memperhatikan tempat sekitar.

__ADS_1


"tenang aja bang, makanan disini enak dan bersih kok. Tapi kalau Abang ga mau makan disini yawdh ayo kita cari tempat lain" sambung Luna lagi.


"e-eh jangan. kita makan disini aja" jawab Harold dengan sedikit ragu tapi ia tidak mau mengecewakan Luna.


"Abang yakin??" Luna memastikan.


"iya, ayo pesan." putus Harold membuat senyum Luna mengembang membuat Harold juga ikut tersenyum tipis melihatnya. Setelah duduk dan memesan makanan mereka saling bercerita tentang kehidupan masing-masing, lebih tepatnya tentang anak-anak mereka.


"Lun boleh aku tahu pekerjaanmu??" tanya Harold


"aku penulis bang" jawab Luna singkat.


"aku punya perusahaan penerbit, apa kamu mau bekerja disana??"tanya Harold lagi.


"tidak bang, terimakasih. aku sudah betah ditempat kerjaku sekarang." jawab Luna dengan senyuman.


"tapi kamu boleh tidak bekerja mulai sekarang, aku akan mencukupi kebutuhanmu dan anak-anak" ucap Harold yang membuat Luna menoleh dan tersenyum.


"aku tahu itu bang.. tapi bolehkan aku tetap bekerja??" tanya Luna.


"aku menyukai pekerjaanku dan menulis juga adalah hobi ku" jelas Luna.

__ADS_1


"baiklah kalau itu kemauan kamu, aku tidak ingin mengekangmu." ucap Harold bertepatan dengan datangnya makanan yang mereka pesan membuat mereka menghentikan pembicaraannya.


Mereka makan dengan tenang tapi pembicaraan sedikitpun, setelah selesai makan mereka memutuskan untuk melanjutkan perjalanan karena hari sudah mulai malam.


__ADS_2