
masih di waktu yang sama, di mana Harold dan Rendi sedang duduk sambil menunggu Rayhan.
"apa aku boleh bertanya serius pada mu??" tanya Rendi sambil menatap serius Harold.
"ada apa? kenapa wajah mu menjadi serius begitu?" tanya Harold heran melihat raut wajah Rendi yang berubah.
"apa Rayhan pernah menanyakan tentang ibu nya?? atau membahas tentang iya merindukan ibu nya?" tanya Rendi dengan hati-hati.
Harold sontak menengok kearah Rendi dengan tatapan terkejut, ia tidak menyangka jika sahabatnya ini akan menanyakan hal itu. "Kenapa kau bertanya seperti itu??" tanya Harold heran.
"Tidak, aku hanya bertanya." Harold menghela nafas nya berat. "Rayhan tidak pernah menanyakan tentang mommy nya karena dia tahu jika mommy nya sudah meninggal dan kejadian itu tepat di depan mata nya." ucap Harold sambil menatap lurus kedepan.
"jangan bilang kau terlalu sibuk sehingga kau tidak memiliki waktu untuk Rayhan jadi kau tidak tahu apa yang anak itu rasakan". ucap Rendi santai namun dapat membuat Harold sedikit tampak berfikir. "Ya sepertinya begitu, setelah kepergian Hana aku selalu menyibukkan diriku dengan pekerjaan."
"dan aku menjadi tidak memperhatikan Rayhan, bahkan kau tidak tau apa yang sedang ia rasakan." ucap Rendi memotong perkataan Harold.
"apa maksud mu?" tanya harold yang sudah tampak emosi, ia tidak menyangka jika Rendi akan menghakimi nya seperti ini.
"kau ingat ketika kita berjalan-jalan tadi?? aku selalu memperhatikan Rayhan yang sesekali melihat anak lain sedang bersama dengan ibu nya. Aku melihat nya menitihkan air mata namun dengan cepat ia menghapus nya lagi." perkataan Rendi yang sontak membuat Harold kaget, pasal nya yang Harold tahu hanyalah Rayhan yang bahagia saat sedang jalan-jalan bersama nya tetapi Harold sadar bahwa ia tidak selalu memperhatikan mimik muka anaknya tersebut.
"tadi pagi Rayhan memang sempat bilang pada ku jika ia ingin memiliki teman dan aku berniat akan mendaftarkan nya sekolah." ucap Harold dengan tatapan datar.
"kau akan menyekolahkan nya di usia nya sekarang ?" tanya Rendi yang tak habis pikir dengan jalan pikiran harold saat ini.
__ADS_1
"iya, memang kenapa?? usia nya memang sudah pantas untuk sekolah."
"oh ayolah Harold... kau harus paham apa yang anak mu maksud." ucap Rendi sedikit frustasi.
"apa maksud mu ??" tanya Harold menaikkan sebelah alisnya.
Rendi mengusap wajah nya kasar. "yang Rayhan maksud ia menginginkan teman adalah ia menginginkan sosok yang selalu berasa di sampingnya, sosok yang selalu memanjakannya, sosok yang selalu menghibur dan mau mendengarkan keluh kesahnya. Ia memerlukan sosok seorang ibu, Harold." ucap Rendi frustasi.
"tapi ia bilang ingin bersekolah." ucap Harold bingung.
"oh ayolah Harold, kau harus mengerti bahwa anakmu itu tidak ingin kau bersedih atau memikirkan keinginan nya." ucap Rendy lagi.
"kurasa kau benar. memang selama ini Rayhan tidak pernah menunjukkan kesedihan nya di hadapkan."
"lalu apa yang harus aku lakukan sekarang?" tanya Harold.
"apa lagi?? carikan Rayhan ibu sambung." ucap Rendi enteng..
"apa kau gila?? aku tidak mungkin menggantikan Hana di hati ku." ucap Harold tak terima dengan ucapan Rendi.
"apa kau akan mempertahankan ego mu itu dan tak memikirkan perasaan anak mu?" ucap Rendi yang sudah mulai emosi. Sangat susah memberikan pengertian pada sahabatnya ini.
"turunkan ego mu. aku yakin Hana juga akan sedih jika kau terus seperti ini, tanpa kau sadari kau sudah mengorbankan perasaan anakmu sendiri hanya karena ego mu semata yang tidak ingin menggantikan Hana di hatimu." perkataan Rendi yang sukses membuat Harold terdiam dan mulai berpikir.
__ADS_1
"pikirkan perkataan ku baik-baik." ucap Rendi lagi sambil menepuk pelan pundak Harold.
Setelah perbincangan mereka itu datang lah Rayhan dan Roki yang sudah selesai ke kamar mandi dan menghampiri mereka.
"daddy ayo kita main lagi" Rayhan menarik tangan sang ayah.
"ini udah siang sayang,, kita makan dulu yaa" ucap Harold sambil mengelus lembut surai sang putra.
"baiklah." ucap Rayhan pasrah dan setelah itu ketiga lelaki dewasa dan satu bocah laki-laki itu berjalan kearah restoran untuk makan siang.
Setelah selesai makan siang ketiga lelaki dewasa itu kembali menemani Rayhan bermain sampai bocah itu merasa puas.
"om Rendi, Rayhan pulang dulu ya... Rayhan sudah cape." ucap Rayhan berpamitan kepada Rendi.
"iya jagoan hati-hati ya.. apa kau senang hari ini?" tanya rendi sambil menyamakan tingginya dengan Rayhan.
"sangat om, Rayhan sangat senang hari ini. Kapan-kapan main lagi yaa om." ucap RAyhan dengan mata berbinar menatap Rendi.
"boleh sayang, kapan pun kau mau kau bisa kesini. Jika daddy mu itu SANGAT SIBUK, kau bisa meminta supir atau Roki mengantarmu kesini dan om anak menemanimu bermain." ucap Rendi menekan kata "SANGAT SIBUK"nya untuk menyindir Harold.
"oke om,, sekali lagi terimakasih ya... aku pulang dulu." pamit Rayhan sambil menyalami tangan Rendi dan dibalas anggukan oleh Rendi.
Kali ini Harold yang bersalaman ala laki-laki dengan Rendi,, "aku pamit dulu" ucap Harold pada Rendi.
__ADS_1
"hati-hati dan pikirkan baik-baik perkataan ku tadi. ucap Rendi menepuk pelan bahu Harold yang hanya di balas anggukan kepala oleh Harold.