
"ada yang sedang kamu pikirkan???" tanya seseorang menepuk pundak Luna membuatnya berlonjak kaget.
"kenapa sampai kaget begitu??" tanya ibu Luna yang langsung duduk disebelah nya. Ya memang yang tadi menepuk pundaknya adalah sang ibu, sang ibu menunggu waktu yang tepat untuk bertanya pada anaknya itu.
"e-eh ibu.. kenapa belum tidur??" Luna mengalihkan pembicaraan.
"ibu belum mengantuk,, kenapa kamu disini malam-malam??" cecar sang ibu. Dari mereka datang sang ibu sudah memperhatikan raut wajah Luna yang berbeda dan sebagai ibu yang telah melahirkannya ia tahu betul jika anaknya ini sedang tidak baik-baik saja. Luna terus diam, ia tidak ingin membuat sang ibu sedih jika tahu pernikahan ini hanya untuk anak-anaknya saja.
"ceritakan saja,, jangan di pendam" ucapnya lagi sambil mengusap sayang kepala Luna. Luna langsung berhambur memeluk sang ibu, pelukan hangat yang sangat ia rindukan.
"aku merindukan pelukan ibu " ucap Luna sambil mengeratkan pelukan nya membuat sang ibu tersenyum sambil mengusap punggung Luna.
"ceritakan jika kamu mau,, sesuatu yang di pendam itu tidak baik." ucap sang ibu sambil melepaskan pelukannya. ia menatap lekat-lekat wajah Luna, ada raut kesedihan, ketakutan dan kebingungan di sorot matanya.
"ibu bukankah sesuatu yang dipaksakan itu tidak baik??" akhirnya Luna bertanya.
__ADS_1
"iya itu benar, ada apa??" sang ibu balik bertanya. Luna menceritakan semuanya dari awal anak-anaknya dekat dengan Rayhan, bagaimana sampai Rayhan memanggilnya dengan sebutan bunda dan mengapa ia akan menikah dengan Harold.
"sekarang aku tidak tahu keputusanku ini benar atau salah Bu.." Luna menundukkan kepalanya.
"sayang... Ibu melihat nak Harold adalah orang yang baik, dan juga terlihat jika ia menyayangi Leon dan Rio seperti anaknya sendiri." ucap ibu Luna.
"itu sebabnya aku menerima lamarannya Bu,, aku ingin anak-anak bahagia." sahut Luna.
"ibu paham perasaanmu dan ketakutanmu tapi tidak ada salahnya membuka hati, sayang" sang ibu memberi masukan untuk Luna. Luna tampak diam mencerna semua yang dikatakan oleh sang ibu, apakah ia harus membuka hat? belajar mencintai Harold? bagaimana jika Harold tidak bisa mencintainya juga?? itulah yang ada dalam pikiran Luna saat ini.
"yasudah ibu masuk duluan ya... kamu jangan terlalu lama di sini, udaranya dingin" pamit sang ibu yang kemudian beranjak meninggalkan Luna sendiri, hingga....
"eh aku blum ngantuk bang" jawab Luna. Harold Langsung duduk disebelah Luna menggantikan sang ibu yang belum lama pergi.
"Abang butuh apa?? apa mau kopi??"tawar Luna.
__ADS_1
"tidak, terimakasih." jawab Harold singkat sambil memandang lurus kedepan.
"aku sudah menghubungi orang tuaku dan membicarakan soal pernikahan kita" ucap Harold tiba-tiba, Luna menoleh menatapnya menunggu kata apa yang akan keluar dari mulut Harold selanjutnya.
"Dan mereka setuju untuk kita menikah 2hari lagi,, disini." ucap Harold santai .
"apa?? 2hari lagi??" kaget Luna, ia menatap Harold tak percaya. kenapa bisa secepat ini pikir Luna.
"kenapa cepat sekali??" tanya nya lagi.
"bukankah lebih cepat lebih baik??" Harold balik bertanya masih dengan santainya.
"aku pikir bisa beberapa bulan lagi" gumam Luna pelan tapi masih dapat terdengar oleh Harold.
"aku tahu kita belum terlalu saling mengenal, tapi kita bisa berkenalan lebih jauh setelah menikah bukan??" Harold bertanya sambil menatap dalam mata Luna yang membuat Luna menganggukkan kepalanya tanpa sadar.
__ADS_1
"aku paham apa yang kamu pikirkan tapi yang terpenting sekarang adalah kebahagiaan anak-anak. Sekarang mereka sudah sangat bahagia dengan kabar ini, apa kamu mau mereka kecewa karena pernikahan kita yang terlalu lama??" Harold masih menatap mata Luna. Luna tidak bisa berkata apapun benar juga yang dikatakan Harold, kebahagiaan anak-anak sudah sangat terlihat sekarang lagipula cepat atau lambat mereka pasti aka. menikah juga demi anak-anak.
ya demi anak-anak, bukan demi yang lain. hehehheheee