
Sore hari orang tua Harold sudah tiba dirumah Luna. Rayhan menyambut opa dan Oma nya dengan gembira pasalnya memang sudah lama juga ia tidak bertemu dengan mereka. Rayhan mulai bercerita tentang Luna kepada Oma dan opa nya dengan semangat, terlihat jelas kebahagiaan Dimata bocah itu.
"kamu bahagia sekarang??" tanya sang opa sambil mengusap kepala Rayhan yang duduk di sebelahnya.
"sangat opa,, aku sangat bahagia." jawabnya.
"semoga cucu kami ini tidak menyusahkan kalian yaa selama ada disini." ucap opa pada ibu dan ayah Luna yang juga berada disana.
"tentu saja tidak,, Rayhan anak yang baik dan manis." jawab ayah sambil menatap sayang Rayhan. Mereka semua mengobrol sambil bercanda tawa, Luna yang melihat nya tersenyum senang pasalnya ia tidak menyangka jika orang tua Harold dapat menerima nya juga Rio dan Leon .
Setelah makan malam bersama, mereka memutuskan untuk beristirahat karena besok adalah hari pernikahan tapi tidak dengan Luna, justru Luna tidak bisa tidur dan memilih duduk di taman belakang memandang langit-langit bertabur bintang pada malam itu, tak lama datang ibu Harold yang langsung duduk disebelahnya.
"kenapa kamu belum tidur??" tanya nya pada Luna.
__ADS_1
"eh ibu.. aku tidak bisa tidur. ibu sendiri kenapa masih berada diluar??" luna balik bertanya
"tadi aku ingin mengambil minum dan tak sengaja melihatmu disini jadi aku kesini." jelasnya.
"terimakasih sudah mau menikah dengan Harold." lanjutnya lagi sambil menggenggam tangan Luna.
"aku tahu kamu melakukan ini demi Rayhan,, Harold sudah menceritakan semua nya pada kami" lanjutnya lagi .
"ya aku tahu,, maka dari itu aku berterima kasih padamu Luna. Aku harap kamu juga dapat menerima Harold" ucap ibu Harold tulus.
"semua dapat berubah seiring berjalannya waktu Bu" balas Luna sambil tersenyum.
"lebih baik kamu masuk sekarang,, udara malam tidak bagus untuk kesehatan mu" sambung nya lagi.
__ADS_1
"baiklah, ayo kita masuk Bu... ibu harus banyak beristirahat" Luna memapah sang ibu masuk kedalam. Didalam Luna bertemu dengan Harold yang berjalan kearah dapur
"Abang butuh sesuatu??" tanya Luna.
"loh kamu belum tidur??" Harold malah balik bertanya .
"aku baru mau kembali ke kamar, Abang mau di buatkan kopi??" tanya Luna lagi.
"ga usah, aku cuma mau ambil minum aja kok. kamu balik ke kamar aja" kata Harold, Luna hanya mengangguk kepalanya dan berbalik berjalan menuju kamar.
Sesampainya didalam kamar, Luna merebahkan diri diatas kasur dan masih memikirkan apa sudah tepat keputusannya. Tinggal beberapa jam lagi ia akan menikah, hal yang tak pernah ia bayangkan, sebelumnya ia berpikir tidak akan menikah sampai kapanpun tapi ternyata Tuhan berkehendak lain, kini ia harus menikah demi kebahagiaan anak-anak nya. Ia hanya berharap jika Harold tidak sama seperti mantan suami sebelumnya yang tega mengkhianati cinta nya dengan sahabatnya sendiri. Itulah yang membuat Luna benar-benar menutup dirinya dari siapa pun, jangankan laki-laki, bersahabat dengan perempuan pun Luna menjadi takut. Ia tidak siap jika harus di khianati untuk kedua kalinya.
Sedangkan dikamar Harold, Harold juga tidak bisa tidur. Ia juga sama dengan Luna memikirkan apa keputusannya sudah benar atau belum tapi tidak dapat ia pungkiri jika ada rasa nyaman ketika sedang berada di dekat Luna, perasaan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Bahkan dengan Angel pun ia tidak pernah merasa senyaman ini, bersama Angel ia hanya menyalurkan hasratnya saja sebagai laki-laki tapi tidak memiliki perasaan apapun.
__ADS_1