
Tak berapa lama datanglah Rio, Rayhan dan Harold menghampiri Luna dan Leon.
"ada apa ni?? pelukan berdua aja" ledek Rio
"apa sih, sirik aja" ketus Leon sambil melepaskan pelukan nya.
"udh ayo bang kita main lagi" ajak Rayhan menunjuk sebuah wahana
"kalian main bertiga saja ya... Daddy dan Bunda tunggu sini." ucap Harold yang di angguki oleh ketiga bocah itu,, setelah ketiganya pergi menjauh dari Harold dan Luna tidak ada pembicaraan sama sekali di antara keduanya.
"kamu masih marah??" Harold membuka percakapan sambil menoleh, menatap Luna.
"aku ga marah dan ga pernah marah" jawab Luna tanpa mau menoleh.
"kalau ga marah kenapa sikap kamu dingin begini ke aku?? dan kamu juga lebih banyak diam." cecar Harold
"aku cuma sedikit lelah" jawab Luna acuh. Ia masih enggan melihat wajah Harold ketika mereka berbicara.
"kalau begitu lebih baik kita pulang" mendengar perkataan Harold, Luna langsung menatap Harold yang tampak acuh. bagaimana mereka akan pulang sedangkan anak-anak sedang menikmati wahana yang terdapat di taman bermain tersebut.
__ADS_1
'taapi----" Luna tidak melanjutkan ucapannya ketika melihat Harold beranjak dari tempat duduknya tanpa sepatah katapun.
"ish kemana laki-laki menyebalkan itu pergi?" gerutu Luna sambil terus memperhatikan Harold yang menjauh.
Tak mau ambil pusing, Luna mengalihkan pandangannya pada wahana yang sedang di naiki oleh anak-anak. Senyuman Luna selalu terukir kala melihat anak-anak nya yang tertawa lepas, tak berselang lama ada sebuah permen kapas besar berbentuk hati dihadapannya. Luna melihat permen itu dengan heran, pasalnya tidak terlihat wajah si pembawa permen tersebut.
"buat kamu" ucap seseorang dibalik permen kapas itu sambil menyodorkan permen kapas nya.
"buat aku mana dad??" suara bocah menghampiri keduanya.
"ish mengganggu saja" gerutu Harold sambil menurunkan permen kapas dari depan muka nya membuat ketiga bocah itu tertawa. Sedangkan Luna hanya dapat menggelengkan kepalanya sambil menahan senyuman.
"pulang saja yuk... kasian bunda capek" Harold yang menjawab dan memberikan permen kapas berbentuk hatinya pada Luna.Dan dengan sangat terpaksa ketiga bocah itu mengiyakan ajakan Harold karena mereka juga tidak ingin melihat Luna kelelahan. Mereka berjalan keluar taman bermain itu dengan Rio, Rayhan dan Leon berjalan didepan sambil bercanda-canda sedangkan Luna dan Harold berjalan dibelakang ketiganya sambil Harold merangkul pinggang Luna dengan posesif .
"nanti aku mau mengulang yang semalam yaa" bisik Harold lalu mencium pipi Luna membuat Luna merona sekaligus menegang, ia masih takut kejadian kemarin malam terulang kembali. Ia masih tidak sanggup jika Harold menyebut nama wanita lain meskipun itu nama mendiang istrinya sendiri. Sesampainya di rumah, ayah dan ibu Luna sudah menyambut mereka di meja makan.
"kalian pulang tepat waktu,, ayo makan dulu." ucap sang ayah.
"jangan lupa cuci tangan dulu yaaa anak-anak" Luna memberikan peringatan. Setelah makan malam selesai mereka memutuskan untuk berkumpul diruang keluarga hanya sekedar untuk berbincang-bincang ringan. Tak lama Rio, Rayhan dan Leon pamit untuk kembali ke kamar mereka karena sudah merasa ngantuk.
__ADS_1
"kalian juga beristirahat lah" ucap sang ibu pada Harold dan Luna setelah melihat ketiga bocah itu pergi.
"iya Bu,, saya juga ingin membersihkan diri dulu." balas Harold sambil beranjak.
"kalau begitu kami ke kamar dulu." lanjutnya lagi sambil mengajak Luna.
"kamu duluan aja bang,, aku mau lihat anak-anak dulu"
"kamu ga mau nyiapin pakaian aku??"tanya Harold.
"sudah Luna, kamu urus suami kamu dulu. biar anak-anak ibu yang lihat" ibu juga beranjak setelah melihat Luna hanya diam saja.
"yasudah kalau kamu mau lihat anak-anak dulu, aku bisa menyiapkannya sendiri." setelah berucap seperti itu Harold langsung berjalan ke kamar tanpa menoleh ke belakang meninggalkan Luna yang masih berdiam diri.
"apa dia marah??" tanya Luna dalam hati nya.
"ada apa nak??" kali ini sang ayah yang bertanya, ia sudah memperhatikan perubahan sikap Luna dari awal mereka datang.
"e--eeeeh eeemmmh......"
__ADS_1