
Keesokan harinya, rombongan Beleza tiba di tempat persinggahan Suku Rimba. Tak ada gangguan selama perjalanan mereka, kecuali tingkah Udin dan Sampuraga yang tampak aneh—keduanya selalu berjalan di belakang dan menjaga jarak aman dengan rombongan Pemuda Suku Rimba, macam PSBB saja.
Suku Rimba memiliki kebiasaan unik, yaitu mereka akan singgah selama sebulan hingga persediaan makanan mereka habis dan melanjutkan pengembaraan lagi ke tempat lain di pegunungan bukit barisan yang terletak di tengah-tengah Pulau Sumatera tersebut.
Melihat kedatangan Beleza dan yang lainnya, anak-anak Suku Rimba langsung berhamburan dan menghampiri mereka. Anak-anak itu sangat senang, karena persediaan makanan akan melimpah lagi setelah beberapa hari ini hanya memakan babi hutan yang diburu di dekat area persinggahan saja.
“Kakak syantiekkkkk!” Gadis kecil berusia Sepuluh tahun langsung melompat ke pelukan Beleza. “Aku rindu Kakak Eza, tak ada kakak di sini rasanya Fiza makin tua saja karena bermain dengan nenek-nenek!” keluhnya.
Namun, tiba-tiba Fiza tercengang melihat ada laki-laki yang parasnya berbeda dengan laki-laki di Suku Rimba di dalam keranjang milik Malin. Laki-laki ini tampak lebih bersih dan putih, lebih adem lah saat dipandang—kontras sekali dengan Pemuda Suku Rimba yang berkulit dekil.
“Si-siapa itu, Paman Malin?” tanya Fiza pada Malin sembari menyentuh pipi Pemuda itu dengan jari telunjuknya.
Bipang tersenyum cerah dan berbisik, “Ini calon suami Beleza, tapi jangan beritahu yang lain, ya! Nanti–”
__ADS_1
“Horeeeeeee kakak Eza akan menikah!” teriak Fiza sembari melompat-lompat kegirangan.
Malin menepuk jidatnya, ternyata bermain rahasia-rahasiaan dengan gadis kecil tidaklah mudah. Semua mata langsung menoleh ke arahnya dan ia pun bersiul sembari menengadah menatap langit cerah di Pegunungan Bukit Barisan Pulau Sumatera tersebut.
Wajah Sesepuh Suku Rimba sungguh tak sedap dipandang, mengkerut wajah mereka dan kata-kata yang membuat gatal telinga pun terlontarkan.
Beleza dan Malin tak bisa berbuat apa-apa. Namun, sikap manja Beleza tetap terlihat, ia menutup telinganya dengan telapak tangannya agar ia tidak mendengar ceramah singkat para Sesepuh tersebut.
Sudah seperti hukum tak tertulis di Suku Rimba bahwa tidak boleh berbaur dengan orang yang berasal dari luar Suku, dan Para Pemuda Suku Rimba justru melanggar pantangan yang telah turun-temurun tersebut.
Kepala Suku Rimba keluar dari pondok yang terbuat dari anyaman bambu dan beratapkan daun rumbia miliknya setelah mendengar keributan itu.
Pria sepuh dengan jubah kulit harimau, tongkat dengan tengkorak Manusia di genggaman tangan kanannya berjalan ke arah Beleza yang justru senyum-senyum menatapnya. Padahal tampak jelas wajah Kepala suku itu sedang mengkerut dan menahan amarahnya.
__ADS_1
Dia berusaha bersikap lunak pada Beleza, karena gadis ini adalah Keponakannya dan selama ini selalu ia manja serta menuruti semua keinginannya.
“Beleza! Apa-apaan ini?”
Kepala Suku berkata dengan suara pelan, tetapi intonasi yang digunakannya itu jelas sebuah pernyataan—yang memarahi keponakannya tersebut.
Beleza tak tahu harus menjawab apa? Wajahnya langsung tertunduk lesu, dia pun melirik Malin agar membantunya mencari jalan pintas supaya Kepala Suku tak marah-marah lagi.
Malin mengerutkan keningnya, tetapi Beleza malah mengedipkan mata padanya sehingga ia makin dilema. Namun, ia segera menggelengkan kepala tak mau mengambil resiko dimarahi oleh Kepala Suku.
“Beleza!” seru Kepala Suku yang tahu gadis ini ingin melempar masalahnya pada yang lain.
Beleza tersenyum masam sembari mengigit kukunya yang hitam.
__ADS_1
“A-aku menemukannya hanyut di sungai, karena kasihan kuminta Bang Malin membawanya he-he-he!” Beleza cengengesan.
Kepala Suku Rimba geleng-geleng kepala atas tindakan keponakannya itu. Kepalanya langsung berdenyut ... bingung harus membuat keputusan apa dan ia juga harus membuat keputusan yang adil agar tidak terkesan memihak pada ponakannya itu, serta tidak terjadi kecemburuan dari anggota Suku Rimba lainnya—karena tidak berlaku adil.