
Aroma wangi dari masakannya merebak ke mana-mana, membuat beberapa anggota Suku Rimba datang ke dapur umum karena cacing-cacing di perut mereka berdendang ria ingin meminta jatah. Namun, dengan tegas dan terukur, ia menolak memberikan masakan buatannya pada mereka—sehingga para penonton harus kecewa. Karena gulai ikan salai pakis buatannya ini khusus untuk sang suami tercinta.
Beberapa menit pun berlalu, dengan senyum lebar, Beleza membawa hasil masakannya yang sedikit lagi mendekati rasa masakan Chef Juna itu menuju pondok.
“Abang ... bukan pintunya. Eza sudah bawakan makanan enak, nih!” kata Beleza dari tangga Pondok dan ia tak bisa mendorong pintu karena kedua tangannya membawa makanan.
Zul yang sedang tidur-tiduran segera membuka pintu dan cacing diperutnya langsung berdendang ria setelah mencium aroma makanan yang dibawa Beleza.
Zul sangat senang, padahal di benaknya Beleza akan membawa rumput dan daging ikan yang hancur karena tidak bisa memasak, mengingat Beleza terlihat seperti anak manja yang seluruh kebutuhannya selalu disuguhkan oleh bawahan ayahnya.
“Istrikuuuuuu!”
Zul langsung bergegas menarik tangan Beleza supaya dia senang melihat respon suaminya menghargai jerih payahnya, karena di sinetron jeritan suara hati suami—Zul melihat adegan di mana sang suami memuji masakan istrinya dan sang istri itu sangat senang mendapat pujian itu hingga tertawa terkekeh-kekeh.
__ADS_1
“Kau memang terbaiklah! diibaratkan kau itu Dewi khayangan yang sayapnya patah dan mendarat di hati Abang,” gombalan jitu pun diucapkan Zul.
“Betulkah Bang,” sahut Beleza senang mendengarnya—hingga wajahnya yang kusam, karena tak pernah mandi itu menjadi merah merona. “Ah, Abang pandai kali lah membuat Eza makin jatuh ke jurang cinta paling dalam. Eh, bukan paling dalam lagi, tapi sudah terjerembab ke Palung Mariana di Samudera Pasifik,” katanya lagi.
“Sudah-sudah berhenti menyanjung abang... nanti malah nyamuk yang kenyang dan abang terkena malaria!” Zul menutup pintu Pondok.
Beleza meletakkan makanan yang dibawanya di atas tikar yang juga tempat tidur mereka itu, karena Pondok mereka hanya berukuran 2x2 meter saja.
Keduanya pun makan bersama, Zul makan dengan buas—hingga tambah empat porsi. Beleza sangat senang melihatnya, ternyata suaminya itu menyukai hasil masakannya.
...***...
Mereka berbincang-bincang santai hingga tak terasa mentari di ufuk barat telah tenggelam digantikan dengan lukisan langit berbintang, dan bola lampu raksasa yang dinamakan Bulan Purnama.
__ADS_1
Malam semakin larut dan sunyi—sehingga yang terdengar hanya suara jangkrik dan nyamuk yang bernyanyi disekitar mereka.
Para pemuda menyalakan api unggun di luar sana, karena mereka itu tidur beratapkan langit, dan juga sebagai petugas ronda agar tidak diganggu hewan buas.
Beleza memegang tangan Zul memberikan kode alam padanya. Namun, Zul malah mengelus-elus tangannya saja, karena tak peka dengan kode-kodean itu
“Bang!” kata Beleza pelan.
“Hmm," sahut Zul.
“Kapan mulainya, nih?” Beleza berterus terang, karena telik sandi tak terpecahkan oleh Zul sehingga perlu kode yang lebih mudah dipahami.
Zul menatap mata Beleza yang senyum-senyum menatapnya. Kemudian berkata, “Ngapain, nih?”
__ADS_1
Mengkerut lah kening Beleza mendengarnya, capek-capek ia memberi kode sejak tadi. Ternyata sang suami malah tak paham juga.
“Apa aku bertindak lebih agresif saja? Ah, itu memalukan Eza. Kau harus sabar, nanti ia mengira kau wanita murahan! Tunggu ia memulai lebih dulu.” Beleza berkata pada dirinya sendiri, sementara Zul tampak keheranan menatap Beleza.